Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 52 ( Jangan ada Dusta di antara kita )


__ADS_3

Anya memutuskan untuk turun terlebih dahulu dari lantai atas, dan Anya menyuruh Rahman turun belakangan setelah Anya mengecoh Mawar, karena saat ini Mawar sudah terlihat menunggu Anya dan Rahman dengan duduk di meja makan.


"Mawar, maaf ya aku bangun kesiangan, soalnya tadi malam aku habis telponan sama pacar aku," ujar Anya.


"Tidak apa-apa kok, hanya saja aku sedang bingung, karena saat terbangun, Mas Rahman sudah tidak ada di sampingku lagi."


"Palingan Mas Rahman olahraga lagi, dan mungkin Mas Rahman tidak mau mengganggu kamu yang masih tidur," ujar Anya.


Anya memberikan kode kepada Rahman yang saat ini berada di lantai atas, supaya Rahman segera turun mungpung Mawar sedang lengah.


"Anya kamu kenapa sih dari tadi lihat ke atas terus? memangnya di atas ada apa?" tanya Mawar yang hendak melihat ke atas.


"Tidak ada apa-apa kok, tadi sepertinya aku melihat buaya darat," ujar Anya yang salah bicara.


"Bukannya Buaya hidup di air?"


"Eh bukan buaya darat, tapi kadal buntung."


"Kamu sepertinya kelaparan, makanya kamu bicaranya aneh," ujar Mawar.


Beberapa saat kemudian, Rahman yang berhasil turun, mengganti pakaiannya terlebih dahulu, Rahman juga mencipratkan air pada wajah dan bajunya, supaya terlihat seperti berkeringat.


"Pagi semuanya, maaf ya kalian pasti sudah lama nunggu," ujar Rahman dengan nafas yang ngos-ngosan untuk mendukung aktingnya.


"Mas kemana saja sih? padahal dari tadi Mawar mencari Mas Rahman."


"Kamu lihat sendiri, bajuku berkeringat begini, pastinya aku habis olahraga."


"Aku juga ingin jalan-jalan di Pantai," ujar Mawar.


"Kamu lagi hamil, jadi kamu tidak boleh terlalu cape. Lagian pemandangan Pantai lebih bagus kalau dilihat dari sini," ujar Rahman.


"Tapi Mas_" ucapan Mawar langsung dipotong oleh Rahman.

__ADS_1


"Udah gak usah tapi-tapian, sebaiknya sekarang kita sarapan, Mas sudah lapar banget."


"Lagian kenapa juga Mas lari sampai siang, ini seharusnya bukan sarapan, tapi makan siang."


"Iya iya, aku minta maaf, kapan makannya kalau kamu ngedumel terus," ujar Rahman yang selalu merasa kesal apabila Mawar terus saja berbicara.


......................


Semenjak kedatangan Laras, Mama Lasmi selalu merasa bahagia, bahkan Mama Lasmi yang biasanya tidak suka minum obat, sekarang selalu patuh saat Laras memberinya obat, dan saat ini kondisi kesehatan Mama Lasmi sudah berangsur-angsur pulih.


"Nak, terimakasih banyak ya, Laras suah merawat Mama."


"Ma, sudah kewajiban seorang Anak merawat orangtuanya. Sebaiknya sekarang Mama istirahat supaya kondisi kesehatan Mama semakin membaik."


"Laras janji ya tidak akan meninggalkan Mama lagi."


"Iya Ma, Laras akan selalu menemani Mama."


Laras menemani Mama Lasmi yang saat ini tengah tertidur, sedangkan Abi mengajak main Daffa di Taman.


"Laras, apa bisa kita bicara berdua sebentar?" tanya Papa Dirga.


Laras yang tidak ingin timbul fitnah, karena sebelumnya Papa Dirga pernah memiliki perasaan terhadapnya, menolak permintaan Papa Dirga.


"Maaf Tuan, kalau kita hanya bicara berdua saja, saya tidak bisa, karena saya tidak ingin timbul fitnah, jadi saya akan memanggil Mas Abi supaya mengetahui pembicaraan kita."


"Laras, saya janji tidak akan berbuat jahat sama kamu."


"Saya adalah seorang istri, dan saya harus meminta ijin kepada Suami saya terlebih dahulu apabila akan melakukan sesuatu. Kalau Anda tidak memiliki niat jahat terhadap saya, seharusnya Anda tidak keberatan jika Mas Abi mengetahui pembicaraan kita kan?"


"Baiklah kalau begitu," ujar Papa Dirga yang terpaksa menerima usul Laras, padahal rasa cinta untuk Laras masih ia miliki, sehingga Papa Dirga ingin berbicara berdua saja dengan Laras.


Mama Lasmi yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur, kembali membuka matanya setelah Laras dan Papa Dirga ke luar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Sepertinya Papa mempunyai perasaan lebih kepada Laras, karena aku tau betul tatapan mata Papa terhadap Laras terlihat berbeda. Apalagi sebelumnya aku pernah melihat fhoto Laras di laci meja kerja Papa. Aku tidak boleh membiarkan Papa terus-terusan memiliki perasaan cinta kepada Anak kandungnya sendiri, karena aku yakin jika Laras adalah Anak kandungku. Meski pun aku tidak membesarkan Laras dengan tanganku sendiri, tapi ikatan batin antara Ibu dan Anak sangatlah kuat. Aku harus segera melakukan tes DNA kepada Laras, karena tidak ada cara lain lagi supaya aku bisa membuktikan jika Laras adalah Anak kandungku," gumam Mama Lasmi.


......................


Laras terlebih dahulu memanggil Abi supaya mengetahui pembicaraan Papa Dirga dengannya.


"Yah, ada yang ingin Papa Dirga bicarakan dengan kita," ujar Laras.


"Sebenarnya Papa hanya ingin bicara berdua saja dengan Bunda kan?"


"Yah, Bunda tidak mau Ayah sampai salah paham, makanya Bunda meminta Ayah untuk menemani Bunda."


"Terimakasih banyak ya sayang, Bunda sudah menghargai Ayah sebagai seorang Suami."


"Sudah seharusnya sebagai Suami istri kita saling menghargai, dan jangan sampai ada dusta di antara kita."


"Iya sayang, intinya kita harus saling percaya dan saling jujur," ujar Abi dengan memeluk tubuh Laras, dan Papa Dirga yang melihatnya dari dalam rumah, menahan sesak dalam dadanya.


"Ya sudah sebaiknya sekarang kita masuk," ujar Laras dengan menggandeng Abi masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya Abi menitipkan Daffa kepada Asisten rumah tangga.


Abi dan Laras duduk di kursi sebrang Papa Dirga, kemudian Abi langsung angkat suara.


"Pa, sekarang Abi sudah ada di sini, apa yang ingin Papa katakan kepada Laras? karena sebagai Suami Laras, Abi berhak mengetahuinya."


Papa Dirga beberapa kali mengembuskan napas secara kasar sebelum akhirnya Papa Dirga angkat suara.


"Laras, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena kamu sudah merawat istri saya, tapi masih ada yang mengganjal dalam hati saya tentang siapa kamu sebenarnya," ujar Papa Dirga.


"Anda tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena bagaimanapun juga Mama Lasmi adalah Mama Mertua saya, jadi sudah seharusnya saya merawat beliau seperti orangtua kandung saya sendiri. Maaf Tuan, apa maksud Anda bertanya tentang siapa saya sebenarnya?" tanya Laras.


Laras rasanya masih belum bisa memanggil Papa Dirga dengan sebutan Papa, apalagi sampai saat ini Laras masih bisa melihat tatapan yang berbeda dari Papa Dirga terhadap dirinya. Dan Abi tidak mempermasalahkan tentang panggilan Laras kepada Papa angkatnya tersebut, karena sepenuhnya Abi sangat mempercayai Laras.


"Laras, sebenarnya wajah kamu mirip sekali dengan istri saya saat masih muda dulu, makanya ketika pertama kali saya melihat kamu, saya juga merasa heran."

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang ingin Papa katakan? apa Papa mau bilang kalau Papa jatuh cinta sama istri Abi karena wajah Laras dan Mama mirip?" sindir Abi.


"Kamu betul Abi, tapi sekarang Papa sedang berusaha untuk membuang perasaan cinta yang Papa miliki untuk Laras, karena Papa juga tau kalau semua itu salah. Papa hanya merasa heran kenapa Mama kamu bisa menganggap Laras sebagai Putrinya yang hilang? padahal sudah beberapa kali Papa sengaja membayar orang untuk mengaku-ngaku sebagai Larasati supaya Mama cepat sembuh dari penyakitnya, tapi Mama tidak pernah percaya. Laras, apa kamu benar-benar Kakak kandung Mawar? karena saya lihat wajah kalian tidak mirip sama sekali. Apa mungkin kamu hanyalah Anak angkat?"


__ADS_2