
Laras merasakan kehangatan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata ketika dirinya dipeluk oleh Mama Lasmi.
"Nak, akhirnya kita bertemu kembali, Mama sudah lama mencari keberadaan Laras kemana-mana. Mama tidak ingin berpisah lagi dari Laras," ujar Mama Lasmi yang enggan melepas pelukannya pada Laras.
Papa Dirga dan Abi merasa heran, karena baru kali ini Mama Lasmi berprilaku seperti itu, padahal sebelumnya Papa Dirga sudah beberapa kali membohongi Mama Lasmi dengan membayar seseorang untuk berpura-pura menjadi Larasati supaya penyakit Mama Lasmi segera sembuh, tapi Mama Lasmi tidak pernah mempercayainya.
Baru kali ini Mama mengira seseorang sebagai Anak kandung kami. Apa karena Laras memiliki wajah yang mirip dengan Mama saat masih muda dulu? tapi tidak dapat dipungkiri jika Laras memiliki wajah yang sangat cantik, apalagi setelah menikah dengan Abi, Laras menjadi semakin cantik, batin Papa Dirga.
"Ma, jangan seperti ini, Laras bukan_" ucapan Abi terhenti karena Laras memberikan kode kepada Abi dengan menempelkan telunjuk pada bibirnya.
"Ma, sekarang kita duduk dulu ya, kaki Laras pegal, apalagi Laras sedang hamil muda."
"Apa Laras hamil Anak kembar?" Tanya Mama Lasmi dengan mata yang berbinar.
"Kenapa Mama bisa tau kalau Laras hamil Anak kembar?"
"Karena kita keturunan kembar, hanya saja saat Mama melahirkan Laras, Kakak Laras tidak dapat diselamatkan karena keracunan air ketuban."
"Innalillahi..Mama yang sabar ya, semoga Anak Mama yang meninggal, menjadi tabungan akhirat Mama dan Papa. Insyaallah saat di akhirat nanti Kakak akan menyelamatkan Mama dan Papa dari siksaan api neraka," ujar Laras.
"Amin. Semoga saja Nak. Yang penting sekarang Mama sudah bertemu dengan kamu sayang, dan Mama sangat bahagia karena Laras tumbuh menjadi perempuan yang baik," ujar Mama Lasmi.
Abi yang tidak ingin Laras memberikan harapan palsu kepada Mama Lasmi, mencoba mengajaknya berbicara terlebih dahulu.
"Sayang, apa bisa kita bicara berdua dulu? Ma, Abi pinjam dulu Larasnya sebentar ya," ujar Abi dengan menarik lembut tangan Laras supaya ikut ke dalam kamarnya.
"Ayah kenapa terlihat khawatir?" Tanya Laras yang melihat kekhawatiran dalam mata Abi.
"Sayang, Ayah tidak mau kalau Bunda memberikan harapan palsu kepada Mama. Ayah takut jika Mama kecewa ketika mengetahui yang sebenarnya, jika Bunda bukanlah Larasati Anak kandungnya."
"Maaf ya Yah, kalau Bunda tidak menyangkal perkataan Mama, entah kenapa sejak pertama kali melihat Mama, Bunda merasa dekat dengan Mama, dan Bunda tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Apa tidak sebaiknya Bunda berpura-pura menjadi Larasati supaya bisa membantu penyembuhan penyakit Mama?"
__ADS_1
Abi nampak berpikir, tapi ide Laras bagus juga, karena saat bertemu dengan Laras, Mama Lasmi terlihat bahagia.
"Ya sudah, kalau begitu kita coba saran Bunda, siapa tau Mama akan nurut kalau Bunda memberi Mama obat, karena selama ini Mama sangat susah diberi obat. Tapi kalau sampai penyakit Mama sedang kambuh, Bunda jangan dekat-dekat sama Mama ya, Ayah takut jika Mama sampai melukai Bunda."
"Iya Yah, Bunda yakin kalau Mama akan sembuh," dan entah kenapa aku ingin selalu dekat dengan Mama, lanjut Laras dalam hati.
Laras dan Abi kembali ke luar, dan mereka tersenyum bahagia ketika melihat Daffa di ajak main oleh Papa Dirga dan Mama Lasmi.
"Nak, kalian udah selesai bicaranya?" tanya Mama Lasmi.
"Udah Ma, Mas Abi hanya mengajak Laras melihat kamarnya saja."
"Kalau begitu, sekarang kita makan siang dulu ya, Mama sengaja masak untuk kalian."
"Iya Nak, padahal sudah tiga puluh tahun Mama tidak pernah memasak, karena Mama tidak pernah berhenti memikirkan Larasati," ujar Papa Dirga.
"Mama punya firasat kalau Anak kita akan pulang Pa, makanya Mama masak spesial untuk Larasati, dan hari ini Mama merasa sangat bahagia."
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, Mama Lasmi mengisi piring dengan nasi dan lauk, dan Mama Lasmi memberikannya kepada Laras.
"Ma, seharusnya Laras yang melayani Mama," ujar Laras yang merasa tidak enak.
"Sayang, sejak bayi Mama tidak pernah merawat Laras, bahkan tangan Mama belum sempat menyuapi Laras makan, karena Laras hilang saat usia tiga bulan," ujar Mama Lasmi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu sekarang Mama bisa menyuapi Laras, dan Laras akan menyuapi Mama makan juga."
Mama Lasmi tersenyum bahagia ketika Laras menyuapinya, begitu juga dengan Abi dan Papa Dirga, meski pun mereka masih belum tau siapa Laras sebenarnya.
......................
Anya yang sudah bersiap untuk berangkat ke Bali, melajukan mobilnya menuju rumah Rahman, karena Anya akan menjemput Rahman dan Mawar.
__ADS_1
Sebelum ke rumah Rahman, Anya terlebih dahulu mampir ke rumah kedua orangtua Rahman, karena Anya berusaha untuk mengambil hati keluarga Rahman.
"Siang Bu, Pak," ucap Anya saat melihat kedua orangtua Rahman berada di teras depan rumah.
"Seharusnya kamu ngucapin Salam Nak," ujar Pak Syarif, sehingga membuat Anya mengulangi perkataannya.
"Assalamu'alaikum Bu, Pak," ucap Anya dengan mencium punggung tangan kedua orangtua Rahman.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Syarif dan Bu Ida.
"Menantu Ibu yang cantik mau berangkat ke mana? sepertinya mau pergi liburan?" tanya Bu Ida dengan cipika cipiki kepada Anya.
"Anya mau honeymoon ke Bali Bu, makanya Anya mau ke rumah Mas Rahman dulu, buat jemput Mas Rahman dan Mawar."
"Lho, kenapa kok honeymoon ngajakin Mawar segala? nanti pasti Mawar bakalan ganggu kalian dong?"
"Mawar kan belum tau tentang pernikahan kami Bu, makanya mau tidak mau kami berangkat bertiga, nanti kalau Anya berangkat berdua dengan Mas Rahman, pasti Mawar bakalan curiga sama kami."
"Iya juga sih, semoga secepatnya bayi si Mawar lahir, supaya kalian tidak perlu menyembunyikan pernikahan kalian lagi dari Mawar."
"Iya Bu, Anya akan sabar menunggu sampai waktu itu tiba. Oh iya Bu, Anya tadi beli kue saat di perjalanan mau ke sini, Anya harap Ibu dan Bapak suka sama kue nya," ujar Anya yang hendak memeberikan kue kepada Bu Ida, tapi tiba-tiba Nisa datang dan langsung merebut kue dari tangan Anya.
"Kue nya buat Nisa aja ya," ujar Nisa dengan membuka kue pemberian Anya, kemudian langsung memakannya dengan lahap.
"Nisa, kamu yang sopan Nak, jangan bersikap seperti itu kepada Kakak ipar kamu," ujar Bu Ida, dan tiba-tiba Nisa berhenti memakan kue.
"Jadi perempuan ini adalah perempuan gatel yang sudah berselingkuh dengan Mas Rahman?" tanya Nisa dengan tatapan tajam, sehingga membuat Anya ketakutan.
"Kamu sama saja seperti Neneng yang telah merebut Mas Herman dari aku, dan sekarang aku akan membasmi Pelakor seperti kamu," ujar Nisa yang berusaha untuk mencekik Anya.
"Nak, sebaiknya Anya cepat pergi dari sini, sekarang penyakit Nisa sedang kambuh," ujar Bu Ida dengan menahan Nisa yang hendak mengejar Anya.
__ADS_1
Anya yang ketakutan langsung berlari menuju mobil, kemudian bergegas melajukan mobilnya ke rumah Rahman dengan tubuh yang gemetar ketakutan.