Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 53 ( Tanda lahir )


__ADS_3

Laras terlihat bingung ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Papa Dirga, karena selama ini yang Laras ketahui, dia dan Mawar adalah Adik Kakak kandung.


Sebenarnya sebelum kedua orangtua angkat Laras kecelakaan, mereka ingin mengatakan kepada Laras jika Laras hanyalah Anak angkat, karena dulu Laras mereka ambil dari Panti Asuhan supaya mereka bisa segera memiliki keturunan, dan setelah Laras berusia tujuh tahun, mereka akhirnya memiliki Mawar.


Kedua orangtua angkat Laras selalu merasa berat untuk mengatakan tentang identitas Laras yang sebenarnya, tapi pada saat Laras ulang tahun yang ke-17, mereka sudah sepakat untuk berkata jujur. Namun, saat kedua orangtua angkat Laras berada di perjalanan pulang dari membeli kue ulang tahun untuk Laras, mereka mengalami kecelakaan lalu lintas, kemudian meninggal dunia di tempat kejadian, sehingga tidak sempat mengatakan semua kebenaran yang selama ini sudah mereka tutupi.


"Maaf Tuan, tapi kedua orangtua saya tidak pernah mengatakan jika saya adalah Anak angkat. Mungkin hanya kebetulan saja saya dan Mama Lasmi memiliki wajah yang mirip. Bukannya di Dunia ini ada tujuh orang yang memiliki wajah yang mirip?" ujar Laras.


"Mungkin Laras benar jika di Dunia ini ada tujuh orang yang memiliki wajah mirip, tapi firasat seorang Ibu tidak akan pernah bisa dibohongi, karena Ibu memiliki ikatan batin yang kuat dengan Anaknya," ucap Mama Lasmi yang tiba-tiba ke luar dari dalam kamarnya, sontak saja semuanya merasa terkejut karena pembicaraan mereka telah di dengar oleh Mama Lasmi.


"Ma, Papa harap Mama bisa menerima kenyataan ini, jika Laras bukanlah Anak kandung kita."


"Tidak Pa, Mama yakin kalau Laras adalah Anak kandung kita. Papa ingat kalau Larasati memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit di bahunya, sekarang Mama akan membuktikan sendiri jika Laras adalah Larasati," ujar Mama Lasmi, kemudian secara perlahan berjalan mendekati Laras.


"Nak, sekarang Mama ingin melihat bahu Laras, boleh kan?"


Setelah Laras menganggukkan kepalanya, Mama Lasmi secara perlahan menurunkan baju yang Laras pakai, dan beberapa saat kemudian, Mama Lasmi terdengar menangis.


"Abi, kamu lihat sendiri, Laras memiliki tanda lahir bulan sabit di atas bahunya. Mama yakin kalau Laras adalah Anak kandung Mama."


Papa Dirga yang juga melihat tanda lahir Laras, masih tidak percaya jika perempuan yang dia cintai adalah Anak kandungnya sendiri. Begitu juga dengan Laras yang masih belum bisa menerima kenyataan jika dia adalah Anak kandung dari lelaki hidung belang yang sudah dirinya benci.


"Tidak, tidak mungkin Laras adalah Anak kandungku," gumam Papa Dirga dengan menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Ma, mungkin hanya kebetulan saja, Laras tidak mungkin Anak kandung kalian," ujar Laras dengan menangis dalam pelukan Abi.


"Mama tau, kalau semua ini berat untuk Laras dan Papa, karena selama ini Papa sudah jatuh cinta kan kepada Laras? kalau begitu satu-satunya cara supaya semuanya merasa yakin, kita harus melakukan Tes DNA."


......................

__ADS_1


Setiap malam, Rahman selalu memberikan Mawar obat tidur yang diam-diam Rahman campurkan ke dalam minuman Mawar, supaya Rahman dan Anya bisa menghabiskan malam dengan leluasa.


"Mas, malam ini sebaiknya kita ke luar yuk, lama-lama bosan juga di rumah terus," ujar Anya.


"Memangnya Anya mau kemana?"


"Anya dengar tidak jauh dari sini, ada Bar yang bagus. Kita bisa menghabiskan malam di sana. Bagaimana, Mas mau kan?"


"Kemana pun Ratu ku yang cantik ini ingin pergi, aku akan selalu mengantarnya," ujar Rahman dengan mencium tangan Anya.


Rahman dan Anya akhirnya ke luar dari Vila meninggalkan Mawar yang sudah tertidur.


Sebelum berangkat ke Bar, Anya mengajak Rahman menuju pusat perbelanjaan. Setelah Anya puas berbelanja, mereka baru menuju Bar yang saat ini terlihat ramai.


"Malam ini adalah malam terakhir kita berada di Bali, jadi aku ingin menghabiskannya dengan bersenang-senang," teriak Anya saat dirinya dan Rahman berada di lantai dansa.


Gerak gerik Anya dan Rahman sudah menjadi incaran komplotan para penjahat yang juga sedang berada di Bar tersebut.


Rahman dan Anya akhirnya pulang dari Bar pada pukul dua dini hari, dan mereka tidak merasa curiga jika saat ini tengah dibuntuti oleh komplotan penjahat yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.


Ketika mobil yang Rahman dan Anya tumpangi berada di tempat sepi, mobil mereka dihadang oleh mobil jeep hitam yang saat ini menghalangi jalan mereka, sehingga Rahman mengerem mobilnya secara mendadak.


"Siapa sih yang sudah menghalangi jalan kita? padahal aku udah ngantuk banget," ujar Anya.


"Tidak tau sayang, tapi sepertinya mereka punya niat jahat sama kita," ujar Rahman yang sudah terlihat cemas.


"Kita harus bagaimana dong Mas? Anya takut kalau mereka akan merampok kita," rengek Anya ketika melihat empat orang bertubuh besar menghampiri mobil yang ditumpangi Anya dan Rahman.


"Turun kalian, kalau tidak kami akan memecahkan kaca mobil kalian," ancam salah satu perampok.

__ADS_1


Anya dan Rahman terpaksa turun dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


"Sekarang serahkan barang-barang berharga milik kalian," ujar salah satu perampok dengan menodongkan pisau kepada Anya dan Rahman.


Anya memberikan tas yang berisi semua barang-barang berharganya, Anya juga melepaskan semua perhiasan yang dia pakai, begitu juga dengan Rahman yang menyerahkan dompet dan juga jam tangan mahal yang baru saja Anya belikan saat tadi mereka berbelanja.


"Silahkan kalian ambil semua ini, tapi tolong lepaskan kami, biarkan kami pergi dari sini," ujar Rahman dengan memeluk tubuh Anya.


"Bos, perempuan ini cantik juga, lumayan kalau kita pakai untuk menghangatkan malam yang dingin ini," ujar salah satu perampok dengan memegang dagu Anya.


"Lepasin tangan kotor kamu, jangan pernah kamu berani menyentuhku," teriak Anya dengan meludahi perampok yang berusaha menggerayangi tubuhnya, sehingga memancing amarah perampok tersebut.


"Beraninya kamu meludahiku, akan aku buat kamu menyesal seumur hidup kamu," ujar perampok yang Anya ludahi, sehingga langsung merobek baju yang Anya kenakan.


"Jangan sentuh istriku !!" teriak Rahman.


Rahman yang tidak rela jika Anya sampai mereka lecehkan, akhirnya berusaha untuk melawan keempat perampok tersebut, tapi tenaga Rahman tidak sebanding dengan mereka sehingga seluruh tubuh Rahman kini babak belur.


Bos perampok yang sudah tidak tahan melihat tubuh mulus Anya, akhirnya melampiaskan hasratnya kepada Anya di depan Rahman yang sudah terkapar tidak berdaya.


"Mas tolong, Mas tolong," ucap Anya dengan suara lirih ketika dirinya dijadikan pelampiasan hasrat oleh ke empat perampok.


Rahman hanya bisa menangis ketika melihat Anya secara bergantian menjadi korban pe*merkosaan.


"Sekarang kamu sudah tidak bisa sombong lagi kan. Rasakan pembalasanku," ujar perampok yang tadi Anya ludahi dengan terus menghujam tubuh Anya secara kasar, dan Anya yang sudah tidak kuat pun akhirnya pingsan.


Bos perampok menyuruh Anak buahnya untuk segera pergi meninggalkan Anya dan Rahman.


"Sebaiknya sekarang kita pergi dari sini sebelum ada yang mengetahui perbuatan kita, sekalian kita bawa mobil mereka," ujar Bos Perampok.

__ADS_1


Rahman merangkak menghampiri Anya dengan sisa tenaga yang Rahman miliki.


"Anya, bangun sayang," ujar Rahman dengan memeluk tubuh Anya, sampai akhirnya Rahman ikut pingsan juga.


__ADS_2