Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 36 ( Pernikahan Rahman dan Anya )


__ADS_3

Rahman dan Anya saat ini telah sampai di rumah teman Anya yang berada di Puncak.


"Akhirnya sampai juga. Yuk turun Mas, itu teman aku udah nungguin kita," ujar Anya.


"Tunggu sebentar sayang, biar Mas turun duluan supaya bisa membukakan pintu untuk Ratu Anya yang paling cantik," ujar Rahman, kemudian turun dari mobil, dan membukakan pintu mobil untuk Anya.


"Silahkan turun yang mulia Ratu," ucap Rahman dengan tersenyum.


"Terimakasih yang mulia Raja," ucap Anya, kemudian menggandeng Rahman menghampiri temannya yang bernama Mira.


"Anya, selamat datang di Puncak ya. Kamu semakin cantik saja," ujar Mira dengan memeluk tubuh Anya.


"Kamu bisa aja. Mir, kenalin ini calon Suami aku, namanya Mas Rahman. Mas Rahman, kenalin, ini Mira teman aku saat kuliah dulu."


"Mira," ucap Mira dengan menjabat tangan Rahman.


"Rahman," balas Rahman, dan beberapa saat kemudian Anya langsung melepas jabatan tangan Mira dan Rahman.


"Jangan lama-lama ya jabat tangannya, aku gak suka Calon Suamiku bersentuhan dengan perempuan lain," ujar Anya dengan memeluk tubuh Rahman.


"Iya, iya, kamu bucin banget sih sama Mas Rahman, bukannya dulu kamu ngejar-ngejar Kakak angkat kamu?"


"Itu kan masalalu, karena sekarang hanya ada mas Rahman seorang di hati Anya," ujar Anya yang mulai bersikap posesif kepada Rahman, sehingga membuat Rahman takut jika sampai Mawar dan Anya bertengkar ketika mereka bertiga liburan ke Bali.


Mira mengajak masuk Anya dan Rahman ke dalam rumahnya, kemudian Mira menyuruh asisten rumah tangganya membuatkan minum untuk Anya dan Rahman.


"Mir, dimana sih rumah Penghulunya? mending kita langsung ke sana saja," ujar Anya.


"Sepertinya kamu udah gak sabar banget ya pengen cepat-cepat sah?" goda Mira.

__ADS_1


"Tentu saja, aku tidak mau kalau sampai ada yang merebut Mas Rahman," meski pun pada kenyataannya aku yang sudah merebut Mas Rahman dari Mawar, lanjut Anya dalam hati.


"Kamu tenang saja, Penghulunya sudah aku panggil ke sini kok, sebentar lagi juga pasti datang. Oh iya, aku jadi inget Mawar teman kita dulu, apa kamu pernah bertemu Mawar setelah lulus kuliah? hubungan persahabatan kalian kan sangat dekat?" tanya Mira, dan Rahman yang mendengar Mira menyebut nama Mawar langsung tersedak minuman.


"Sayang, pelan-pelan dong minumnya," ujar Anya dengan menepuk pelan tengkuk leher Rahman.


Kenapa sih Mira pake nanyain si Mawar segala? Mas Rahman pasti terkejut kan, makanya Mas Rahman sampai tersedak minuman, batin Anya.


"Aku udah lama gak ketemu sama Mawar. Jadi, aku tidak tau kabar dia," ujar Anya supaya Mira tidak membahas Mawar lagi, apalagi di depan Rahman.


Beberapa saat kemudian, terdengar ucapan salam dari luar pintu rumah Mira, dan ternyata yang datang adalah Pak Penghulu dan juga para saksi yang akan menikahkan Anya dan Rahman.


"Silahkan masuk Bapak-bapak, kebetulan kedua mempelai sudah ada di dalam," ujar Mira yang mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Rahman dan Anya menyalami Penghulu dan Para Saksi, kemudian mereka berbincang sebelum melakukan akad pernikahan.


"Bagaimana Nak Rahman, apa Anda sudah siap untuk mengucap ijab kabul?" tanya Pak Penghulu.


Rahman dan Anya saat ini sudah duduk berdampingan di depan Penghulu, kemudian Penghulu memulai acara dengan mengucap Basmalah.


"Bismillahirrahmanirrahim, Rahman Nur Wahid, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Anya Putri Dirgantara Bin Almarhum Bapak Hadi, dengan mas kawin cincin seberat lima gram dibayar Tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Anya Bin Almarhum Bapak Hadi, dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai," ucap Rahman dengan lantang.


"Bagaimana para Saksi Sah?" tanya Pak penghulu.


"Sah, sah," jawab para Saksi, kemudian semuanya mengucap Hamdalah.


Di tempat lain tiba-tiba perasaan Mawar menjadi tidak enak, kemudian perutnya terasa keram, sampai-sampai Mawar dibawa menuju klinik yang berada di Pabrik.

__ADS_1


"Sepertinya Mbak Mawar akhir-akhir ini terlalu stres, makanya Mbak Mawar sampai mengalami keram perut," ujar Dokter saat memeriksa kondisi Mawar.


"Sepertinya begitu Dok," ucap Mawar, karena akhir-akhir ini Mawar selalu saja merasa khawatir dengan kedekatan Rahman dan Anya, apalagi Mawar sampai beberapa kali bermimpi tentang Anya dan Rahman yang menikah.


Kenapa hatiku tiba-tiba menjadi tidak enak begini ya? semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada Mas Rahman, ucap Mawar dalam hati.


"Sebaiknya Mbak minum obat penguat kandungan secara teratur, karena saat ini kandungan Mbak Mawar baru lima bulan, dan keram perut bisa menyebabkan Mbak Mawar keguguran," ujar Dokter, dan Mawar Dokter suruh untuk istirahat di klinik sampai jam pulang kerja selesai.


......................


Anya dan Rahman terus mengembangkan senyuman karena saat ini mereka sudah Sah menjadi pasangan Suami istri.


Anya mencium punggung tangan Rahman yang sudah Sah menjadi Suaminya, kemudian Rahman memasukan cincin mas kawin ke dalam jari manis kanan tangan Anya, setelah itu Rahman mencium kening Anya dengan penuh cinta.


"Makasih ya sayang, karena Anya sudah bersedia menjadi istri Mas. Semoga kita selalu diberikan kebahagiaan, dan cinta kita selalu abadi hingga maut yang memisahkan," ucap Rahman yang di Amini oleh semuanya.


Anya dan Rahman memutuskan untuk pamit menuju hotel yang sebelumnya sudah dibooking oleh Anya.


"Mira, kami pergi dulu ya, kamu bagi-bagi saja uangnya untuk Pak Penghulu dan para Saksi," ujar Anya dengan memberikan amplop coklat yang berisi uang lima juta rupiah kepada Mira.


"Oke siap Bos. Semoga pernikahan kalian langgeng ya," ucap Mira yang di Amini oleh Rahman dan Anya.


"Terimakasih banyak ya Mira atas bantuannya, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Rahman.


Sepanjang perjalanan menuju Hotel, Anya dan Rahman berbincang dengan tertawa bahagia, dan keduanya memutuskan untuk mematikan handphone mereka supaya tidak ada yang mengganggu malam pengantin mereka.


"Mas, handphonenya kita matikan saja ya, Anya gak mau kalau sampai ada yang mengganggu malam pertama kita."


"Iya sayang, terserah Anya saja," jawab Rahman, sehingga Mawar yang terus mencoba menelpon Rahman tidak dapat menghubunginya.

__ADS_1


"Kenapa sih nomor Mas Rahman berada di luar jangkauan terus? tidak mungkin kan kalau di sana tidak ada sinyal?" gerutu Mawar, kemudian Mawar mencoba menelpon nomor Anya, tapi nomor Anya berada di luar jangkauan juga, sehingga membuat Mawar semakin merasa khawatir.


"Kamu harus tenang Mawar, Mas Rahman pasti baik-baik saja, dan Anya adalah teman baik kamu, jadi tidak mungkin kalau Anya sampai merebut Mas Rahman dariku," gumam Mawar yang terus saja merasa gelisah dan mencoba menampik berbagai kemungkinan yang ada.


__ADS_2