
Abi yang sudah selesai sarapan, langsung menuju rumah kontrakan Laras.
"Assalamu'alaikum," ucap Abi.
"Wa'alaikumsalam. Mas Abi udah siap mau berangkat kerja?"
"Udah Laras, kita berangkat bareng ya."
"Kalau begitu tunggu sebentar, Laras mau ngambil Daffa sama dagangan dulu," ujar Laras, kemudian melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam rumah.
Laras menggendong Daffa dengan sebelah tangan menjinjing keranjang makanan.
"Sini keranjangnya aku yang bawa," ujar Abi dengan mengambil keranjang dari tangan Laras.
"Tapi keranjangnya berat Mas, kasihan kalau Mas Abi yang membawanya," ujar Laras yang merasa tidak enak terhadap Abi.
"Tidak apa-apa Laras, aku ini seorang laki-laki, dan aku tidak akan membiarkan seorang perempuan membawa keranjang seberat ini, apalagi kamu harus membawa Daffa. Yuk berangkat, bukannya kamu harus jualan dulu," ujar Abi, dan Laras begitu tersentuh dengan perhatian yang Abi berikan, karena dulu saat berumah tangga dengan Rahman, bahkan Rahman selalu membiarkan Laras membawa dagangannya sendiri tanpa mau membantu Laras.
Sesampainya di depan pabrik, Abi mengambil Daffa dari gendongan Laras, karena Laras hendak menata jualannya di atas meja.
"Laras, itu cowok baru kamu ya? ganteng banget sih," ujar salah satu teman Laras.
"Kami hanya berteman kok, Mas Abi teknisi baru di pabrik."
"Wah seneng banget deh ada teknisi baru yang ganteng. Mas kenalan dong," ujar teman-teman Laras yang saat ini tengah membeli dagangan Laras, tapi Abi hanya menanggapinya dengan senyuman.
Dagangan Laras habis dalam waktu sebentar saja, karena banyak perempuan yang terpesona dengan ketampanan Abi sehingga mereka semua berbelanja masakan yang dibuat oleh Laras, karena ingin melihat Abi lebih dekat.
Beberapa saat kemudian, Anggi yang sudah pulang belanja dari Pasar menghampiri Laras untuk mengambil Daffa.
"Laras, jadi itu ya yang namanya Mas Abi?" bisik Anggi.
"Iya Anggi, emangnya kenapa? jangan bilang kamu naksir sama Mas Abi."
"Dia sepertinya cocok jadi Ayah Daffa. Kamu lihat saja, Mas Abi terlihat tulus menyayangi Daffa, dan menurut aku Mas Abi bakalan menjadi sosok Ayah yang baik," bisik Anggi
__ADS_1
"Udah gak usah ngaco, Mas Abi gak mungkin suka sama aku."
"Kita tidak tau isi hati seseorang Laras, dan aku harap kamu bisa segera membuka hati kamu untuk lelaki lain."
"Anggi sayang, udah ya jangan bahas tentang itu, untuk saat ini aku hanya akan fokus pada Daffa," ujar Laras kemudian mengambil Daffa dari gendongan Abi.
"Mas Abi, makasih banyak ya sudah membantu menjaga Daffa."
"Kamu tidak perlu berterimakasih Laras, bukannya kita adalah teman? jadi sudah seharusnya aku melakukan semua itu. Oh iya, sekarang Daffa akan dijaga sama siapa?" tanya Abi.
"Daffa bakalan dijaga sama teman terbaik Laras di Dunia ini. Kenalin ini namanya Anggi, dan Anggi tinggal satu kontrakan dengan Laras."
Anggi dan Abi berjabat tangan, dan tiba-tiba Abi menitipkan Daffa kepada Anggi seperti seorang Ayah yang menitipkan Anaknya.
"Mbak Anggi saya titip Daffa ya," ujar Abi dengan tersenyum.
"Iya, Mas Abi tenang saja, saya akan selalu menjaga Daffa dengan baik."
"Tuh kan Laras, Mas Abi udah kayak Ayah yang menitipkan Anaknya saja," bisik Anggi saat mengambil Daffa dari gendongan Laras, dan Laras hanya tersenyum mendengar perkataan Anggi.
"Laras, yuk masuk, aku kan belum tau letak tempat kerja operator," ujar Abi.
Saat ini Laras dan Abi menjadi pusat perhatian semua Karyawan, karena mereka berdua terlihat sangat cocok, sampai akhirnya Manager datang menyapa Abi.
"Selamat pagi Tu_" ucap Pak Anton, dan Abi langsung memotong perkataan Pak Anton supaya tidak sampai keceplosan.
"Selamat pagi Pak Anton. Bapak mencari saya ya? kalau begitu sekarang kita ke ruang kerja Bapak," ujar Abi, kemudian mengajak Pak Anton menuju ruang kerjanya supaya percakapan mereka tidak terdengar oleh siapa pun.
"Pak Anton, saya harap Bapak tidak keceplosan seperti tadi, karena saya tidak mau kalau sampai ada karyawan yang tau tentang identitas saya yang sebenarnya," ujar Abi.
"Maaf Tuan, saya lupa."
"Mulai sekarang Pak Anton harus memperlakukan saya sama seperti Karyawan yang lain, karena semua itu saya lakukan supaya saya bisa menilai sendiri kinerja semua karyawan di sini," ujar Abi yang tidak memberitahukan alasan sebenarnya kepada Pak Anton tentang dirinya yang ingin lebih dekat dengan Laras.
"Baik Tuan, saya akan melakukan semua yang Anda perintahkan," ujar Pak Anton.
__ADS_1
Setelah selesai berbicara dengan Pak Anton, Abi kembali menghampiri Laras yang saat ini sedang mengajari Anak buahnya menjahit.
"Laras, kamu bisa menjahit juga?" tanya Abi.
"Iya Mas, Alhamdulillah. Mbak udah ngerti kan cara jahitnya?" tanya Laras, kemudian kembali berdiri.
"Laras kok kamu berdiri lagi? kenapa gak nerusin jahitnya?" tanya Abi.
"Alhamdulillah, baru-baru ini aku di angkat menjadi mandor Mas, jadi aku bagian ngejar target sama ngajarin teman-teman kalau ada yang belum paham cara menjahit polanya," ujar Laras, dan Abi semakin kagum mendengar perkataan Laras.
"Mas, tuh ada mesin yang rusak," ujar Laras.
"Yang mana?" tanya Abi yang belum mengetahui mesin mana yang rusak, apalagi mesin jahit di pabrik tersebut berjumlah ribuan.
"Mas Abi belum tau ya, kalau ada mesin yang rusak, di atas mesin akan di pasangin bendera merah," ujar Laras.
"Oh, aku kira bendera merah dipasang karena ada acara nikahan," canda Abi, sehingga membuat Laras tersenyum.
Abi melangkahkan kaki menuju mesin jahit yang rusak tersebut, kemudian dengan cekatan membetulkannya.
"Mas nya selain ganteng, pinter banget ya betulin mesinnya. Mas, bantu bengkelin hatiku dong," ujar karyawan yang mesin nya rusak.
"Maaf Mbak, saya di sini untuk kerja betulin mesin, bukan tukang bengkel hati," ujar Abi, kemudian melangkahkan kaki menuju line Laras, dan Abi terus mengamati gerak gerik Laras yang terlihat begitu cekatan dalam bekerja.
"Giliran sama Laras aja sikapnya romantis banget, kenapa sama aku dingin banget sedingin salju," gumam Ika, Karyawati yang mesinnya dibetulin oleh Abi.
"Eh Ika, kamu sadar diri dong. Lihat Laras, body nya saja aduhai kayak gitar spanyol, nah kamu lihat sendiri body kamu kayak gentong," sindir Titin, sehingga membuat Ika cemberut.
......................
Jam istirahat siang pun kini telah tiba, dan Laras mengajak Abi untuk makan siang dengannya, karena Laras sengaja membawa dua bungkus nasi dan juga lauk untuk Abi makan.
"Mas Abi, makan siang dulu yuk," ajak Laras.
"Aku gak enak Laras, masa aku minta makan terus sama kamu."
__ADS_1
"Siapa bilang Mas Abi minta makan sama aku? aku sendiri yang memang sudah berniat membawa bekal makan siang untuk Mas Abi. Hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih karena Mas Abi sudah membantu aku menjaga Daffa saat aku berjualan," ujar Laras dengan tersenyum manis, sehingga membuat jantung Abi berdetak kencang.
Laras, semoga saja aku bisa menjadi imam untukmu, dan aku akan menjaga kamu dan Daffa dalam seumur hidupku. Kasihan kamu pasti cape harus menanggung beban sendirian, dan nanti aku tidak akan membiarkanmu menanggung semua beban hidup sendirian lagi, ucap Abi dalam hati.