
Teriakan Mawar sontak menghentikan kegiatan Rahman dan Anya yang saat ini masih memadu kasih di atas ranjang yang sama saat dulu Rahman dan Mawar dipergoki oleh Laras.
"Mas Rahman, Anya, tega sekali kalian berbuat tidak senonoh di kamarku, bahkan di atas ranjang tidur kita Mas," teriak Mawar dengan menangis, karena rasanya Mawar bagai tersambar petir di siang bolong.
Rahman dan Anya terlihat tenang, karena posisi mereka saat ini sudah menikah, bahkan Anya dan Rahman sudah sah menikah secara Agama mau pun Negara.
"Kamu tidak perlu berteriak seperti itu, karena kami sudah menikah, jadi kami tidak sedang melakukan Zina," ujar Rahman yang saat ini masih memeluk tubuh Anya, dan mereka berdua masih sama-sama polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"A_apa? tidak, tidak mungkin kalian berselingkuh di belakangku, padahal aku sangat mencintai kamu Mas, dan kamu Anya, kamu adalah sahabat terbaikku, kenapa kamu tega menusukku dari belakang?"
"Apa aku tidak salah dengar Mawar? aku ini cuma sahabat kamu, bahkan dulu kamu lebih tega kepada Kakak kamu sendiri. Jadi lebih kejam mana antara kamu atau aku?" ujar Anya dengan tersenyum mengejek, dan Mawar yang merasa geram langsung berlari menjambak rambut Anya.
"Dasar perempuan tidak tau malu, berani-beraninya kamu merebut Suamiku," teriak Mawar yang terus menjambak rambut Anya, dan Rahman mencoba membantu Anya dengan mendorong tubuh Mawar hingga terjatuh di atas lantai.
"Cukup Mawar, jangan pernah menyakiti istriku !!" teriak Rahman.
"Aku juga istri kamu Mas," ujar Mawar dengan lirih, bukan hanya fisik nya saja yang saat ini sakit, tapi hatinya sangat sakit bagai tertusuk ribuan duri.
"Tapi kita cuma menikah siri, sedangkan aku dan Anya sudah menikah secara Agama mau pun Negara, jadi sekarang sudah tidak ada yang perlu aku tutupi lagi dari kamu," ujar Rahman dengan mencengkram kuat dagu Mawar.
"Tidak, aku tidak terima dengan semua ini, ini pasti hanya mimpi buruk," teriak Mawar dengan menutup kedua telinganya.
"Kasihan sekali kamu Mawar, hasil merebut akhirnya direbut juga," ejek Anya yang sudah berani dengan terang-terangan memeluk Rahman di depan Mawar.
"Kamu memang perempuan biadab Anya, aku pasti akan membalas semua perbuatan kamu," teriak Mawar yang hendak kembali menyerang Anya, tapi Rahman menghalanginya.
__ADS_1
"Sekarang juga aku jatuhkan talak tiga kepada kamu Mawar, dan sebaiknya kamu pergi dari rumah ini, karena aku sudah memilih Anya untuk menjadi istriku satu-satunya," tegas Rahman.
Mawar yang tidak tau harus pergi kemana memohon kepada Rahman dengan memegangi kaki Rahman.
"Mas, kamu tidak bisa menceraikanku, aku sekarang sedang hamil Anak kamu Mas."
"Maaf Mawar, tapi dari awal, aku tidak yakin kalau yang berada dalam kandungan kamu adalah Anak aku. Jadi, sebaiknya sekarang juga kamu angkat kaki dari rumahku, karena aku dan Anya mau melanjutkan bersenang-senang," ujar Rahman dengan menyeret Mawar untuk ke luar dari rumahnya, kemudian Rahman mengunci pintu rumahnya supaya Mawar tidak bisa masuk lagi.
"Mas, buka pintunya Mas," teriak Mawar dengan menangis dan terus menggedor pintu, tapi Rahman tidak menghiraukan teriakan Mawar dan lebih memilih untuk kembali bersenang-senang dengan Anya.
"Sebaiknya sekarang aku harus pergi ke rumah orangtua Mas Rahman, mereka harus tau kelakuan bejat Anaknya," gumam Mawar dengan bergegas menuju rumah orangtua Rahman.
Mawar kembali menangis ketika melihat orangtua Rahman yang saat ini sedang berada di depan rumah, dan Mawar berniat mengadukan tentang perlakuan Rahman kepada kedua orangtuanya.
"Pak, Bu, tolong Mawar."
"Bu, ternyata selama ini Mas Rahman telah berselingkuh dengan Anya, dan yang lebih parahnya lagi mereka diam-diam sudah menikah di belakang Mawar, bukan hanya secara Agama saja, tapi mereka sudah mendaftarkan pernikahan secara Negara juga," ujar Mawar dengan terus menangis, dan Mawar sangat yakin jika sesama perempuan, Ibu Mertuanya tersebut pasti akan merasa iba terhadap dirinya, namun ternyata dugaan Mawar salah, karena Bu Ida malah terdengar tertawa kencang.
"Ha..ha..ha..Kasihan sekali nasib kamu Mawar, jadi kamu baru tau tentang pernikahan Rahman dan Anya? kamu pikir kami belum tau tentang pernikahan Rahman dan Anya? kami sudah tau sejak dulu, jadi kamu tidak perlu cape-cape menceritakannya," ledek Bu Ida dengan terus tertawa.
Degg
Jantung Mawar rasanya berhenti berdetak, karena ternyata selama ini dirinya sudah dibohongi oleh semua orang.
"Kenapa, kenapa kalian tega sekali melakukan semua itu kepadaku?" teriak Mawar.
__ADS_1
"Heh Mawar, kamu bilang kami tega? kamu coba pikir lagi apa yang dulu sudah kamu lakukan kepada Laras, kamu juga sudah merebut Suaminya, dan membuat Laras pergi dari rumahnya sendiri. Jadi, apa kamu masih belum percaya jika sekarang kamu sudah terkena karma atas perbuatan yang dulu sudah kamu lakukan kepada Laras?"
"Tidak, tidak, tidak mungkin aku terkena karma, aku yakin karma itu tidak ada," teriak Mawar dengan menutup kedua telinganya.
Nisa yang merasa tidur siangnya terganggu oleh teriakan Mawar, akhirnya ke luar menghampiri Mawar, dan langsung menjambak rambut Mawar.
"Heh Mak Lampir, kenapa kamu berisik sekali? aku sedang tidur, bisa tidak kamu berhenti berteriak !!" teriak Nisa.
Pak Syarif yang tidak tega melihat Mawar di aniaya oleh Nisa, mencoba membantu melepaskan tangan Nisa dari kepala Mawar.
"Nisa, kasihan Mawar, lepasin rambutnya Nak," ujar Pak Syarif.
"Nisa bakalan terus narik rambutnya sampai botak kaya upin ipin Pak, pasti Mawar akan terlihat lucu," teriak Nisa dengan tertawa.
"Nisa, tolong lepaskan aku, kenapa semua orang terus menyakiti aku? aku sekarang senasib dengan kamu Nisa, bahkan nasibku lebih parah dari kamu, karena Mas Rahman sudah tega berselingkuh di belakangku, bahkan sampai menikah dengan perempuan lain tanpa sepengetahuanku," ujar Mawar yang terus saja menangis, dan secara perlahan Nisa melepaskan tangannya dari kepala Mawar.
"Kamu yang sabar ya Mawar, aku tau bagaimana rasanya diselingkuhi, makanya aku berniat untuk membu*nuh Herman dan Neneng," ujar Nisa yang terlihat sedih, namun tiba-tiba Nisa kembali tertawa, dan membuat Mawar merasa takut.
"Hore, sekarang aku punya teman yang senasib denganku. Mawar, selamat ya, sekarang kita senasib, sama-sama diselingkuhi oleh Suami kita, dan pasti sebentar lagi kamu juga akan gila seperti aku," ujar Nisa dengan terus tertawa, sampai akhirnya Mawar memilih untuk pergi dari rumah orangtua Rahman, sebelum Nisa kembali menganiayanya.
Mawar berjalan di bawah derasnya air hujan tanpa arah dan tujuan, apalagi saat ini perut Mawar terasa sakit.
"Apa ini adalah hukuman atas semua kejahatanku selama ini? dulu Kak Laras memergoki aku sedang bercumbu dengan Mas Rahman, dan sekarang aku juga memergoki Mas Rahman sedang bercumbu dengan Anya, bahkan nasibku lebih buruk dari Kak Laras."
"Dulu aku memaksa Mas Rahman untuk menceraikan Kak Laras, tapi sekarang Mas Rahman sudah diam-diam menikah dengan Anya di belakangku," gumam Mawar yang terus saja meratapi nasib buruk yang menimpanya, tapi sesaat kemudian Mawar menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kasihan sekali kamu Mawar, akhirnya kamu merasakan karma juga," teriak Mawar dengan tertawa kencang, sampai akhirnya terdengar suara yang membuat Mawar berhenti tertawa.
"Angkat tangan."