Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 63 ( Tertabrak mobil )


__ADS_3

Rahman terus saja melamun memikirkan semua kesalahan yang sudah dirinya lakukan selama ini, sampai akhirnya Rahman tertabrak mobil saat menyebrangi jalan.


Brugh


Rahman terpental jauh, dan saat ini Rahman tergeletak di tengah jalan dengan berlumuran darah.


Warga sekitar yang berada di tempat kejadian, langsung membawa Rahman menuju Rumah Sakit, dan mereka menghubungi nomor Bu Ida yang ditemukan di handphone Rahman.


"Pak, Rahman kecelakaan, kita harus bagaimana?" ujar Bu Ida dengan mondar mandir karena saat ini Bu Ida sedang tidak memegang uang lebih.


"Bu, sebaiknya sekarang Ibu berangkat ke Rumah Sakit menggunakan uang yang Ibu punya untuk kebutuhan sehari-hari kita, dan nanti untuk biaya pengobatan Rahman, Ibu jual saja semua perhiasan yang Ibu miliki," ujar Pak Syarif.


"Pak, hidup kita sudah susah, Bapak dan Nisa juga setiap bulan harus berobat jalan, tapi Ibu tidak rela kalau harus menjual semua perhiasan yang Ibu miliki, Ibu malu Pak, apa kata teman-teman arisan Ibu kalau Ibu tidak memakai perhiasan."


"Astagfirullah Bu, kapan Ibu akan sadar? yang Ibu pikirkan hanya pandangan oranglain. Apa Ibu tidak memikirkan kesembuhan Rahman? bagaimana kalau Rahman sampai kenapa-napa? lagian perhiasan Ibu juga dikasih sama Istrinya Rahman."


Bu Ida nampak berpikir, karena bagaimanapun juga Bu Ida sangat menyayangi Rahman, apalagi setiap bulan Rahman selalu memberikan sebagian gaji nya kepada Bu Ida.


"Ya sudah kalau begitu Ibu ke toko perhiasan dulu sebelum ke Rumah Sakit, Bapak di rumah saja tungguin si Nisa biar gak kabur terus," ujar Bu Ida kemudian melangkahkan kaki menuju toko perhiasan yang ada di Pasar.


Setelah selesai menjual Semua perhiasan yang dimilikinya, Bu Ida berjalan kaki untuk mencegat angkot, tapi Bu Ida tidak menyadari kalau dari tadi Bu Ida sudah menjadi incaran para perampok.


Saat Bu Ida berada di pinggir jalan, dua orang perampok dengan mengendarai sepeda motor, tiba-tiba menjambret tas milik Bu Ida sehingga Bu Ida terjatuh di atas aspal.


"Tolong, tolong, saya di jambret," teriak Bu Ida, tapi sayangnya orang-orang yang berada di tempat kejadian tidak dapat mengejar jambret yang telah melarikan diri dengan mengendarai motor.


Bu Ida saat ini menangis karena semua uang hasil menjual perhiasan serta uang untuk biaya makan sehari-hari telah raib di ambil oleh perampok.


"Bagaimana ini, sekarang aku sudah tidak punya uang untuk pengobatan Rahman, jangankan untuk berobat Rahman, untuk makan sehari-hari saja aku tidak punya," ujar Bu Ida dengan menangis.


Bu Ida tidak tau harus berbuat apa, sampai akhirnya ada tukang ojek yang berbaik hati mengantar Bu Ida pulang ke rumahnya.


"Bu, kenapa Ibu sudah pulang lagi? baju Ibu juga terlihat berantakan?" tanya Pak Syarif.


"Ibu dijambret Pak, uang hasil menjual perhiasan dan untuk biaya makan kita sehari-hari juga raib dirampok," jawab Bu Ida dengan menangis.


Pak Syarif menghela nafas panjang, dan Pak Syarif menitikkan airmata ketika mengingat semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Anak dan istrinya.

__ADS_1


"Mungkin ini hukuman karena kita sudah melakukan banyak kejahatan terhadap oranglain Bu, apalagi kepada Laras, Ibu juga dulu tidak benar-benar tulus meminta maaf kepada Laras, bahkan saat Tuan Dirga meninggal dunia, Ibu juga melayat mendiang Papanya Laras karena ingin dikasih uang kan sama Laras? dan akhirnya sekarang kita kembali diberi teguran oleh Tuhan Bu."


Bu Ida terlihat berpikir dan mencerna perkataan Pak Syarif yang ada benarnya juga.


"Sekarang sudah waktunya Ibu harus sadar kalau harta yang kita miliki hanyalah titipan, dan kita harus bersyukur dengan semua rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT sebesar apa pun itu."


Beberapa saat kemudian handphone yang berada di dalam saku celana Bu Ida terdengar berbunyi, dan itu adalah telpon dari Rumah Sakit yang mengatakan jika Rahman harus segera di operasi karena kedua kakinya patah sehingga kaki Rahman harus di amputasi.


"Tidak, tidak mungkin Rahman cacat, Ibu tidak rela Pak," teriak Bu Ida.


"Bu, sekarang kita harus ikhlas menerima kenyataan pahit yang menimpa Rahman, dan mungkin itu adalah hukuman karena Rahman sudah menyakiti Laras dan Mawar, bahkan Rahman sudah menelantarkan Daffa Anak kandungnya sendiri."


"Sekarang kita harus bagaimana Pak? kita sudah tidak punya uang, padahal biaya operasi Rahman pasti sangat mahal," ujar Bu Ida.


Pak Syarif terlihat berpikir, sampai akhirnya Pak Syarif memiliki usul untuk menjual rumah Rahman.


"Bu, sebaiknya kita jual saja rumah Rahman, semoga cukup untuk biaya pengobatannya."


"Tapi Pak, jual rumah itu membutuhkan waktu yang lama, sedangkan Rahman harus segera di operasi."


"Kalau begitu kita gadaikan saja dulu sertifikat rumahnya sambil menunggu rumah Rahman laku."


Sertifikat rumah Rahman hanya dihargai tiga puluh juta rupiah oleh pihak pegadaian, dan Bu Ida bergegas menuju Rumah Sakit untuk membayar biaya operasi Rahman.


"Bu, berapa biaya operasi Anak saya?" tanya Bu Ida kepada bagian Administrasi Rumah Sakit.


"Semuanya lima puluh juta Bu, tapi itu hanya untuk biaya operasi dan biaya pengobatan penyakit lain pada tubuh Pak Rahman, kalau untuk pengobatan lanjutan, Dokter masih belum menentukan biayanya."


"Memangnya apa penyakit lain yang diderita oleh Anak saya?"


"Setelah dilakukan pengecekan lab pada tubuh Pak Rahman, Dokter menemukan jika Pak Rahman terkena penyakit HIV aids, jadi Pak Rahman harus mendapatkan pengobatan secara rutin, karena penyakit tersebut sangat berbahaya.


Degg


Jantung Bu Ida rasanya berhenti berdetak mendengar perkataan petugas Rumah Sakit, Bu Ida menutup mulutnya karena begitu syok mendengar berita yang disampaikan kepadanya tentang penyakit yang Rahman derita saat ini.


"Bu, saya hanya punya uang tiga puluh juta, tolong segera lakukan operasi pada Anak saya. Saya akan mencari sisanya," ujar Bu Ida dengan menangis.

__ADS_1


"Tapi kami hanya bisa memberikan waktu selama satu hari Bu."


"Sekarang juga saya akan pergi mencari sisanya, tapi tolong selamatkan nyawa Anak saya."


"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Pak Rahman," ujar petugas Rumah Sakit, dan Bu Ida memutuskan untuk mencari Anya ke kediaman Dirgantara.


"Aku harus menemui Anya untuk meminta uang, Anya pasti akan membayar semua pengobatan Suaminya," gumam Bu Ida dengan bergegas menuju kediaman Dirgantara.


Ketika Bu Ida tiba di depan rumah Laras, Mama Lasmi hendak mengusir Bu Ida.


"Mau apa lagi Anda ke sini? apa belum cukup Anda menyakiti Anak saya?" sindir Mama Lasmi.


"Maaf Nyonya, saya ke sini untuk menemui Anya menantu saya," ujar Bu Ida dengan tertunduk malu, karena kalau tidak terpaksa untuk mencari uang berobat Rahman, Bu Ida juga tidak ingin pergi ke kediaman Dirgantara.


"Anya tidak ada di sini, karena sekarang dia berada di Rumah Sakit jiwa, jadi Anda tidak bisa menemuinya," ujar Mama Lasmi.


"A_apa? kenapa dengan Anya?"


"Kalau masuk Rumah Sakit Jiwa berarti dia terkena gangguan jiwa," ujar Mama Lasmi dengan ketus.


Beberapa saat kemudian Laras dan Abi yang mendengar keributan menghampiri Mama Lasmi dan Bu Ida.


"Ada apa Ma? kenapa Mama sampai marah-marah seperti ini?" tanya Laras.


"Sayang, Ibunya Rahman datang ke sini mencari Anya, mungkin dia mau minta uang," sindir Mama Lasmi.


Tiba-tiba Bu Ida bersimpuh di bawah Kaki Laras dengan menangis.


"Bu, bangun, jangan seperti ini. Apa yang telah terjadi?" tanya Laras.


"Nak, tolong Rahman, Rahman mengalami kecelakaan, dan kakinya harus di amputasi. Ibu sudah menggadaikan rumahnya, tapi uangnya masih belum cukup karena ternyata Rahman juga terkena penyakit HIV aids, jadi Rahman harus mendapatkan pengobatan secara rutin," ujar Bu Ida.


"Innalillahi..Ibu yang sabar ya," ucap Laras dengan membantu Bu Ida berdiri, tapi Mama Lasmi kembali melontarkan sindiran.


"Syukurlah kalau Rahman sudah mendapatkan karma, itu balasannya untuk orang yang sudah berbuat dzolim terhadap orang lain," ujar Mama Lasmi.


"Ma, Mama tidak boleh berbicara seperti itu, sebagai sesama manusia, kita harus saling membantu."

__ADS_1


"Tapi Nak, mereka sudah berbuat jahat kepada Laras."


"Ma, kalau kita membalas kejahatan dengan kejahatan juga, apa bedanya kita dengan mereka?"


__ADS_2