
Setelah satu jam berada di dalam kamar Anya, Rahman berniat untuk menemui Mawar, supaya Mawar tidak merasa curiga.
"Mas mau kemana?" tanya Anya dengan terus memeluk tubuh Rahman, karena rasanya Anya tidak rela jika Rahman menghabiskan waktu dengan Mawar.
"Sayang, Mas harus ke bawah dulu supaya Mawar tidak curiga, karena Mas pergi sudah terlalu lama."
"Tapi nanti malam Mas ke sini lagi ya."
"Iya sayang, nanti Mas pasti pindah ke sini kalau Mawar sudah tidur."
Anya membuka pintu kamarnya, kemudian Anya melihat situasi di sekitar kamarnya. Setelah melihat ke sekeliling, dan tidak melihat keberadaan Mawar, Anya baru memberikan kode kepada Rahman untuk ke luar dari dalam kamarnya.
Rahman menuruni tangga dengan mengendap endap, dan secara perlahan Rahman membuka pintu kamar yang saat ini Mawar tempati.
"Untung saja Mawar sedang tidur," gumam Rahman dengan mengelus dadanya.
Rahman merebahkan tubuhnya yang terasa cape setelah melakukan olahraga dengan Anya, tapi tiba-tiba Mawar terbangun dan langsung menyerang Rahman.
"Mas kemana saja? kenapa tubuh Mas sampai berkeringat begini?" tanya Mawar yang saat ini duduk di atas tubuh Rahman.
"A_aku habis olahraga. Mawar, kamu jangan seperti ini, kasihan bayi kita kalau kamu terlalu banyak bergerak."
"Kenapa sudah hampir Maghrib begini Mas masih melakukan olahraga?"
"Aku melakukannya supaya tubuhku menjadi kuat," ujar Rahman yang terlihat salah tingkah.
"Mas, tujuan kita ke sini kan untuk Babymoon, dan aku ingin kita memulainya sekarang, sudah lama juga kan kita tidak melakukan olahraga di atas kasur," bisik Mawar pada telinga Rahman.
"Tapi aku cape, karena baru selesai olahraga lari di pesisir Pantai," ujar Rahman yang mencoba mencari alasan, karena saat ini Rahman memang benar-benar merasa cape karena baru saja tiba di Bali seteah menempuh perjalanan yang cukup jauh, apalagi Anya langsung mengajaknya untuk olahraga.
"Mas Rahman jahat, padahal sudah lama kita tidak melakukannya, atau jangan-jangan Mas memiliki Wanita idaman lain?" selidik Mawar dengan cemberut.
"Kamu ngomong apa sih sayang? tidak mungkin aku memiliki perempuan lain, karena aku sudah memiliki istri yang cantik. Ya sudah kalau begitu kita mulai sekarang saja, aku tidak mau melihat kamu sedih."
Rahman yang tidak ingin Mawar merasa curiga, akhirnya kembali melakukan olahraga bersama Mawar, sehingga membuat Rahman rasanya ingin pingsan.
Beberapa saat kemudian, Anya mengetuk pintu kamar Mawar, karena penjaga Vila sudah memasak untuk makan malam.
Tok..tok..tok.
Anya terus mengetuk pintu karena Rahman dan Mawar tidak kunjung membukanya.
__ADS_1
Apa jangan-jangan mereka sedang Babymoon? aku tidak rela Mas Rahman melakukannya dengan Mawar, batin Anya.
Setelah Rahman menyelesaikan permainannya, Mawar bergegas membuka pintu, karena Mawar tau kalau itu adalah Anya.
"Maaf ya Anya, kamu pasti lama menunggu," ucap Mawar yang saat ini hanya mengenakan handuk saja, dan Anya menatap tajam Rahman yang masih terbaring lemas di atas kasur.
"Tidak apa-apa Mawar, aku hanya ingin memberitahu kalian kalau makan malam sudah siap."
"Terimakasih banyak ya, kami memang sudah lapar setelah berolahraga. Kalau begitu kami bersih-bersih dulu ya," ujar Mawar dengan tersenyum malu, dan Anya langsung mengepalkan kedua tangannya.
Anya saat ini duduk di meja makan menunggu Rahman dan Mawar.
"Apa mereka belum puas sehingga melanjutkannya di dalam kamar mandi," gumam Anya dengan memukuli meja makan.
"Anya, kamu baik-baik saja kan? maaf ya kami lama," ucap Mawar dengan tersenyum.
Rahman hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, karena saat ini Rahman benar-benar merasa lemas, dan Rahman tau betul kalau Anya marah kepadanya.
Kenapa nasibku menjadi seperti ini? bukannya beruntung memiliki dua istri, tapi malah buntung, batin Rahman.
"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kita makan sekarang mungpung makanannya masih hangat," ujar Anya dengan terus melirik ke arah Rahman.
"Oh iya Anya, kapan pacar kamu akan menyusul ke sini? aku kasihan sama kamu, karena kamu pasti kesepian tidak memiliki teman tidur," ujar Mawar.
"Apa maksud kamu? memangnya siapa yang akan menemani kamu tidur?" tanya Mawar.
"Su_ maksudku bantal sama guling," ujar Anya, dan hampir saja jantung Rahman copot karena sudah takut Anya akan membongkar perselingkuhan mereka.
"Aku kira kamu serius," ujar Mawar dengan terkekeh.
Tentu saja aku serius, karena malam ini Suamimu bakalan menemani aku, dan menghabiskan malam denganku, karena dia juga adalah Suamiku, batin Anya.
Setelah selesai makan malam, Anya, Rahman dan Mawar menonton televisi terlebih dahulu sambil mengobrol, dan saat ini posisi Rahman berada di antara Mawar dan Anya, sehingga Anya terus menggoda Rahman dengan diam-diam menggerayangi tubuh Rahman.
"Mawar, sebaiknya sekarang kita tidur, Ibu hamil tidak baik tidur malam-malam," ujar Rahman yang sudah paham kode dari Anya.
"Anya, kalau begitu kami duluan ya," ujar Mawar dengan menggendeng Rahman untuk masuk ke dalam kamar mereka, dan Anya memutuskan untuk menunggu Rahman di dalam kamarnya.
Satu jam kemudian, Rahman masuk ke dalam kamar Anya, kemudian mengunci pintu kamar Anya.
"Mas, kenapa lama sekali sih? jangan-jangan kamu habis olahraga malam dulu ya sama Mawar?"
__ADS_1
"Kamu jangan cemberut gitu dong sayang, Mas harus menunggu Mawar tidur dulu, supaya Mawar tidak curiga."
"Kalau begitu, besok malam Mas kasih ini saja sama Mawar supaya dia cepat tidur," ujar Anya dengan memberikan botol obat tidur kepada Rahman.
"Ini apa sayang?"
"Itu obat tidur, supaya Mawar tidak mengganggu honeymoon kita."
"Tapi ini aman kan untuk Ibu hamil?"
"Tentu saja aman, Mas tenang saja, aku juga tidak mungkin mencelakai bayi tidak berdosa yang ada dalam kandungan Mawar."
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita tidur," ajak Rahman kepada Anya supaya Anya tidak mengajaknya kembali berolahraga.
"Karena Mas telah melakukan kesalahan, sekarang kita harus olahraga sampai pagi," ujar Anya dengan membuka satu persatu kancing piama Rahman, dan Rahman hanya bisa pasrah saja, karena kalau Rahman sampai menolak keinginan Anya, Anya pasti akan marah.
Rahman rasanya sudah sangat lelah karena Anya tidak ada puasnya.
Apa aku harus mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah? ucap Rahman dalam hati.
"Mas, kok berhenti sih?"
"Sayang, malam ini cukup sampai di sini dulu ya, Mas benar-benar cape, sekarang Mas ngibarin bendera putih saja. Mas akui Anya memang luar biasa," puji Rahman supaya Anya tidak marah.
"Ya sudah, kalau begitu kita tidur sekarang," ujar Anya dengan memeluk tubuh Rahman yang sudah lemas tak berdaya.
......................
Rahman dan Anya ketiduran sampai siang, karena mereka berdua merasa lelah, sampai-sampai mereka tidak mendengar suara ketukan pintu.
Mawar merasa terkejut sekaligus khawatir, karena ketika terbangun dia tidak melihat keberadaan Rahman di sampingnya, sampai akhirnya beberapa kali Mawar mengetuk pintu kamar Anya untuk menanyakan keberadaan Rahman.
Anya secara perlahan membuka matanya, karena cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela kamarnya.
"Ternyata Mas Rahman tidak kembali tidur dengan Mawar," gumam Anya dengan menyunggingkan senyuman, dan Anya merasa bahagia karena Rahman masih berada di dalam kamarnya.
"Sayang, jam berapa sekarang? kenapa cahaya Mataharinya silau sekali?" gumam Rahman.
"Jam sepuluh Mas," jawab Anya, dan Rahman yang terkejut langsung bangun dari tidurnya.
"Bagaimana ini, Mawar pasti mencari aku karena saat dia bangun aku tidak berada di sampingnya," gumam Rahman dengan mondar mandir, dan Anya tertawa melihat Rahman yang saat ini masih belum mengenalan sehelai benang pun.
__ADS_1
"Sayang, sekarang aku sedang ketakutan. Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Rahman yang merasa heran dengan sikap Anya.
"Mas lihat sendiri sekarang keadan tubuh Mas, yang terlihat sangat seksi," jawab Anya, dan Rahman yang menyadari jika saat ini dia tidak mengenakan sehelai benang pun langsung berlari menuju kamar mandi.