Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 34 ( Laras Hamil )


__ADS_3

Anya tidak perlu berpikir lama untuk menjawab pertanyaan dari Rahman, karena Anya sudah benar-benar yakin dengan keputusannya untuk menikah dengan Rahman, meski pun harus menjadi istri kedua.


"Aku yakin Mas, aku rela menjadi yang kedua, yang penting aku bisa nikah sama kamu. Aku tidak ingin jauh-jauh sama kamu Mas, dan aku ingin memiliki kamu seutuhnya," ucap Anya dengan mengeratkan pelukannya.


"Tapi sayang, Mas yakin kalau Mawar tidak akan mau dimadu."


"Kalau begitu kita nikah siri saja dulu, Anya gak apa-apa jika harus merahasiakan pernikahan kita dari semua orang. Yang penting kita bisa saling memiliki."


Rahman terlihat berpikir, karena Rahman juga ingin memiliki Anya.


"Sayang, Mas juga ingin memiliki Anya, tapi Mas takut_"


Ucapan Rahman terhenti karena Anya membungkamnya dengan ciuman, sehingga membuat Rahman merasa terkejut dengan yang dilakukan oleh Anya terhadapnya.


"Bukannya Mas sendiri yang bilang, apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama? dan Anya ingin kita segera menikah, kalau perlu hari ini juga kita menikah, supaya minggu depan saat ke Bali, itu akan menjadi momen bulan madu kita," ujar Anya dengan bergelayut manja pada tubuh Rahman.


"Sekarang Anya sudah mulai nakal ya pake nyuri ciuman segala? hari ini ya? tentu saja Mas mau, tapi bagaimana caranya kita bisa menikah tanpa ketahuan oleh siapa pun? apalagi sama Mawar?"


"Kak Abi kebetulan mendapatkan undangan seminar bisnis di Puncak selama tiga hari, tapi Kak Abi tidak bisa berangkat karena istrinya sedang sakit. Jadi, tadi pagi Anya meminta Kak Abi supaya Anya dan Mas Rahman saja yang menggantikannya."


"Sepertinya itu ide yang bagus, karena Mas tidak perlu mencari alasan untuk meminta ijin kepada Mawar. Calon istri Mas memang pintar sekali," ujar Rahman yang rasanya tidak ingin melepas pelukannya terhadap Anya.


"Oh iya sayang, tapi Mas belum mempersiapkan pakaian untuk kita berangkat ke Puncak?"


"Mas tenang saja, Anya sudah mempersiapkan semuanya."


"Makasih ya sayang, kamu baik banget sih."


"Harus dong, karena Anya ingin menjadi istri yang baik untuk Mas. Yuk kerja dulu sebelum berangkat, sebentar lagi pasti akan ada yang masuk ke ruangan ini," ujar Anya, kemudian Anya dan Rahman bergegas membuat laporan harian sebelum mereka berangkat ke Puncak.


......................


Saat bangun tidur, Laras merasakan gejolak hebat pada perutnya, sehingga Laras berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


Abi yang mendengar Laras muntah, langsung saja menyusul Laras.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya kita harus ke Dokter deh, Mas tidak mau kalau Laras sampai kenapa-napa," ujar Abi dengan memijit tengkuk leher Laras.


"Terus bagaimana dengan kerjaan Laras? hari ini kan Laras harus masuk kerja Mas."


"Sayang, kenapa sih Laras masih saja mikirin kerjaan? nanti Mas bisa menelpon Manager supaya memperpanjang cuti kita."


"Tapi nanti gimana kalau_"


Ucapan Laras terhenti karena Abi menempelkan telunjuknya pada bibir Laras.


"Abimana Grup adalah milik Laras juga, tapi kalau Laras masih bersikeras tidak ingin bolos, nanti kita bisa meminta surat keterangan sakit dari Dokter. Sekarang juga kita periksa kondisi Laras ke klinik ya," ujar Abi, kemudian menggendong Laras.


"Mas, gak usah digendong."


"Udah diem gak usah protes," ujar Abi dengan menggendong Laras ke luar dari dalam kamarnya.


"Mas, Neng Laras kenapa?" tanya Bi Surti ketika melihat Abi menggendong Laras.


"Laras barusan mual muntah Bi, sekarang kami mau ke Dokter dulu, kami titip Daffa ya," ujar Abi dengan melangkahkan kaki menuju mobil.


"Sepertinya Den kecil bakalan segera punya Adik," ujar Bi Surti kepada Daffa.


......................


"Sayang, Mas gendong lagi ya," ujar Abi ketika membuka pintu mobil untuk Laras.


"Tidak perlu Mas, Laras malu nanti kalau dilihatin sama orang lain. Mas bantu pegangin tangan Laras aja ya, soalnya kepala Laras pusing banget."


Abi terus menggandeng Laras, dan Abi begitu khawatir melihat wajah Laras yang terlihat pucat.


Untungnya saat ini klinik masih sepi, jadi Abi dan Laras langsung dipersilahkan masuk menuju ruang periksa.


"Silahkan berbaring Nyonya," ujar Perawat dengan membantu Laras untuk berbaring.


Dokter menanyakan keluhan Laras, dan setelah Abi menjelaskan keluhan istrinya, Dokter langsung mengambil alat USG.

__ADS_1


Dokter tersenyum ketika menggerakkan alat USG pada perut Laras.


"Ternyata benar dugaan saya, kalau saat ini istri Anda positif hamil. Selamat ya Tuan, Nyonya, sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua," ucap Dokter.


Laras dan Abi yang mendengar perkataan Dokter langsung mengucap hamdalah, dan mereka begitu bersyukur karena telah diberikan rezeki yang begitu besar.


"Dok, apa istri saya tidak perlu dirawat? karena saya sangat khawatir dengan kondisi kesehatannya," tanya Abi.


"Mual muntah pada usia kehamilan trimester pertama itu wajar Tuan, tapi kalau Nyonya mengalami keluhan yang berlebihan, Nyonya baru harus mengalami perawatan. Yang penting untuk saat ini Nyonya tidak boleh cape dan jangan sampai stres."


"Apa ada lagi pantangan lainnya Dok?" tanya Abi yang sebenarnya ingin bertanya tentang boleh tidaknya melakukan olahraga malam, tapi Abi merasa malu jika menanyakannya.


Dokter tersenyum karena sudah tau maksud Abi.


"Pada Trimester pertama kehamilan, kandungan masih lemah, jadi jangan terlalu sering olahraga malam, kalau bisa olahraga malamnya libur dulu sampai nanti kehamilan memasuki trimester kedua," jelas Dokter, dan Abi tersenyum malu mendengar perkataan Dokter.


"Saya sudah meresepkan vitamin, penambah darah, obat mual muntah dan juga pusing. Nyonya juga bisa meminum susu Ibu hamil juga untuk mengurangi mual muntahnya," ujar Dokter.


"Terimakasih banyak Dok, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Abi dengan menggandeng Laras ke luar dari ruang praktek Dokter.


Setelah Abi selesai mengambil obat dan membayar Administrasi, Abi kembali menggandeng Laras menuju mobil, dan Abi terlihat sangat hati-hati, sehingga mengajak Laras berjalan secara perlahan.


"Mas, kapan sampainya kalau jalannya lebih lambat dari siput?"


"Sayang, Mas tidak mau kalau Laras dan bayi kita sampai kenapa-napa."


"Mas, Laras akan berusaha untuk menjaga bayi kita dengan baik, Mas tidak perlu khawatir ya," ujar laras dengan memeluk Abi, karena Laras melihat jika Abi sangat mengkhawatirkannya.


"Sayang, mulai sekarang Laras berhenti bekerja ya, Mas tidak mau kalau Laras sampai kecapean."


Laras sampai menitikkan airmata karena Abi begitu perhatian terhadapnya.


"Sayang kenapa Laras menangis? Laras marah ya sama Mas karena Mas sudah menyuruh Laras untuk berhenti bekerja?"


"Tidak Mas, ini adalah airmata bahagia, karena Laras beruntung memiliki Suami sempurna seperti Mas Abi, dan Laras akan mengikuti semua keinginan Mas Abi. Terimakasih ya Mas, karena Mas sudah menjadi Suami dan Ayah yang baik," ucap Laras dengan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Sayang, Laras tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena sudah seharusnya Mas melakukan semua itu. Mas justru yang harus berterimakasih kepada Laras, karena Laras telah memberikan kebahagiaan dalam hidup Mas."


Mas Abi tidak tau perjuanganku saat hamil Daffa dulu, karena aku masih harus membanting tulang mencari nafkah untuk keluargaku, bahkan aku tidak memiliki waktu untuk sekedar mengeluh dengan kehamilanku saat itu. Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Malaikat tak bersayap ke dalam kehidupanku dan Daffa, ucap Laras dalam hati yang tiada hentinya mengucap syukur karena sekarang dia memiliki Suami yang begitu menyayanginya.


__ADS_2