Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 20 ( Membuka hati untuk Abi )


__ADS_3

Malam ini Abi tidak dapat memejamkan matanya, karena Abi terus saja teringat dengan kejadian tadi sore yang hampir menimpa Laras.


"Kenapa hatiku tidak tenang seperti ini? Aku terus saja merasa khawatir terhadap Laras. Apa aku lihat saja ke dalam kamarnya, supaya aku merasa lebih tenang?" gumam Abi, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar Laras.


Abi merasa ragu untuk masuk ke kamar Laras, tapi Abi belum merasa tenang apabila belum melihat Laras dan Daffa.


"Kalau aku mengetuk pintu, aku takut Laras dan Daffa sudah tidur, bagaimana kalau sampai mereka berdua terbangun," gumam Abi.


Secara perlahan Abi membuka pintu kamar Laras, dan Abi begitu terkejut ketika melihat Laras yang saat ini sedang menangis dengan menekuk kedua lututnya, sedangkan Daffa sudah terlihat tidur dalam box bayi, karena tadi Abi sempat menyuruh Mang Diman membelinya.


"Laras, kamu kenapa? maaf kalau aku sudah lancang masuk ke dalam kamarmu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," ujar Abi.


"Laras takut Mas, Laras terus saja teringat dengan kejadian tadi sore," ujar Laras yang terlihat ketakutan.


Secara perlahan Abi mendekati Laras, kemudian Abi memeluk tubuh Laras dan mengelus lembut punggungnya.


"Kamu jangan takut lagi ya, aku akan selalu berada di samping kamu," ujar Abi, dan Abi tidak menyangka jika Laras membalas pelukannya.


"Kalau begitu sekarang kita tidur, aku akan menemani kamu sampai kamu tertidur," ujar Abi, kemudian membantu Laras untuk berbaring.


Saat ini Laras masih merasa ketakutan, sehingga enggan melepas pelukannya terhadap Abi, dan akhirnya Abi ikut berbaring di samping Laras.


Laras mencoba memejamkan matanya, tapi Laras tetap tidak bisa tidur juga.


Bagaimanapun juga aku adalah lelaki normal, jika Laras terus memelukku seperti ini, nanti aku bisa khilaf. Apa sekarang Laras sudah tidur ya? sebaiknya aku pindah ke kamar saja daripada nanti aku sampai kebablasan. Aku tidak mau kalau sampai Laras membenciku dan menuduh aku memanfaatkan keadaan, ucap Abi dalam hati.


Secara perlahan Abi bergeser dari tempat tidur Laras, tapi Laras yang belum tertidur kembali membuka matanya saat Abi hendak melepas pelukan Laras.


"Mas Abi mau kemana?" tanya Laras.


"Aku kira kamu sudah tidur, makanya aku mau pindah ke kamarku," ujar Abi.

__ADS_1


"Apa Mas Abi tidak mau menemani Laras tidur di sini?"


"Aku_" ucapan Abi terhenti karena Laras memotongnya.


"Laras tau kalau sebagai lelaki normal, Mas Abi pasti tidak bisa menahannya jika dekat dengan seorang perempuan kan? Mas, Laras sudah memutuskan kalau Laras akan berusaha membuka hati Laras, dan kita akan membuka lembaran baru bersama-sama bukan hanya sekedar status Suami istri saja, karena Laras akan berdosa jika tidak melayani Suami Laras."


"A_apa maksud kamu?" tanya Abi yang terlihat gugup.


"Mulai sekarang, Laras akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Abi."


"Laras, apa kamu sudah yakin dengan keputusan yang kamu buat? kalau kamu masih belum siap, aku akan selalu sabar menunggu kamu sampai kamu bisa menerimaku sebagai Suami kamu. Aku tidak mau kalau kamu berbicara seperti itu karena merasa terpaksa."


"Laras sudah yakin kalau Mas Abi akan menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk Anak-anak kita. Mas Abi adalah lelaki yang baik, jadi tidak akan sulit untuk Laras belajar mencintai Mas Abi," ujar Laras dengan tersenyum.


Abi yang merasa bahagia mendengar perkataan Laras, langsung saja berhambur memeluk tubuh Laras.


"Terimakasih sayang, insyaallah aku akan berusaha menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk Anak-anak kita," ucap Abi kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Laras, sehingga jantung keduanya kini berpacu dengan cepat.


"Laras, apa aku boleh melakukannya?" bisik Abi.


Secara perlahan Abi menempelkan bibirnya pada bibir Laras dan ciuman itu semakin lama semakin dalam, sampai akhirnya Laras dan Abi melewati malam pertama yang indah.


"Terimakasih sayang, karena kamu sudah menerimaku seutuhnya," ucap Abi dengan membawa Laras ke dalam pelukannya, dan akhirnya mereka berdua tidur terlelap.


......................


Keesokan paginya, Laras terbangun ketika mendengar suara Adzan Subuh, dan Laras langsung mengembangkan senyuman ketika melihat Abi yang terus memeluknya dengan erat.


"Mas bangun dulu, kita shalat subuh dulu yuk," bisik Laras.


"Sayang, kamu sudah bangun? baru kali ini aku tidur nyenyak sekali, mungkin karena sekarang aku sudah memiliki selimut hidup," ujar Abi dengan terus memeluk tubuh Laras.

__ADS_1


"Kalau begitu aku ke kamar mandi duluan ya," ujar Laras.


"Kenapa gak bareng aja biar lebih cepat?" ujar Abi, kemudian mengangkat tubuh Laras ke dalam kamar mandi.


Setelah keduanya selesai membersihkan diri, Abi belajar menjadi imam Shalat untuk Laras, dan Laras begitu bahagia, karena ini adalah pertama kalinya Laras shalat berjamaah dengan Suaminya, karena dulu Rahman enggan menjadi imam shalat untuk Laras, bahkan Rahman jarang sekali melaksanakan kewajibannya sebagai ummat muslim.


Setelah selesai Shalat dan berdo'a, Laras mencium punggung tangan Abi, dan Abi mencium kening Laras dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, maaf ya kalau bacaan shalat ku masih belum benar, tapi aku akan terus belajar supaya bisa lebih baik lagi."


"Aku juga masih harus benyak belajar lagi Mas, dan kita akan belajar bersama. Kalau begitu, aku ke dapur dulu ya mau bantu Bi Surti masak. Mas mau minum kopi atau teh?"


"Mas minum kopi susu aja. Gak apa-apa kan gak di antar ke dapur? kasihan Daffa kalau ditinggal sendirian."


"Gak apa-apa Mas, aku juga gak bakalan nyasar," ujar Laras, kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.


"Selamat pagi Bi," ucap Laras saat melihat Bi Surti yang sedang menggoreng pisang dan bakwan.


"Pagi Neng. Neng Laras mau bikin kopi susu ya buat Mas Abi?"


"Iya Bi. Bibi sepertinya sudah tau yang disukai Mas Abi."


"Tentu saja Bibi tau, Bibi dulu adalah Pembantu di rumah mendiang kedua orangtuanya, dan setelah mereka meninggal dunia, Bibi dan Mamang disuruh menjaga rumah ini," ujar Bi Surti yang sudah keceplosan.


"Jadi, maksud Bibi ini rumah milik orangtua Mas Abi?"


"Eh bukan seperti itu Neng. Sebaiknya Neng Laras anterin dulu kopi sama gorengannya mungpung masih hangat," ujar Bi Surti yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Bibi mau masak apa hari ini?"


"Bibi mau masak Ayam kecap kesukaan Mas Abi."

__ADS_1


"Kalau begitu biar Laras saja yang masak buat Suami Laras. Nanti Laras balik ke sini lagi."


Maafin Bibi Neng, Tuan muda menyuruh kami untuk menyembunyikan identitas yang sebenarnya dari semua orang, dan Bibi yakin kalau Tuan muda memiliki alasan kenapa dia melakukan semua itu. Semoga secepatnya Tuan muda bisa jujur sama Neng Laras.


__ADS_2