
Hari demi hari tubuh Rahman semakin kurus dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat, sehingga Rahman rasanya sudah tidak sanggup lagi menjalani hidupnya, apalagi saat ini Rahman sudah di karantina di dalam sebuah ruang isolasi di Rumah Sakit, karena penyakitnya sudah semakin parah.
Dokter yang merawat Rahman sampai mengenakan pakaian khusus yang tertutup supaya bau busuk pada tubuh Rahman tidak tercium.
"Dok, sebaiknya saya di suntik mati saja supaya saya bisa terbebas dari penyakit ini," ujar Rahman dengan menangis.
Dokter menghela napas panjang, karena bukan kali ini saja Dokter mendengar permintaan Rahman untuk memberikan suntik mati kepadanya.
"Pak, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tapi kematian adalah awal dari kehidupan, karena saat di akhirat nanti, kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita perbuat selama hidup, dan kata-kata itu adalah pesan dari Nyonya Laras yang saat ini sedang menjenguk Bapak bersama keluarganya," ujar Dokter, sehingga membuat Rahman terkejut dan melihat ke arah kaca luar kamar perawatannya.
Rahman menangis ketika melihat Daffa yang saat ini tengah digendong oleh Abi tersenyum dengan melambaikan tangannya kepada Rahman.
"Daffa, maafin Ayah Nak, Ayah bukanlah Ayah yang baik," ucap Rahman dengan menangis dan melambaikan tangannya juga pada Daffa.
Hari ini usia Daffa tepat satu tahun, sehingga Laras dan Abi memutuskan untuk membawa Daffa menjenguk Rahman, meski pun mereka hanya bisa melihat Rahman dari luar kamar perawatannya.
"Hari ini Daffa ulang tahun yang pertama, dan Nyonya Laras mengirimkan kue ulang tahun beserta nasi kuning untuk Anda," ujar Dokter.
"Terimakasih banyak Dok."
"Iya Pak sama-sama. Kalau begitu saya ke luar dulu," ujar Dokter, tapi Rahman menghentikan langkah Dokter.
"Dok, apa bisa saya meminta tolong?" tanya Rahman.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.
"Dok, mungkin ini akan menjadi pesan terakhir saya, dan saya ingin meminta tolong kepada Dokter supaya menyampaikan maaf saya kepada semuanya, apalagi kepada Laras. Sampaikan terimakasih saya juga kepada Laras dan Abi, tolong bilang juga kepada Daffa kalau saya sangat menyayanginya," ujar Rahman dengan memakan kue dan nasi kuning yang dibawakan oleh Laras.
"Baik Pak, saya akan menyampaikan pesan Bapak," ujar Dokter.
Rahman menangis sekaligus tersenyum bahagia, karena Laras dan keluarganya masih berbaik hati kepadanya.
Baru juga Dokter membalikan badannya untuk ke luar dari kamar perawatan Rahman, tiba-tiba piring yang dipegang oleh Rahman terjatuh, karena Rahman telah mengembuskan napas terakhirnya.
Dokter memeriksa kondisi Rahman, kemudian menyuruh Suster untuk mencatat waktu kematian Rahman.
"Sus catat waktu kematian Pasien," ujar Dokter, kemudian melangkahkan kaki menuju ke luar dari kamar perawatan Rahman.
"Dok, apa yang terjadi dengan Rahman?" tanya Abi.
"Pak Rahman telah meninggal dunia," ujar Dokter.
__ADS_1
"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Laras dan Abi secara bersamaan.
Bu Ida, Pak Syarif dan Nisa yang juga baru datang ke Rumah Sakit begitu sedih mendengar kabar meninggalnya Rahman, tapi mereka berusaha untuk ikhlas, karena merasa kasihan terhadap Rahman jika terus hidup digerogoti oleh penyakit.
Dokter menyampaikan pesan terakhir Rahman di depan semuanya, dan semuanya menangis ketika mendengar perkataan Dokter.
Selamat jalan Mas Rahman, Laras sudah ikhlas memaafkan semua kesalahan Mas Rahman. Semoga Mas Rahman tenang di alam sana, ucap Laras dalam hati dengan menitikkan airmata, karena bagaimanapun juga Rahman pernah menjadi orang paling penting yang singgah dalam kehidupannya.
......................
Sejak melahirkan, Mawar menjadi hilang kewarasannya, dan kemana pun Mawar pergi, Mawar selalu membawa boneka yang ia anggap sebagai Anaknya, karena dalam hati kecil Mawar, Mawar memiliki rasa sayang untuk bayinya yang telah meninggal dunia.
Hari ini Mawar akan dimasukan ke dalam Rumah Sakit jiwa, karena psikiater yang merawatnya menyarankan supaya Mawar dimasukan ke Rumah Sakit jiwa saja, karena takut melukai Tahanan yang lain.
Mawar yang sudah sampai Rumah Sakit jiwa begitu terkejut ketika melihat Anya yang juga berada di sana, apalagi melihat Anya yang sedang dalam keadaan hamil.
Anya selalu memukuli perutnya, tapi kandungan Anya sangat kuat, sehingga janin dalam kandungannya tidak mengalami keguguran. Anya juga sudah beberapa kali mencoba menusukkan pisau pada perutnya, tapi Petugas Rumah Sakit Jiwa selalu memergoki perbuatan Anya.
Mawar kembali teringat dengan perbuatan Anya dan Rahman yang telah berselingkuh, sehingga Mawar begitu geram dan langsung menyerang Anya.
"Mawar, kamu Mawar kan?" ujar Anya yang malah tertawa ketika Mawar menjambak rambutnya.
"Dasar Pelakor. Kamu sudah merebut Suamiku, dan kamu juga sudah menyebabkan bayiku meninggal dunia," teriak Mawar dengan terus menyiksa Anya.
Mawar yang melihat pisau buah di dekatnya, tiba-tiba mengambilnya, kemudian menusukkannya tepat pada perut Anya.
"Kamu harus mati Pelakor," teriak Mawar dengan tertawa, kemudian berlari menuju gerbang Rumah Sakit Jiwa yang terbuka.
Petugas Rumah Sakit jiwa mengejar Mawar yang hendak kabur, tapi saat Mawar berlari ke arah jalan raya, ada sebuah truk yang melaju kencang, sehingga menabrak tubuh Mawar.
Brugh
Mawar saat ini tergeletak di tengah jalan dengan berlumuran darah, dan tepat di depan mobil yang Abi dan Laras tumpangi, karena tadinya Laras dan Abi hendak ke Rumah Sakit jiwa untuk menjenguk Anya.
"Yah, bukannya itu Mawar?" ujar Laras yang melihat wajah Mawar.
Laras dan Abi bergegas turun dari mobil, sedangkan pengemudi truk saat ini telah di amankan oleh warga yang berada di tempat kejadian.
"Mawar," ucap Laras dengan menangis.
"Kak Laras, maafin Mawar Kak," ucap Mawar yang saat ini tengah sekarat, kemudian Mawar mengembuskan napas terakhirnya.
__ADS_1
"Mawar, bangun Mawar, Kakak sudah memaafkan kamu De," ujar Laras dengan menangis.
"Innalillahi waina ilaihi raji'un," ucap Abi setelah memeriksa denyut nadi Mawar.
Laras begitu terpukul ketika melihat kematian Mawar di depan mata kepalanya sendiri, dan tiba-tiba Laras merasakan kontraksi pada perutnya.
"Yah, perut Bunda sakit, sepertinya Bunda akan melahirkan," ujar Laras dengan memegangi perutnya.
"Pak, tolong urus jenazah Mawar, nanti saya akan menyuruh Asisten saya untuk datang ke sini," ujar Abi kepada Petugas Rumah Sakit jiwa yang saat ini berada di samping jenazah Mawar, kemudian Abi membantu Laras berjalan menuju mobil.
"Abi kenapa dengan Laras?" tanya Mama Lasmi yang tengah berada di dalam mobil bersama Daffa, karena ketika Mama Lasmi mengetahui Rahman meninggal dunia, beliau menyusul Laras dan Abi ke Rumah Sakit.
"Ma, sepertinya Laras akan melahirkan," ujar Abi, karena mereka baru ingat jika hari ini tepat dengan tanggal taksiran persalinan Laras.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita cari klinik terdekat untuk membantu persalinan Laras, dan kamu jangan panik, Laras dan bayi kalian pasti akan baik-baik saja," ujar Mama Lasmi yang mencoba menenangkan Abi, karena saat ini Abi terlihat mengkhawatirkan keadaan Laras.
Untungnya ada sebuah Klinik Bersalin yang tidak jauh dari Rumah Sakit jiwa, dan mereka bergegas turun dari mobil membawa Laras masuk ke dalam klinik.
Tiba-tiba handphone Mama Lasmi berdering, dan Mama Lasmi menerima telpon dari petugas Rumah Sakit jiwa yang mengabarkan jika Anya telah meninggal dunia karena mengalami pendarahan akibat tusukan pisau yang dilakukan oleh Mawar, dan Nyawa Anya tidak tertolong saat dibawa ke Rumah Sakit.
Semuanya merasa sedih karena pada hari yang sama mendapatkan tiga kabar kematian sekaligus, apalagi ketiga orang yang meninggal dunia tersebut adalah keluarga terdekat, bahkan ketiganya terikat hubungan.
"Nak, hidup dan mati seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Karena setiap kelahiran pasti akan ada kematian. Laras jangan terlalu banyak pikiran ya, sekarang Laras masuk ke dalam ruang bersalin, dan Mama akan selalu mendo'akan kelancaran persalinan Laras," ujar Mama Lasmi dengan memeluk tubuh Laras sebelum masuk ruang bersalin.
Abi saat ini mendampingi Laras di dalam ruang bersalin, dan Abi terus melafalkan do'a supaya persalinan Laras lancar.
"Ayo dorong kuat Bu, sebentar lagi bayi Anda akan lahir," ujar Dokter yang terus memberikan pengarahan kepada Laras.
Beberapa saat kemudian, Laras berhasil melahirkan bayi pertama yang berjenis kelamin laki-laki, dan selang beberapa menit, Laras kembali melahirkan bayi perempuan yang cantik.
"Alhamdulillah Ya Allah, atas rezeki yang begitu besar, yang telah Engkau titipkan kepada kami," ucap Abi dengan melakukan sujud syukur.
Abi mencium kening Laras yang saat ini tengah memberikan Asi pertama kepada kedua bayinya.
"Terimakasih sayang, karena Bunda telah memberikan kebahagiaan dalam kehidupan Ayah. Semoga selamanya kita selalu diberikan kebahagiaan," ucap Abi dengan terus menghujani Laras dengan ciuman.
"Amin Yah, terimakasih juga atas cinta tulus yang telah Ayah berikan kepada kami. Semoga selamanya tidak akan pernah ada kata satu ranjang tiga nyawa dalam pernikahan kita," ucap Laras dengan tersenyum bahagia.
...TAMAT...
*
__ADS_1
*
Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini Teman-teman, maaf jika ceritanya tidak terlalu panjang, soalnya takut pembaca bosen. Sehat & sukses selalu untuk semuanya. Mohon dukungannya juga untuk karya baru Author remahan ini, 🤲🙏