
Keesokan paginya, Rahman dan Anya yang masih tergeletak di pinggir jalan, ditemukan oleh pengendara motor yang lewat. Karena pengendara motor takut jika yang ia temukan adalah mayat, pengendara motor langsung melaporkannya kepada pihak berwajib.
Beberapa saat kemudian, Polisi datang ke tempat kejadian perkara, Polisi juga membawa mobil Ambulance untuk mengevakuasi Anya dan Rahman yang masih belum sadarkan diri.
Anya dan Rahman dibawa masuk ke dalam ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan medis, dan Polisi masih menunggu di depan ruang IGD, karena mereka tidak menemukan identitas apa pun pada tubuh Anya dan Rahman.
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari dalam ruang IGD untuk menjelaskan kondisi Anya dan Rahman kepada pihak berwajib.
"Dok, bagaimana kondisi kedua Pasien?" tanya Pak Polisi.
"Pasien laki-laki mendapatkan pukulan pada sekujur tubuhnya, sedangkan Pasien perempuan telah mengalami kekerasan sek*sual sehingga menyebabkan Pasien pingsan, dan menurut hasil pemeriksaan, Pasien telah di*perkosa oleh lebih dari satu orang," jelas Dokter.
"Sepertinya kedua Pasien mengalami perampokan, karena pada tubuh mereka tidak ditemukan identitas apa pun. Kalau begitu kami akan menunggu sampai salah satu Pasien sadar," ujar Polisi.
......................
Mawar yang saat ini baru bangun dari tidurnya, seperti biasa langsung mencari keberadaan Rahman, dan Mawar terlebih dahulu mencoba mencari Rahman di kamar Anya.
"Kemana Mas Rahman? kenapa setiap pagi Mas Rahman selalu menghilang? Apalagi sekarang Anya ikut menghilang juga, padahal hari ini kami akan pulang. Aku juga merasa aneh, kenapa setiap malam aku selalu saja ketiduran. Apa ini adalah efek dari kehamilanku? padahal niat aku liburan ke Bali kan ingin Babymoon sama Mas Rahman," gumam Mawar.
Mawar mencoba menghubungi nomor telpon Anya dan Rahman, tapi. nomor keduanya sama-sama tidak aktif karena handphone mereka juga ikut dirampok.
"Apa mungkin Mas Rahman dan Anya pulang ke Bogor duluan, dan mereka meninggalkan aku sendirian di sini? tapi tidak mungkin mereka sampai tega berbuat seperti itu, Mas Rahman kan sangat mencintaiku, Anya juga adalah sahabat terbaikku," gumam Mawar kemudian kembali mencari keberadaan Anya dan Rahman ke Pantai.
......................
Di lain tempat, tepatnya di kediaman Dirgantara, semuanya telah bersiap untuk berangkat menuju Rumah Sakit, karena Laras akan melakukan tes DNA dengan Papa Dirga dan Mama Lasmi.
"Laras sayang, Laras tidak memiliki keluhan apa pun kan?" tanya Mama Lasmi.
"Alhamdulillah semakin hari, Laras semakin merasa sehat Ma, bahkan nafsu makan Laras semakin bertambah, hanya saja Laras selalu merasa mual apabila melihat Bakso, jangankan memakannya, baru mencium aromanya saja Laras langsung muntah."
"Dulu juga Mama begitu saat hamil Laras, Mama baru bisa makan bakso setelah Anak Mama yang cantik ini lahir."
Laras merasa bahagia jika kenyataannya Mama Lasmi adalah Ibu kandungnya, tapi Laras masih merasa berat untuk menerima Papa Dirga, seandainya Papa Dirga adalah Papa kandung Laras, apalagi selama ini Laras dan Abi sudah menutupi kebusukan Papa Dirga yang sudah sering berselingkuh dari Mama Lasmi.
Setelah sampai di Rumah Sakit, semuanya masuk ke dalam ruangan Dokter, kecuali Abi yang harus menjaga Daffa.
__ADS_1
"Dok tolong lakukan tes DNA terhadap kami dan Laras," ujar Papa Dirga.
"Baik Tuan," ujar Dokter, kemudian mengambil sampel darah Laras, Papa Dirga dan Mama Lasmi.
"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Papa Dirga, karena saat ini perasaan Papa Dirga tidak karuan, apalagi setelah melihat tanda lahir pada bahu Laras.
"Biasanya paling cepat tiga hari Tuan, tapi kami akan mengusahakan secepatnya," jawab Dokter.
"Semoga hasilnya bisa segera keluar, dan saya akan membayar berapa pun biayanya," ujar Papa Dirga.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik," ujar Dokter.
Setelah selesai, Papa Dirga pamit untuk berangkat ke kantor, sedangkan Abi dan Laras yang rencananya akan pulang ke Pabrik hari ini, mengurungkan niatnya, karena mereka akan menunggu sampai hasil tes DNA keluar.
"Ma, kita mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Abi.
"Sebaiknya kita jalan-jalan saja dulu, kita ajak main Daffa ke Arena bermain Anak," jawab Mama Lasmi, dan Abi melajukan mobilnya menuju Arena bermain Anak.
......................
Rahman dan Anya saat ini telah dipindahkan menuju kamar perawatan, dan Rahman secara perlahan membuka matanya.
"Syukurlah Anda sudah sadar. Bagaimana keadaan Anda?" tanya Pak Polisi dengan menekan tombol untuk memanggil Dokter.
Beberapa saat kemudian Dokter datang untuk memeriksa kondisi Rahman.
"Luka pada sekujur tubuh Anda sudah mulai membaik, dan Anda hanya perlu beristirahat saja. Kalau ada apa-apa, Anda bis memanggil kami," ujar Dokter kemudian ke luar dari kamar perawatan Rahman dan Anya.
"Dimana istri saya?" tanya Rahman yang mengingat kembali kejadian sebelum dirinya pingsan.
"Jadi perempuan yang ditemukan pingsan bersama Anda adalah istri Anda?" tanya Polisi.
"Iya Pak."
"Anda tidak perlu khawatir, itu istri Anda, dan istri Anda masih pingsan," jawab Pak Polisi. dengan menunjuk Anya yang berada tidak jauh dari ranjang pesakitan Rahman.
Rahman secara perlahan turun dari ranjangnya untuk menghampiri Anya, dan Pak Polisi membantu Rahman berjalan menuju ranjang pesakitan Anya, serta membantu Rahman duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Sayang, maaf aku tidak bisa menjagamu. Sekarang Anya bangun, jangan buat Mas merasa khawatir," ucap Rahman dengan membelai rambut Anya.
"Pak, apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kalian?" tanya Pak Polisi.
"Saya dan istri saya mengalami perampokan, bahkan istri saya mengalami pe*merkosaan," jawab Rahman dengan menangis.
"Kami turut berduka cita atas musibah yang menimpa Anda dan istri."
"Terimakasih banyak Pak," ucap Rahman dengan lirih.
"Berapa orang yang melakukan kejahatan terhadap Bapak dan istri?" tanya Pak Polisi lagi yang terus menggali informasi supaya bisa menangkap para pelaku.
"Mereka berjumlah empat orang. Tolong segera tangkap mereka Pak," ujar Rahman.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik, dan nanti kami akan memperlihatkan fhoto pencarian daftar orang yang sering melakukan aksi kejahatan di sekitar kejadian, siapa tau Bapak mengenali salah satunya."
"Pak, apa boleh saya meminta tolong supaya Bapak menghubungi Mertua saya? karena semua barang-barang kami raib, dan saya tidak hafal satu pun nomor handphone kerabat kami."
Aku mengingat nomor handphone Mawar, tapi aku tidak mungkin menghubunginya, karena dia pasti akan langsung mengetahui rahasia perselingkuhanku dan Anya, batin Rahman.
"Tentu saja kami akan membantu Bapak. Memangnya apa yang bisa kami lakukan?"
"Mertua saya adalah pemilik Dirgantara Grup di kota Jakarta, siapa tau ada nomor perusahan yang bisa Bapak hubungi," ujar Rahman.
Polisi melakukan pencarian di internet, dan setelah menemukan nomor layanan customer perusahaan, Polisi langsung menghubunginya.
Pada awalnya Karyawan tidak mau menyambungkannya dengan Papa Dirga, tapi setelah Polisi mengatakan jika yang menghubunginya adalah pihak berwajib, Karyawan terpaksa menghubungkannya dengan Papa Dirga.
Setelah telpon tersambung, Rahman menceritakan tentang semua kejadian yang menimpa dirinya kepada Papa Dirga, dan Papa Dirga begitu terkejut mendengar musibah yang menimpa Rahman dan Anya.
Rahman juga meminta supaya Papa Dirga merahasiakan tentang kejadian tersebut dari semua orang, karena Rahman takut apabila Anya sampai depresi dengan kejadian yang menimpanya.
Papa Dirga memutuskan untuk berangkat ke Bali saat ini juga, karena Papa Dirga merasa khawatir kepada Putri kesayangannya.
"Terimakasih banyak atas bantuannya Pak," ucap Rahman kepada Pak Polisi.
"Sama-sama Pak, kalau begitu kami permisi dulu, nanti sore kami akan kembali untuk memperlihatkan fhoto daftar pencarian orang kepada Anda. Semoga Anda dan istri segera sembuh," ucap Pak Polisi kemudian ke luar dari ruang perawatan Anya dan Rahman.
__ADS_1
Rahman melamun merenungi nasib naas yang menimpa dirinya dan Anya.
Apa mungkin ini semua adalah karma untukku dan Anya, karena aku sudah berbuat jahat kepada Laras, dan juga menyia-nyiakan Daffa? aku dan Anya juga sudah berselingkuh di belakang Mawar, batin Rahman yang merasa berdosa dengan kejahatan yang selama ini telah ia lakukan.