
Saat ini Anya dan Rahman sudah sampai di Hotel yang sebelumnya sudah dibooking oleh Anya, dan Anya sengaja tidak menginap di Hotel yang sudah disiapkan oleh Panitia penyelenggara seminar supaya Anya bisa lebih leluasa menghabiskan waktu bersama Rahman.
"Sayang, kenapa kita tidak menginap di Hotel tempat seminar saja? kan sayang uangnya kalau kita booking Hotel lagi," ujar Rahman.
"Mas, malam ini kan malam spesial untuk kita, jadi aku khusus pesen Hotel untuk pasangan yang ingin berbulan madu. Lagian kalau nginep di Hotel tempat seminar aku takut kita bertemu dengan orang yang kita kenal. Bagaimana kalau nanti ada yang mengatakan kepada Mawar kalau kita tidur satu kamar?"
"Iya juga sih, tapi sayang, sebenarnya Mas tidak enak karena Anya yang sudah membayar semuanya. Sebagai seorang Suami seharusnya Mas yang melakukan semua itu."
"Mas jangan berpikir seperti itu, sekarang apa yang Anya punya adalah milik Mas Rahman juga. Jadi, Mas jangan terlalu banyak pikiran ya, apalagi hari ini adalah hari bahagia untuk kita. Sekarang sebaiknya kita masuk ke kamar pengantin kita," bisik Anya pada telinga Rahman, sehingga membuat Rahman langsung menyunggingkan senyuman.
Setelah sampai di depan pintu kamar hotel, Rahman langsung mengangkat tubuh Anya, dan membawanya untuk masuk ke dalam kamar.
Keduanya terlihat bahagia ketika masuk ke dalam kamar yang sudah dihias dengan begitu Indah seperti kamar pengantin.
"Kamarnya cantik sekali ya Mas," ujar Anya dengan melihat sekeliling.
"Tapi tidak secantik kamu, sayang," ujar Rahman dan Anya tersipu malu mendengar perkataan Rahman.
Rahman membaringkan tubuh Anya di atas ranjang pengantin mereka, dan Rahman begitu terpesona melihat kecantikan wajah Anya, sehingga Rahman mendekatkan wajahnya dengan wajah Anya.
"Mas, Anya takut?" ucap Anya dengan malu-malu.
"Takut apa sayang?"
"Kata orang itu akan terasa sakit jika untuk pertama kalinya."
"Ya sudah, kalau memang Anya belum siap, sebaiknya kita istirahat dulu saja, lagian ini masih sore. Atau Anya mau mandi dulu?"
"Anya mandi dulu aja ya biar lebih segar."
__ADS_1
"Mau dimandiin gak?" goda Rahman.
"Mas tidur aja duluan, Anya masih malu kalau mandi bareng," ujar Anya dengan tersenyum malu, kemudian berlari menuju kamar mandi.
Rahman membaringkan tubuhnya, karena saat ini badannya terasa pegal, tapi tiba-tiba Rahman teringat dengan Mawar.
Kenapa aku teringat terus sama Mawar ya? semoga Mawar baik-baik saja, apalagi dia sedang hamil. Aku tidak boleh merasa cemas seperti ini, bisa-bisa Anya marah kepadaku jika mengetahui aku mengingat Mawar saat malam pertama kami, ucap Rahman dalam hati, sampai akhirnya Rahman yang merasa kecapean pun tertidur.
......................
Mawar yang masih merasa sakit pada perutnya terlihat sangat pucat, sampai akhirnya Mawar memutuskan untuk pergi ke Dokter kandungan terlebih dahulu sebelum pulang.
"Gara-gara gak ada Mas Rahman, aku jadi harus ke Dokter sendirian kan?" gumam Mawar, kemudian menghentikan angkot yang lewat.
Setelah sampai klinik Dokter kandungan, Mawar sampai berpegangan pada tembok karena saat ini tidak ada yang membantunya berjalan.
Ketika Mawar hendak terjatuh, ada tangan seseorang yang menahan tubuh Mawar, juga membantu Mawar untuk berdiri.
"Kak_" perkataan Mawar terhenti ketika mengingat hubungannya dengan Laras yang tidak baik.
"Sebaiknya Kakak bantu kamu berjalan ya," ujar Laras, tapi Mawar langsung menepis tangan Laras.
"Kamu tidak perlu bersikap sok baik terhadapku, kamu sekarang pasti sedang menertawakan aku kan karena pergi ke sini tidak di antar oleh Suami?"
"Apa maksud kamu Mawar? Kakak tulus membantu kamu."
"Aku tidak memiliki Kakak, sebaiknya kamu tidak usah memperdulikan kehidupanku."
Abi yang tidak terima dengan perkataan Mawar, langsung mengajak Laras untuk masuk ke dalam klinik.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya kita tidak perlu memperdulikan manusia tidak tau diri seperti dia, ditolong bukannya bilang terimakasih."
"Tapi Mas_" ucapan Laras terhenti karena Abi kembali angkat suara.
"Sebaiknya kita langsung masuk saja, sekarang pasti sudah giliran Bunda untuk diperiksa, tadi kan Ayah sudah daftar lewat online supaya tidak mengantri lama," ujar Abi yang sudah memutuskan untuk mengganti panggilan kepada Laras dengan Bunda.
"Mawar, kalau begitu kami duluan ya," ujar Laras, tapi Mawar yang memiliki hati jahat semakin membenci Laras yang terlihat bahagia, apalagi Laras memiliki Suami yang begitu perhatian dan sangat menyayanginya.
Ini semua tidak adil, kenapa Laras malah terlihat semakin bahagia setelah berpisah dari Mas Rahman? sedangkan aku, setelah menikah dengan Mas Rahman, aku malah merasa takut kalau ada perempuan lain yang merebutnya. Apalagi sekarang Mas Rahman terlihat dekat dengan Anya, ucap Mawar dalam hati.
Laras dan Abi langsung masuk ke dalam ruang periksa, tapi Laras terus teringat dengan Mawar yang terlihat kesusahan untuk berjalan.
"Sayang, jangan terlalu dipikirkan ya, Bunda sudah berniat untuk membantu Mawar, tapi Mawar sendiri yang tidak mau dibantu oleh kita. Bunda jangan terlalu banyak pikiran, karena Ayah tidak mau kalau Bunda dan bayi kita sampai kenapa-napa," ujar Abi, dan Laras menganggukkan kepalanya serta tersenyum supaya Abi tidak semakin mengkhawatirkan keadaannya.
Dokter melakukan USG tiga dimensi pada Laras, karena Abi ingin melihat jelas calon bayi yang ada dalam perut Laras, Abi juga mengatakan semua keluhan yang saat ini dirasakan oleh istrinya.
"Tuan tidak perlu khawatir, kandungan Nyonya sangat kuat dan sehat, tapi sepertinya istri Anda sedang mengandung bayi kembar, jadi Nyonya mengalami mual dan muntah yang lebih parah," jelas Dokter, dan Abi semakin merasa bahagia ketika mendengar Laras hamil Anak kembar, karena dari dulu Abi selalu memimpikan memiliki bayi kembar.
Setelah selesai diperiksa, Laras dan Abi ke luar dari ruangan Dokter dengan terus mengembangkan senyuman, dan hati Mawar semakin merasa panas, ketika melihat Laras dan Abi yang begitu bahagia.
"Sayang hati-hati ya jalannya, pokoknya mulai sekarang Bunda tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun, Ayah tidak mau kalau Bunda sampai kecapean."
"Iya Ayah, Bunda mengerti, tapi Ayah jangan terlalu khawatir yang berlebihan juga, tadi Ayah dengar sendiri kan perkataan Dokter, kalau kandungan Bunda sehat dan kuat. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mawar yang merasa iri terhadap Laras, langsung saja melontarkan sindiran.
"Kamu tidak perlu bangga memiliki Suami yang perhatian, mungkin sekarang Abi perhatian sama kamu karena kamu sedang hamil Anaknya, tapi setelah bayi kalian lahir, pasti dia akan berpaling kepada perempuan lain seperti dulu yang Mas Rahman lakukan."
"Sebaiknya kamu hati-hati kalau bicara Mawar, jangan samakan aku dengan Suami kamu, karena selamanya hanya Laras yang akan selalu aku cintai."
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti," ujar Mawar dengan tersenyum mengejek.
"Seharusnya yang kamu khawatirkan adalah Suami kamu, karena biasanya hasil merebut pasti akan ada yang merebut juga. Dan aku rasa, kamu hanya iri saja terhadap kami, sehingga rasa iri dan dengki yang kamu rasakan sudah mengotori hati kamu," ujar Abi, kemudian Abi dan Laras meninggalkan Mawar yang terlihat semakin kesal.