Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 18 ( Di usir oleh Anggi )


__ADS_3

Setelah merasa lebih tenang, secara perlahan Laras melepas pelukannya kepada Abi, kemudian Abi melangkahkan kaki menuju dapur untuk mengambil air.


"Sekarang kamu minum dulu ya," ujar Abi dengan memberikan segelas air putih kepada Laras.


"Terimakasih Mas," ucap Laras dengan lirih.


"Laras, bukannya lelaki tadi adalah pacarnya Anggi?"


"Iya Mas, aku memang sudah lama mengetahui tentang Reza yang mata keranjang, tapi aku tidak sanggup mengatakan semuanya kepada Anggi, karena Anggi sangat mencintai Reza."


"Laras, bagaimanapun juga kamu harus mengatakan yang sebenarnya kepada Anggi. Kasihan Anggi kalau sampai menikah dengan lelaki bejat seperti Reza."


"Aku juga tidak pernah mengira jika Reza akan berbuat seperti itu terhadapku. Mungkin karena aku seorang Janda, makanya Reza menganggap rendah diriku."


"Laras tidak semua orang berpikiran seperti itu, justru aku kagum terhadap kamu, karena kamu adalah perempuan hebat yang bisa membesarkan Daffa tanpa bantuan dari mantan Suami kamu."


"Sekarang aku tidak tau apa yang harus aku lakukan Mas."


"Apa pun yang terjadi, kamu harus berkata jujur kepada Anggi meskipun itu akan menyakitkan untuknya."


Laras terlihat merenungi perkataan Abi, karena Laras takut jika persahabatannya dengan Anggi menjadi hancur karena masalah ini.


"Mas, apa Anggi akan percaya dengan perkataanku? aku takut kalau Anggi mengira jika aku telah mengarang cerita. Bagaimana kalau nanti persahabatan kami hancur karena masalah ini? aku tidak akan sanggup jika Anggi sampai membenciku."


"Laras, kamu tenang saja, aku akan membantu kamu untuk berbicara kepada Anggi, dan aku yakin kalau Anggi akan lebih percaya dengan perkataan kita dibandingkan dengan perkataan Reza."

__ADS_1


"Kalian salah, karena aku pasti akan lebih percaya dengan perkataan calon Suamiku. Tega-teganya kalian memukuli Reza karena Reza telah memergoki kalian melakukan hal yang tidak senonoh," ujar Anggi yang saat ini baru saja tiba di kontrakan.


Reza sengaja datang ke Pabrik dan mengadu kepada Anggi kalau Reza dipukuli oleh Laras dan Abi karena telah memergoki mereka sedang melakukan tindakan tidak senonoh


"Anggi, kamu sudah salah paham. Aku tidak mungkin berbuat yang tidak senonoh dengan Mas Abi, justru tadi Mas Abi yang menolongku karena Reza hendak memperkosaku."


"Laras, kamu jangan munafik. Reza sering bilang kepadaku kalau kamu sering menggodanya saat aku tidak ada. Tadinya aku tidak percaya dengan perkataan Reza, tapi setelah melihat Reza babak belur oleh perbuatan kalian, aku percaya kepadanya. Pantas saja dulu Rahman sampai selingkuh dengan Mawar, karena ternyata istrinya adalah perempuan gatal."


"Apa maksud kamu Anggi? jadi kamu tidak percaya dengan Laras? pacar kamu hampir saja menodai Laras seandainya aku tidak keburu datang, tapi kamu malah percaya dengan perkataan lelaki bejat seperti dia," ujar Abi.


"Kamu tidak usah memfitnah Reza, karena aku lebih percaya kepada Reza dibandingkan kepada kalian. Abi, apa kamu pikir aku tidak tau kalau kamu menyukai Laras, makanya kamu selalu membantu Laras menjaga Daffa, supaya kamu bisa mendekati Laras dan membuat Laras jatuh cinta kepadamu?" ujar Anggi dengan tersenyum mengejek.


"Kamu benar Anggi, aku memang mencintai Laras, tapi aku menghormatinya dan tidak pernah sedikit pun berniat untuk melecehkan Laras, karena bagiku, Laras adalah perempuan hebat yang selalu aku kagumi."


"Sepertinya kamu juga sudah berhasil diracuni oleh Laras. Laras, aku tidak pernah mengira jika kamu sekejam itu. Kamu lihat sendiri, wajah Reza jadi berdarah oleh cakaran tanganmu. Sebaiknya sekarang juga kamu pergi dari sini, karena aku tidak mau melihat kamu lagi, dan aku tidak mau mempunyai teman seorang perempuan murahan seperti kamu," ujar Anggi yang sudah termakan oleh hasutan Reza.


"Sudahlah Mas, kita tidak perlu menjelaskan apa pun lagi kepada Anggi, karena Anggi pasti akan lebih percaya terhadap kekasihnya dibandingkan dengan sahabatnya sendiri," ujar Laras dengan airmata yang terus menetes pada pipinya.


"Laras, kalau begitu sekarang kita kemasi barang-barang kamu dan Daffa, kamu sebaiknya ikut denganku," ujar Abi, kemudian membantu Laras mengemasi barang-barangnya.


Setelah selesai membereskan pakaian Laras dan Daffa, Abi ke rumah kontrakannya terlebih dahulu untuk mengambil tas pakaiannya, kemudian Abi kembali ke kontrakan Anggi untuk menjemput Laras Daffa.


Abi menggendong Daffa menggunakan kain jarik, karena saat ini Daffa masih tertidur, dan sebelah tangannya menjinjing tas pakaian miliknya. Sedangkan Laras membawa tas pakaiannya menggunakan kereta bayi Daffa.


"Laras sekarang kita pergi dari sini, apa pun yang terjadi, aku akan selalu menjaga kalian. Kalau kamu bersedia, sekarang juga aku akan menikahi kamu," ujar Abi, kemudian menarik lembut tangan Laras yang masih diam mematung menatap nanar ke arah Anggi.

__ADS_1


"Anggi, jaga diri kamu baik-baik. Selamanya kamu akan selalu menjadi teman terbaikku," ucap Laras sebelum pergi, tapi Anggi terlihat enggan melihat Laras, karena Anggi masih marah terhadap Laras.


Setelah ke luar dari rumah kontrakan Anggi, Laras menanyakan kepada Abi, kemana mereka akan pergi.


"Mas, kita akan pergi kemana?" tanya Laras.


"Kita akan pergi ke rumah Ustad untuk menikah siri terlebih dahulu sebelum aku membawa kamu ke tempat tinggal kita yang baru, karena kita tidak mungkin tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan. Aku tidak ingin sampai timbul fitnah, apalagi sampai ada yang menghina kamu lagi."


Laras langsung angkat suara, karena saat ini dia belum siap untuk menikah lagi.


"Tapi aku belum siap untuk menikah lagi, Mas."


"Aku tau Laras, aku mengerti tentang kamu yang masih trauma dengan pernikahan, tapi tidak ada cara lain lagi supaya aku melindungi kamu dan Daffa. Aku berjanji, meski pun aku sudah menikahi kamu, aku tidak akan meminta kamu melayaniku sebagai seorang istri, dan kita akan tidur terpisah sampai kamu benar-benar menerimaku sebagai Suami kamu."


Laras tidak tau harus berkata apa-apa lagi, karena saat ini Laras tidak memiliki tujuan, apalagi satu-satunya keluarga Laras hanyalah Mawar.


"Laras, kamu percaya kepadaku kan? kita akan tetap menjadi teman, karena pernikahan kita hanya status saja."


"Kenapa Mas sampai rela mengorbankan masa depan Mas untuk kami? padahal kita masih belum lama saling mengenal. Mas bisa menikahi seorang gadis, karena aku tidak pantas untuk Mas."


"Laras, jujur dari awal kita bertemu, aku langsung jatuh hati kepadamu, apalagi sejak aku melihat Daffa, aku juga langsung menyayanginya. Mulai sekarang, ijinkan aku menjadi perisai untuk kalian, dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu menanggung beban sendirian lagi."


Laras akhirnya menyetujui usul Abi, dan saat ini mereka sudah berada di rumah Ustad yang berada di dekat Pabrik.


Abi menyampaikan niatnya kepada Ustad Mahmud untuk menikahi Laras secara siri dulu dengan alasan supaya tidak timbul fitnah, dan Ustad Mahmud menyambut baik niat Abi.

__ADS_1


Ustad Mahmud mengajak Abi dan Laras ke Mushala untuk melakukan ijab kabul pernikahan setelah sebelumnya Ustad Mahmud meminta tetangga sekaligus keluarganya untuk menjadi saksi pernikahan Laras dan Abi.


__ADS_2