
Mawar begitu bahagia ketika mendengar perkataan Anya yang akan membayar semua biaya liburannya selama di Bali, karena Mawar belum tau jika dibalik semua itu ada motif terselubung yang sudah Anya rencanakan.
"Mawar, kenapa dari tadi kamu senyum-senyum sendiri? sepertinya kamu sedang bahagia?" tanya Rahman dengan membawakan jus mangga buatannya untuk Mawar, karena nasib Rahman sudah seperti Asisten rumah tangga saja saat berada di rumah.
"Tentu saja aku sangat bahagia, karena impianku untuk liburan ke Bali akan segera terwujud, kita juga bisa sekalian Baby moon sayang," jawab Mawar.
"Memangnya kamu punya uang dari mana buat liburan?" tanya Rahman sambil meminum jus mangga.
"Dari Anya," jawab Mawar, sontak saja Rahman yang merasa terkejut langsung menyemburkan jus yang ia minum.
"Mas kaget kan mendengarnya? aku juga tidak menyangka jika Anya sebaik itu sama kita. Aku beruntung karena memiliki teman sebaik Anya."
"Apa Anya meminta kamu memisahkan Tuan Abi dari istrinya sebagai imbalan?" tanya Rahman yang merasa takut jika Anya masih mencintai Abi.
"Enggak kok, malah Anya membatalkan rencananya untuk memisahkan Kak Abi dengan istrinya, karena Anya bilang dia sudah move on dan memiliki kekasih."
Rahman yang mendengar perkataan Mawar jika Anya sudah move on, langsung mengembangkan senyuman, karena sekarang Rahman yakin jika Anya juga benar-benar mencintainya, dan bukan menjadikan Rahman sebagai pelarian saja.
Ternyata Anya benar-benar mencintaiku, padahal aku pikir dia hanya menjadikan aku sebagai pelarian saja karena merasa patah hati oleh Tuan Abi. Anya, aku merindukanmu sayang, padahal baru satu jam saja kita berpisah, rasanya aku ingin segera besok. Oh iya, aku kan tadi udah janji mau hubungin Anya, sebaiknya aku kirim pesan saja, karena aku tidak mungkin menelpon Anya saat di depan Mawar, ucap Rahman dalam hati, kemudian Rahman mengirim pesan kepada Anya, dan meminta maaf karena masih belum bisa menelponnya.
......................
Malam pun kini telah tiba, seperti biasanya, setelah Mawar tidur, Rahman akan ke luar dari kamar dari dalam kamarnya untuk menelpon Anya.
📞"Sayang, kamu kemana saja?" tanya Anya ketika mengangkat telpon dari Rahman.
📞"Maaf sayang, dari tadi Mawar nyuruh-nyuruh aku terus, jadi aku gak bisa telpon kamu."
📞"Memangnya kamu Pembantu dia apa? kok kamu mau aja sih disuruh-suruh sama Mawar?"
__ADS_1
📞"Habisnya mau gimana lagi, Mawar nanti ngamuk kalau keinginannya tidak dituruti."
📞"Mawar benar-benar keterlaluan, seharusnya seorang Istri yang melayani Suaminya, ini malah kebalik."
📞"Iya sayang, makanya lama-lama aku jadi kesel juga sama dia, padahal aku juga cape pulang kerja, tapi dia seenaknya menyuruh aku mengerjakan pekerjaan rumah."
📞"Yang sabar ya Mas, nanti kalau kita sudah menikah, Anya gak bakalan nyuruh-nyuruh Mas Rahman, dan Anya akan menjadi istri yang baik untuk Mas Rahman."
Rahman begitu terkejut ketika Anya membicarakan tentang pernikahan.
📞"Apa? menikah?" teriak Rahman, kemudian menutup mulutnya karena takut jika Mawar terbangun mendengar suaranya.
📞"Mas kok seperti kaget gitu? memangnya Mas gak mau nikahin Anya? bukannya setiap orang ingin hubungannya berakhir dengan pernikahan?"
📞"Sayang, bukannya Mas tidak mau menikahi Anya, hanya saja saat ini status Mas masih Suami Mawar."
📞"Dulu bukannya saat ketahuan berselingkuh dengan Mawar, Mas sampai menceraikan istri pertama Mas Rahman hanya untuk bisa menikahi Mawar? kenapa sekarang Mas tidak bisa menceraikan Mawar demi Anya?"
📞"Iya Mas. Sebenarnya aku ingin kita liburan berdua saja, tapi ternyata Mawar ingin ke Bali juga."
📞"Nanti aku bakalan atur waktu supaya kita bisa menghabiskan waktu bersama. Sayang, aku sangat merindukanmu, rasanya aku ingin segera besok supaya kita bisa bertemu lagi."
📞"Aku juga kangen banget Mas. Tenyata gak enak kalau harus sembunyi-sembunyi seperti ini."
📞"Yang sabar ya sayang, semoga kita bisa segera menemukan jalan ke luar yang terbaik untuk hubungan kita. Ya sudah kalau begitu sekarang kita tidur saja, siapa tau kita bisa bertemu di alam mimpi. Aku cinta kamu My Lovely," ucap Rahman, kemudian menutup telponnya.
"Malam-malam begini teleponan sama siapa Mas?" tanya Mawar yang tiba-tiba berada di hadapan Rahman, sehingga membuat Rahman merasa terkejut.
"Astagfirullah, Mawar, kamu ngagetin aja. Aku habis telponan dengan Joko, kita membicarakan bisnis tanah yang ada di kampung sebelah, lumayan kan buat nambah-nambah biaya persalinan kamu," ujar Rahman dengan mengelus dadanya karena masih merasa terkejut.
__ADS_1
"Memangnya Mas pikir aku setan? kenapa sih sampai terkejut seperti itu? kayak maling yang kepergok warga saja, atau jangan-jangan Mas menyembunyikan sesuatu dari Mawar?" selidik Mawar dengan memicingkan matanya.
"Mana mungkin seperti itu," ujar Rahman yang terlihat gugup.
Mawar yang tidak percaya terhadap perkataan Rahman, langsung saja mengambil handphone Rahman untuk melihat riwayat panggilan.
Untung saja nomor Anya aku beri nama Joko, jadi Mawar tidak akan curiga dengan perselingkuhan aku dan Anya, ucap Rahman dalam hati.
Setelah Anya melihat riwayat panggilan pada handphone Rahman, Anya memberikan kembali handphone tersebut kepada Rahman.
"Kamu lihat sendiri, namanya Joko kan? mana mungkin aku mengkhianati kamu, dulu saja aku sampai menceraikan Laras demi kamu. Sebaiknya sekarang tidur, besok pagi kita harus kerja," ujar Rahman, kemudian Rahman dan Mawar masuk kembali ke dalam kamar mereka.
......................
Keesokan paginya, Rahman sudah terlihat rapi dan bersiap untuk berangkat kerja.
"Tumben rapi amat Mas? tidak biasanya pake minyak wangi juga," ujar Mawar yang melihat Rahman menyemprotkan minyak wangi pada tubuh dan pakaiannya.
"Siapa tau nanti kalau penampilan serta pekerjaanku bagus, aku bisa naik jabatan. Yuk kita berangkat biar gak keburu macet," ujar Rahman.
Setelah sampai Pabrik, Rahman bergegas menuju ruangannya, karena sebelumnya Anya sudah memberi kabar jika saat ini Anya sudah menunggu Rahman di ruang kerja mereka, karena Anya ingin mengobrol dengan Rahman sebelum rekan kerja yang lainnya datang.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu?" ucap Rahman yang langsung memeluk tubuh Anya.
"Aku juga kangen banget Mas, sampai kapan kita akan menyembunyikan hubungan kita?" rengek Anya dengan bergelayut manja kepada Rahman.
"Kamu sabar dulu ya sayang, saat ini aku tidak mungkin menceraikan Mawar dalam keadaaan hamil."
Anya terlihat berpikir, karena dia ingin memiliki Rahman meski pun harus menjadi istri kedua.
__ADS_1
"Jadikan aku yang kedua Mas," ucap Anya, sontak saja Rahman terkejut dengan keputusan yang Anya ambil.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu sayang?"