Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 30 ( Kekhawatiran Mawar )


__ADS_3

Abi dan Laras saat ini tengah menikmati liburannya dengan bahagia, karena tidak ada sosok Anya yang mengganggu momen kebersamaan mereka.


"Rasanya tenang sekali tidak mendengar suara Anya yang selalu membuat keributan," ujar Abi yang saat ini tengah tiduran di atas paha Laras.


"Semoga saja Anya bisa segera membuka hatinya untuk lelaki lain ya Mas, supaya Anya tidak terus terobsesi untuk mendapatkan Mas Abi."


"Semoga saja sayang, Mas juga berharap seperti itu," ujar Abi yang akhirnya terlelap karena Laras terus memijit kepala Abi dengan lembut.


Lain hal nya dengan Laras dan Abi yang saat ini tengah berbahagia, Mawar justru merasa tidak tenang karena melihat kedekatan Rahman dengan Anya, sehingga Mawar memutuskan untuk menelpon Tuan Dirga untuk mencurahkan isi hatinya.


📞"Sayang, tumben kamu telpon? biasanya kamu telpon kalau ada maunya saja," ucap Tuan Dirga saat mengangkat telpon dari Mawar.


📞"Om, aku lagi galau."


📞"Mawarku yang cantik lagi galau kenapa?"


📞"Aku takut kalau Anya akan merebut Mas Rahman dariku."


Tuan Dirga yang mendengar perkataan Mawar langsung saja tertawa.


📞"Kenapa sih Om malah ketawa?"


📞"Kamu itu lucu sekali Mawar. Kamu tenang saja, selera Anya tidak serendah itu."


📞"Jadi maksud Om, selera Mawar rendah gitu? Mawar nyesel curhat sama Om."


📞"Bukan begitu sayang, hanya saja Rahman tidak sebanding dengan Abi, apalagi Om sangat tau kalau Anya sangat mencintai Abi, jadi tidak mungkin Anya segampang itu jatuh cinta pada Rahman."


📞"Iya juga sih. Makasih banyak ya Om, jangan lupa uang bulanannya," ujar Mawar yang sudah merasa lebih tenang, kemudian Mawar mengakhiri panggilan telponnya, karena takut Rahman memergokinya.


"Ujung-ujungnya tetep duit juga," gumam Tuan Dirga, kemudian Tuan Dirga mentransfer uang sebanyak sepuluh juta rupiah pada rekening Mawar, karena Tuan Durga tidak ingin Mawar membocorkan rahasia perselingkuhan dirinya dan Mawar.


Tuan Dirga kembali teringat dengan Laras, dan nanti setelah kondisi kesehatan istrinya membaik, Tuan Dirga berencana untuk mencari keberadaan Laras lagi.


Aku harus secepatnya mendapatkan Laras sebelum Laras menjadi milik orang lain, ujar Tuan Dirga dengan mengembangkan senyuman.


"Pa, habis telpon siapa? sepertinya Mama lihat Papa bahagia sekali?" tanya Mama Laksmi.

__ADS_1


"Oh, barusan klien Papa telpon. Papa hanya teringat sesuatu saja yang membuat Papa bahagia."


"Pa, Mama ingin bertemu dengan Larasati. Apa Laras masih hidup?" ucap Mama Laksmi dengan kembali menangis, karena setiap teringat dengan Anaknya, kondisi kejiwaan Mama Laksmi pasti akan kembali memburuk.


"Ma, jangan seperti ini terus, Mama masih memiliki Abi dan Anya. Papa juga ingin bertemu dengan Anak kandung kita, tapi mungkin Laras sudah tidak ada lagi di Dunia ini. Jadi, Mama lupakan Laras."


"Tidak Pa, Anak kita pasti belum meninggal, dan Mama yakin, sebentar lagi Mama pasti akan bertemu dengan Laras, karena feeling seorang Ibu selalu benar."


Tuan Dirga akhirnya diam, karena tidak ingin terus berdebat dengan istrinya.


......................


Satu minggu sudah Laras dan Abi menikmati liburannya di Puncak.


Hari ini Abi dan Laras akan kembali ke Bogor, karena Laras tidak ingin terlalu lama mengambil cuti.


"Sayang, sebaiknya kamu berhenti kerja saja ya, biar kita bisa seterusnya tinggal di sini. Mas rasanya males pulang ke Pabrik, apalagi di sana ada Anya."


"Mas, Laras juga sebenarnya ingin fokus untuk merawat Mas Abi dan Daffa, tapi ijinin Laras bekerja sampai Laras menyelesaikan target bulan ini ya, Laras tidak mau lepas begitu saja dari tanggung jawab."


"Ya sudah kalau itu keinginan Laras, tapi janji ya kalau udah selesai target nya langsung berhenti kerja."


"Tentu saja, buat apa Mas masih jadi teknisi kalau mandor cantiknya udah Mas dapetin. Paling Mas hanya sesekali mengecek keuangan pabrik saja, Mas juga harus membantu Papa di Dirgantara grup."


Laras terlihat berpikir ketika Abi mengatakan Dirgantara grup.


Apa mungkin Papa angkat Mas Abi adalah Tuan Dirga? soalnya dulu Tuan Dirga pernah mengatakan jika dia adalah pemilik dari Dirgantara grup. Semoga saja bukan Tuan Dirga selingkuhannya Mawar, karena aku tidak mau sampai memiliki Mertua yang tidak ingat umur seperti Tuan Dirga, ucap Laras dalam hati.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?"


"Laras baik-baik saja Mas, hanya saja Laras sepertinya pernah mendengar seseorang yang mengatakan jika dirinya adalah pemilik Dirgantara grup."


"Siapa orangnya? apa Mas mengenalnya?"


"Namanya Tuan Dirga, dia adalah selingkuhan Mawar, bahkan Tuan Dirga dulu sampai memaksa ingin kenalan dengan Laras, tapi Laras tidak berniat sedikit pun untuk kenalan sama orangtua yang tidak ingat umur dan tukang selingkuh, padahal Mawar lebih pantas menjadi Anaknya."


"Mawar memang sudah keterlaluan, laki-laki selingkuhannya juga sama. Mas yakin kalau itu pasti bukan Papa, karena setahu Mas, Papa sangat mencintai Mama, meski pun sampai saat ini kondisi kejiwaan Mama masih belum sembuh, tapi Papa selalu setia mendampingi Mama."

__ADS_1


"Semoga saja bukan ya Mas, ya sudah kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang saja mungpung masih belum terlalu siang."


"Padahal Mas masih pengen di sini."


"Sabar ya sampai semuanya selesai," ujar Laras dengan mencium pipi Abi, sehingga membuat Abi bersemangat.


Setelah Laras dan Abi berpamitan kepada Penjaga vila, mereka akhirnya pulang menuju Bogor.


"Mas kita beli oleh-oleh dulu ya," ujar Laras saat melihat pedagang oleh-oleh berjajar di sepanjang jalan.


Abi menepikan mobilnya, kemudian turun untuk membeli oleh-oleh.


"Sayang, kamu pengen apa? biar Mas aja yang beliin, kasihan Daffa lagi tidur, jadi Laras diem aja di mobil."


"Laras pengen yang asem-asem Mas, kayaknya enak deh," ujar Laras yang terlihat ngiler saat mengatakannya.


"Ya sudah, kalau begitu Mas beli dulu," ujar Abi, kemudian membeli berbagai asinan, rujak mangga, dan oleh-oleh lainnya.


"Mas, banyak sekali belinya?"


"Mas sengaja beli banyak supaya Laras bisa membaginya dengan teman-teman di Pabrik."


"Mas, Laras pengen rujak mangga. Boleh dimakan sekarang ya."


"Ini masih pagi sayang, nanti kamu sakit perut."


"Dikit aja deh, gak bakalan sakit perut juga, Laras kan udah sarapan."


Abi menyuapi Laras rujak mangga, dan Laras yang tadinya ingin makan sedikit malah tidak bisa berhenti memakannya, sehingga semua rujak mangga nya hampir habis, dan Abi yang melihatnya hanya menelan air ludah.


"Mas Abi gak mau? enak banget lho pedes sama asem."


"Mas gak bisa makan yang asem sama pedes. Sayang, kamu kayak perempuan lagi hamil aja sih pagi-pagi udah makan rujak."


"Pas kita nikah, Laras baru selesai menstruasi, semoga saja kita bisa segera diberikan keturunan."


"Iya Amin. Semoga saja di sini udah ada calon adiknya Daffa. Makanya Laras jangan sampai kecapean kerja, Mas gak mau sampai Laras sakit," ucap Abi dengan mengelus perut Laras.

__ADS_1


"Iya Suamiku sayang, makasih banyak ya atas perhatiannya," ucap Laras dengan tersenyum, dan Abi selalu merasa bahagia ketika melihat senyuman Laras.


Semoga aku selalu membuat kamu tersenyum Laras, dan kita selalu bahagia hingga maut yang memisahkan kita, ucap Abi dalam hati.


__ADS_2