Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 19 ( Pernikahan Abi dan Laras )


__ADS_3

Abi terlihat gugup ketika berhadapan dengan Ustad Mahmud yang saat ini akan menjadi Penghulu sekaligus Wali hakim Laras.


"Bagaimana Nak Abi? apa Nak Abi sudah siap?" tanya Pak Penghulu.


"Insyaallah saya sudah siap," ucap Abi dengan mantap.


Abi menjabat tangan Ustad Mahmud, kemudian Ustad Mahmud memulai acara pernikahan Abi dan Laras.


"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Abi Dirgantara, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Larasati Bin Almarhum Bapak Iwan dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat lima puluh gram dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Larasati Bin Almarhum Bapak Iwan, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Abi dengan lantang.


"Bagaimana para saksi? sah?" tanya Ustad Mahmud.


"Sah, sah, sah," ujar Para saksi.


"Alhamdulillah, sekarang Nak Abi dan Nak Laras sudah Sah menjadi sepasang Suami istri secara Agama. Semoga kalian berdua menjadi keluarga sakinah, mawadah dan warahmah, dan pernikahan kalian selalu diberikan kebahagiaan," ucap Ustad Mahmud yang di Amini oleh semuanya.


Laras mencium punggung tangan Abi yang saat ini telah Sah menjadi Suaminya, kemudian Abi mencium kening Laras dengan hidmat.


Meski pun pernikahan kita hanya sebatas status saja, Aku merasa sangat bahagia Laras, dan aku akan selalu menunggu sampai kamu membuka pintu hatimu untukku, ucap Abi dalam hati.


Setelah Abi memberikan amplop yang berisi uang kepada Ustad Mahmud dan para saksi, Abi pamit kepada semuanya.


"Pak Ustad, semuanya, terimakasih banyak atas bantuannya. Kalau begitu kami pulang dulu," ujar Abi dan Laras kemudian mengucap Salam sebelum pulang.


Abi memutuskan untuk membawa Laras pulang menuju rumah yang berada di dalam lingkungan Pabrik, supaya Abi dan Laras bisa selalu dekat dengan Daffa.


"Mas, kenapa kita ke sini? bukannya ini adalah rumahnya pemilik pabrik?" tanya Laras.


"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini, dan tadi aku sudah meminta ijin kepada Bos pemilik Pabrik untuk ikut tinggal di sini," ujar Abi yang masih belum bisa berkata jujur kepada Laras.

__ADS_1


Maaf Laras, aku masih belum bisa berkata jujur kepadamu tentang identitasku yang sebenarnya. Aku pasti akan jujur setelah kamu menerimaku menjadi Suami kamu seutuhnya, ucap Abi dalam hati.


Sebelumnya Abi mengirim pesan kepada Asisten rumah tangganya supaya memanggil Abi dengan panggilan Mas ketika di depan Laras, karena jika mereka memanggil Abi dengan sebutan Tuan, Laras pasti akan merasa curiga.


Abi dan Laras mengucap Salam saat tiba di depan pintu, dan Bi Surti langsung membuka pintu rumah untuk majikannya.


"Mas Abi, Neng Laras, mulai sekarang kami akan melayani Mas Abi dan Neng Laras. Jadi, kalau ada apa-apa Mas Abi dan Neng Laras jangan sungkan ya kepada Bibi dan Mamang," ujar Bi Surti dan Mang Diman.


Bi Surti dan Mang Diman adalah pasangan Suami istri yang Abi percaya untuk merawat rumahnya. Akan tetapi, sampai saat ini mereka masih belum dikaruniai Anak, padahal usia rumah tangga mereka sudah tiga puluh lima tahun.


"Aduh Den kecil lucu sekali. Sini tak gendong sama si Mbah," ujar Bi Surti.


"Namanya Daffa Bi," ujar Laras.


Bi Surti dan Mang Diman terlihat bahagia dengan kehadiran Daffa.


"Bi, Mang, mulai sekarang bantu kami mengurus Daffa ya kalau kami sedang bekerja," ujar Abi.


"Terimakasih banyak ya Bi, maaf kalau kami sudah merepotkan," ucap Laras.


"Tidak sama sekali Neng, malah kami sangat bahagia karena sekarang tidak akan kesepian lagi. Apalagi kami tidak memiliki Anak," ujar Mang Diman.


"Bibi sama Mamang yang sabar ya, Allah tau yang terbaik untuk Ummat-Nya," ujar Laras.


Daffa saat ini sedang di ajak main oleh Bi Surti dan Mang Diman, dan Abi mengajak Laras ke kamar supaya bisa membereskan pakaiannya.


"Mang, Bi, kami titip Daffa dulu ya sebentar," ujar Abi.


"Iya, Mas Abi tenang saja, pokoknya kami akan menjaga Den Daffa dengan baik," ujar Bi Surti.


Setelah sampai kamar, Laras terkejut karena kamarnya begitu mewah, bahkan memiliki fasilitas yang lengkap.

__ADS_1


Abi mengajak Laras duduk di sofa yang berada di kamar tersebut untuk berbicara.


"Laras, mulai sekarang ini adalah kamar kamu dan Daffa, dan kamar yang sebelah adalah kamarku." ujar Abi.


"Kalau Mas mau, Mas Abi bisa tidur bersama kami," ucap Laras dengan lirih, karena Laras sadar betul jika saat ini Abi adalah Suaminya, meski pun Laras masih belum bisa membuka hatinya untuk Abi.


"Kalau aku tidur sama kamu, aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh kamu, karena bagaimanapun juga aku adalah lelaki normal," bisik Abi pada telinga Laras, sontak saja perkataan Abi membuat pipi Laras bersemu merah.


Abi mengeluarkan dua kotak perhiasan dari dalam tas nya, kemudian memberikannya kepada Laras.


"Laras, ini mas kawin kamu," ucap Abi dengan memberikan kotak perhiasan yang berisi satu set perhiasan emas peninggalan mendiang Ibunya.


"Makasih Mas," ucap Laras dengan lirih.


"Kenapa kamu mengucapkan terimakasih? bukannya Mas kawin itu adalah kewajiban Suami yang harus diberikan kepada Istrinya?" ujar Abi.


"Sejak kapan Mas Abi menyiapkan semua ini?" tanya Laras yang merasa kagum ketika melihat perhiasan yang begitu Indah di dalam kotak beludru yang diberikan oleh Abi.


"Itu adalah salah satu peninggalan mendiang Ibuku, dan aku sengaja selalu membawanya karena aku yakin akan bertemu dengan cinta sejatiku. Laras, apa aku bisa meminta kamu memasangkan cincin pernikahan kita di jari manisku?" tanya Abi dengan membuka kotak beludru satunya lagi yang berisi sepasang cincin pernikahan peninggalan mendiang kedua orangtuanya.


Secara perlahan Laras memasukan cincin tersebut ke dalam jari manis kanan tangan Abi, begitu juga dengan Abi yang memasukan cincin satunya lagi ke dalam jari manis tangan Laras.


"Terimakasih Laras, karena kamu telah bersedia menjadi pendamping hidupku," ucap Abi, kemudian mencium tangan Laras.


"Seharusnya aku yang berterimakasih kepada Mas Abi, karena Mas Abi selalu ada untuk Laras dan Daffa."


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat, dan mulai besok kamu tidak perlu berjualan lagi, karena aku yang akan menanggung biaya hidup kamu dan Daffa."


"Tapi Mas, aku tidak mau menjadi beban hidup kamu," ujar Laras yang merasa tidak enak terhadap Abi.


"Laras, sekarang kamu adalah Istriku, dan kamu sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan Akhiratku. Jadi, sudah menjadi kewajibanku memberikan nafkah untuk kamu. Dan seorang Istri harus mendengar perkataan Suaminya. Kalau begitu aku ke luar dulu ya, kalau ada apa-apa, kamu panggil aku saja," ujar Abi kemudian melangkahkan kaki ke luar dari dalam kamar Laras menuju kamarnya.

__ADS_1


"Mas Abi begitu baik, bahkan dia rela mengorbankan hidupnya untukku dan juga Daffa. Mulai sekarang aku harus berusaha melupakan trauma di masalaluku, dan aku juga harus berusaha membuka hatiku untuknya, karena jika aku tidak melayani lelaki yang sudah menjadi Suamiku sendiri, aku akan sangat berdosa," gumam Laras.


__ADS_2