
Rahman beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum menjawab pertanyaan dari Pak Syarif.
"Untuk saat ini Rahman dan Anya masih akan merahasiakan tentang pernikahan kami dari Mawar, karena saat ini Mawar dalam keadaan hamil, dan Rahman takut jika kejadian yang menimpa Nisa akan terjadi kepada Mawar."
"Iya Nak sebaiknya kalian tunggu sampai Mawar melahirkan, karena Bapak juga tidak mau kalau sampai Mawar menjadi depresi seperti Nisa."
Nisa yang diam-diam mendengar pembicaraan Rahman dengan kedua orangtuanya langsung tertawa bahagia, karena sejak lama Nisa tidak suka dengan Mawar.
"Hore, akhirnya si Mawar mendapatkan karma juga, emang enak Suami direbut perempuan lain. Selamat menikmati Mawar, sebentar lagi kamu pasti akan menjadi gila seperti aku," ujar Nisa.
"Nak, Nisa tidak boleh berkata seperti itu, sampai kapan Nisa akan begini terus? Nisa harus ikhlas menerima semua cobaan yang menimpa hidup Nisa?" ujar Pak Syarif yang merasa kasihan melihat nasib Anaknya.
"Nisa akan sembuh setelah Nisa berhasil membalaskan dendam Nisa kepada si Neneng dan si Herman. Mereka harus menerima balasannya karena sudah menyebabkan bayi Nisa meninggal. Seandainya kalian tidak menghalangi Nisa untuk membunuh Neneng dan Herman, pasti sekarang Nisa sudah hidup tenang," ujar Nisa dengan tertawa.
Nisa sudah beberapa kali mencoba membunuh Neneng dan Herman, makanya sekarang Nisa tidak diperbolehkan ke luar rumah, bahkan jika depresinya sedang kumat, Nisa akan dikurung di dalam kamar.
Anya yang mendengar perkataan Nisa sampai bergidik ngeri, karena Anya takut kalau Mawar akan berbuat nekad juga terhadap dirinya dan Rahman.
Kenapa setelah mendengar perkataan Nisa, aku menjadi takut seperti ini ya? bagaimana kalau nanti Mawar sampai berbuat nekad? sebaiknya aku mengikuti saran Mas Rahman untuk menutupi semuanya dari Mawar sampai kami menemukan waktu yang tepat, batin Anya.
"Padahal Ibu sudah tidak sabar melihat si Mawar menangis," dan Ibu juga sudah tidak sabar untuk memamerkan Menantu yang cantik dan kaya, lanjut Bu Ida dalam hati.
"Bu, kita tidak boleh mempunyai pikiran buruk seperti itu. Kita seharusnya mendo'akan orang yang sudah berbuat dzalim kepada kita supaya dia sadar atas kesalahan yang kita buat. Ibu masih ingat perlakuan Ibu terhadap Laras kan? karena apa yang kita tanam, itu juga yang akan kita tuai, dan sebagai orangtua, kita harus menjadi contoh yang baik untuk Anak-anak kita, jangan sampai iri hati dan dengki menguasai diri kita," ujar Pak Syarif.
"Iya, iya, Ibu ngerti Pak, sebaiknya Bapak jangan ceramah terus, kuping Ibu panas dengernya. Nak Anya, Rahman, kalian sudah makan belum? Ibu kebetulan sudah masak."
__ADS_1
"Kami tadi sudah makan Bu, jadi Ibu tidak perlu repot-repot, Anya juga mau pamit pulang."
"Memangnya Anya tidak mau menginap di sini?"
"Lain kali saja Bu." Ogah banget aku harus menginap di rumah yang ada orang stres nya, nanti bagaimana kalau si Nisa tiba-tiba menyerangku, lanjut Anya dalam hati.
Setelah berpamitan kepada kedua orangtua Rahman, Anya mengantar Rahman menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah kedua orangtuanya.
"Sayang, aku gak rela kita harus berpisah," rengek Anya dengan memeluk tubuh Rahman saat mobil yang dikendarai Anya berhenti di pinggir jalan depan rumah Rahman.
"Sayang, Mas juga gak rela kita harus tinggal terpisah, tapi mau bagaimana lagi, untuk saat ini kita harus bersabar dulu." ujar Rahman dengan mencium Bibir dan kening Anya dengan waktu yang cukup lama sebelum Rahman ke luar dari dalam mobil Anya.
"Sayang, Anya hati-hati ya, nanti kasih kabar sama Mas kalau sudah sampai rumah."
Mawar tidak tau kalau mobil yang berhenti di depan rumahnya adalah mobil Anya.
"Siapa sih yang parkir di depan, kenapa dari tadi orangnya gak ke luar-luar," gumam Mawar, kemudian melangkahkan kaki ke luar dari dalam rumahnya.
"Mas Rahman," teriak Mawar dengan mata yang berbinar ketika melihat Suaminya pulang, tapi Rahman seakan tidak mendengar teriakan Mawar, karena Rahman terus saja melambaikan tangan kepada Anya yang melajukan mobilnya, sampai akhirnya mobil Anya menghilang dari pandangannya.
"Mas, kenapa sih dari tadi Mawar panggil, Mas diam saja? memangnya siapa yang tadi mengantar Mas pulang? Mas kelihatannya bahagia sekali?" ujar Mawar yang memberondong Rahman dengan banyak pertanyaan, sehingga membuat Rahman pusing.
"Mawar, aku tuh cape pulang kerja, bisa tidak kamu tidak terus bertanya? aku pusing dengar suara kamu," bentak Rahman, kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Mawar yang menangis karena merasa sakit hati mendengar bentakan Rahman.
"Kenapa Mas Rahman tiba-tiba berubah? Mas Rahman sekarang berani membentakku," gumam Mawar.
__ADS_1
Rahman langsung membersihkan diri, setelah itu Rahman merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menonton televisi.
"Mas, Mawar lapar," ujar Mawar dengan mendekati Rahman.
"Kalau lapar kamu tinggal makan, apa susahnya."
"Tapi Mawar tidak bisa masak Mas, selama ini kan Mas Rahman yang selalu menyiapkan semuanya untuk Mawar."
"Mulai sekarang, aku tidak sudi menjadi Pembantumu lagi. Sudah seharusnya kamu belajar masak, kamu itu seorang perempuan, kamu juga harus membiasakan diri mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku capek Mawar, kamu lihat sendiri rumah sudah seperti kapal pecah begini, harusnya kamu membersihkannya."
"Mas, kenapa Mas Rahman berubah? kenapa Mas terus saja membentak Mawar?"
"Kamu pikir saja semua kesalahan yang telah kamu perbuat, dan sebaiknya kamu jangan ganggu aku beristirahat."
"Mas, harusnya Mas berterimakasih sama aku karena aku yang sudah memasukan Mas kerja di PT. Abimana Grup, kalau bukan karena aku, sampai sekarang Mas pasti masih pengangguran."
"Tutup mulut kamu Mawar, jangan mentang-mentang kamu yang membantu aku mendapatkan pekerjaan, kamu merasa memiliki jasa yang besar dalam hidupku, dan kamu bersikap seenaknya terhadapku, karena kalau mau, aku bisa masuk perusahaan mana pun meski pun tanpa bantuan darimu," apalagi sekarang aku sudah memiliki istri dan Mertua yang kaya raya, jadi aku bisa meminta bantuan kepada mereka, lanjut Rahman dalam hati.
"Mas, kamu tega sekali berkata seperti itu terhadapku, aku sekarang sedang hamil anak kamu."
"Entahlah Mawar, sekarang aku merasa tidak yakin jika bayi yang berada dalam kandungan kamu adalah Anakku, karena saat pertama kali kita melakukan hubungan Suami Istri, kamu sudah bukan perawan lagi, bisa saja kan kamu sudah sering melakukannya dengan lelaki lain," sindir Rahman.
"Cukup Mas, aku tidak serendah yang kamu katakan."
"Benarkah? lalu apa yang dulu sudah kamu lakukan supaya bisa merebutku dari Laras? apa kamu lupa, kalau kamu sudah menggodaku menggunakan tubuhmu? Kamu adalah perempuan paling kejam yang pernah aku kenal Mawar. Aku sangat bodoh, karena dulu aku sudah membuang berlian demi batu kerikil."
__ADS_1