
Abi terus saja mengembangkan senyuman karena akhirnya bisa menikahi perempuan yang dia cintai.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Laras saat membawa gorengan dan kopi untuk Abi.
"Mas lagi mengingat kejadian tadi malam sama tadi pagi," jawab Abi dengan tersenyum, dan pipi Laras bersemu merah mendengar perkataan Abi.
Abi yang melihat Laras hendak ke luar lagi dari dalam kamarnya langsung saja menarik tubuh Laras hingga terjatuh di atas pangkuannya.
"Mau kemana lagi heum?" tanya Abi dengan memeluk tubuh Laras.
"Laras mau masak dulu Mas," ujar Laras yang terlihat gugup.
"Biar Bi Surti saja yang masak."
"Laras sekarang sudah menjadi istri mas Abi, jadi Laras yang harus melayani Mas Abi."
"Sebagai seorang Suami, aku juga belum memberikan nafkah untuk kamu sayang, kalau begitu kamu pakai ini untuk membeli keperluan kamu dan Daffa," ujar Abi dengan memberikan black card miliknya.
"Tidak perlu Mas, Mas Abi juga pasti mempunyai kebutuhan. Mas Abi bisa memberikan sebagian gaji Mas untuk orangtua angkat Mas."
"Mereka orang kaya, jadi mereka tidak memerlukan uang pemberian dariku, dan sebagai seorang Suami, kewajiban yang paling utama adalah membahagiakan istrinya. Sebaiknya kamu simpan kartunya, dan jangan sungkan-sungkan untuk memakainya, karena uang Suami adalah uang istri juga," ujar Abi dengan mencium pipi Laras.
"Kalau begitu Laras ke dapur dulu ya Mas, gak enak tadi Laras udah bilang sama Bi Surti kalau Laras yang bakalan masak untuk Mas Abi. Oh iya, Daffa masih belum bangun ya? semalam juga dia gak rewel."
"Mungkin Daffa betah tinggal di sini. Kasihan saat tinggal di rumah kontrakan, Daffa pasti kepanasan karena gak ada AC."
"Iya Mas, Alhamdulillah Bos nya Mas Abi baik sekali. Jangan lupa sampaikan terimakasih Laras kepadanya ya," ujar Laras, kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.
"Aku akan segera mengatakan semuanya kepada kamu Laras, karena aku tidak ingin ada kebohongan dalam pernikahan kita," gumam Abi.
......................
Bi Surti merasa senang karena Laras sangat baik, bahkan Laras tidak sungkan-sungkan membantu pekerjaan Bi Surti.
"Neng, udah biar Bibi saja yang mencuci peralatan memasaknya. Sebaiknya Neng sarapan dulu."
__ADS_1
"Tanggung Bi sedikit lagi."
Setelah Laras menyelesaikan pekerjaan di dapur, Laras mengajak Mang Diman dan Bi Surti untuk sarapan bersama.
"Bi, Mang, yuk sarapan bareng."
"Kami nanti saja belakangan Neng," ujar Bi Surti yang merasa tidak enak jika sarapan bersama majikannya.
"Bi, Mang, yuk sarapan bareng, biar nanti Bibi sama Mamang bisa fokus jagain Daffa," ujar Abi yang menghampiri Laras ke dapur dengan menggendong Daffa.
Bi Surti dan Mang Diman tidak mungkin menolak ajakan Abi, dan akhirnya mereka ikut makan bersama Abi dan Laras.
Laras merasa bahagia karena sekarang Laras merasa mempunyai keluarga setelah sekian lama Laras tidak merasakan sebuah kehangatan dari keluarga.
"Bi, maaf ya, Laras tidak sempat mencuci piringnya."
"Tidak apa-apa Neng, Neng Laras berangkat kerja saja. Neng Laras tidak perlu memikirkan Den Daffa dan pekerjaan rumah, Bibi dan Mamang pasti akan menjaga Den Daffa dan mengerjakan semuanya dengan baik."
"Terimakasih ya Bi, kalau begitu Laras berangkat dulu. Daffa sayang jangan rewel ya, nanti saat jam istirahat, Ibu dan Ayah bakalan pulang," ujar Laras dengan mencium pipi Daffa, kemudian Abi memberikan Daffa kepada Bi Surti.
"Ayahnya Daffa gak dicium juga?" bisik Abi, dan Laras hanya tersenyum malu mendengar perkataan Abi.
"Sekarang pekerjaan sampingannya jadi Pembantu ya?" sindir Mawar, tapi Abi dan Laras terlihat enggan membalas sindiran Mawar, dan mereka lebih memilih langsung masuk ke dalam Pabrik.
Mawar merasa geram kepada Laras dan Abi, karena mereka telah mengacuhkannya.
"Mas, kenapa sih kamu diam saja? seharusnya kamu membantu aku untuk membalas perbuatan mereka."
"Mawar, seharusnya Laras yang membalas perbuatan kita karena telah menyakitinya. Jadi, biarkan saja mereka hidup tenang, dan kita tidak perlu mengusik mereka lagi," ujar Rahman, kemudian pergi meninggalkan Mawar yang masih saja menggerutu, karena Rahman merasa sakit hati melihat Laras dengan lelaki lain, apalagi sekarang Laras terlihat bahagia.
Saat masuk ke dalam Pabrik, Laras dan Abi berpapasan dengan Anggi karena Anggi sekarang minta ganti shift. kemudian Anggi melontarkan sindiran kepada Laras dan Abi.
"Pasangan kumpul kebo akhirnya datang juga."
"Jaga mulut kamu Anggi, karena sekarang Laras adalah istriku, dan kemarin aku sudah menikahinya," ujar Abi yang tidak terima dengan perkataan Anggi.
__ADS_1
"Kalian takut digerebek ya makanya langsung menikah, karena kemarin sudah terlanjur kepergok sedang melakukan tindakan tidak senonoh," ujar Anggi dengan tertawa.
Abi hendak angkat suara lagi, tapi Laras melarangnya.
"Sudahlah Mas, suatu saat nanti Anggi pasti akan tau semua kebenarannya, karena sebaik-baiknya orang menyembunyikan bangkai, pasti akan ke cium juga," ujar Laras, kemudian menarik lembut tangan Abi supaya tidak terus berdebat dengan Anggi.
"Sayang, kenapa sih kamu selalu sabar saat menghadapi orang-orang yang menghina kamu?"
"Mas, percuma kita melawan api dengan api juga, karena semuanya pasti tidak akan ada akhirnya. Akan tetapi, jika kita melawan api dengan air, suatu saat nanti api itu pasti akan padam."
"Ternyata istriku yang cantik ini selain cantik, baik, pintar juga ya. Memang benar-benar paket komplit."
"Udah gak usah gombal, sebaiknya sekarang kita mulai kerja, supaya bisa segera memiliki rumah," ujar Laras dengan memulai pekerjaannya, sedangkan Abi terlihat masuk ke dalam ruang Manager, karena saat ini Abi mendapatkan telpon dari Ayah angkatnya.
📞"Abi, kamu kemana saja? kenapa kamu tidak pernah pulang? Mama kamu selalu menanyakan keberadaan kamu Nak," ujar Tuan Dirga.
📞"Abi sekarang tinggal di rumah yang berada di Pabrik Pa, dan Abi juga sudah menikah."
📞"Apa? sejak kapan kamu menikah? kenapa kamu tidak memberitahu kami?"
📞"Abi menikah baru kemarin sore, apalagi pernikahannya dadakan. Abi juga sudah berencana untuk membawa Istri dan juga Anak abi ke rumah, supaya kita bisa mengadakan resepsi."
📞"Bukannya kamu baru menikah kemarin? kenapa kamu sudah punya Anak lagi? memangnya Anak bisa dibuat dalam waktu satu malam?"
📞"Abi menikahi seorang Janda beranak satu Pa. Nanti Abi jelaskan semuanya kalau sudah pulang. Sekarang Abi tutup dulu ya telponnya."
📞"Tunggu sebentar Abi. Saat ini Anya sudah berangkat untuk menemui kamu ke pabrik, mungkin sebentar lagi dia akan sampai."
📞"Apa? kenapa Papa membiarkan Anya datang ke sini?"
📞"Anya terus memaksa kami untuk memberitahukan keberadaan kamu. Jadi, kami terpaksa memberitahukannya daripada Anya ngamuk terus. Lagian kenapa kamu tidak mau menikahi Anya?"
📞"Anya sudah Abi anggap sebagai Adik kandung sendiri, jadi Abi tidak mungkin menikahinya Pa."
📞"Tapi Anya mencintai kamu Abi, dan dia memaksa kami supaya menikahkannya dengan kamu. Kalian juga tidak memiliki hubungan darah. Jadi, kalian bisa menikah."
__ADS_1
📞"Sudahlah Pa, Abi sudah menikahi Laras, jadi sebaiknya kalian berikan pengertian kepada Anya," ujar Abi, kemudian menutup sambungan telponnya.
Kenapa nama Istrinya Abi sama dengan nama perempuan yang aku taksir? tidak mungkin kan kalau Abi dan aku jatuh cinta terhadap perempuan yang sama. Aku harus segera mencari keberadaan Laras, dan aku harus segera mendapatkannya sebelum keduluan oleh orang lain, batin Tuan Dirga.