Satu Ranjang, Tiga Nyawa

Satu Ranjang, Tiga Nyawa
Bab 48 ( Pertemuan Ibu dan Anak )


__ADS_3

Abi selalu merasa kesal terhadap kelakuan Anya yang selalu saja berbuat seenaknya.


"Amit-amit jabang bayi, jangan sampai Anak kita seperti Anya," ujar Abi dengan bergidik ngeri, kemudian mengelus lembut perut Laras.


"Gak boleh gitu Yah, bagaimanapun juga Anya adalah Adik Ayah. Wajah Anya juga cantik, kalau Anak kita perempuan wajahnya gak apa-apa mirip Anya, yang penting jangan sifatnya," ujar Laras dengan tersenyum.


"Tidak boleh, mana boleh Anak kita memiliki wajah nyebelin seperti si biang kerok, jelas-jelas cantikan Bunda luar dalam, jadi kalau Anak kita perempuan, harus mirip sama Bundanya, kalau laki-laki, harus mirip sama Ayahnya. Semoga saja si kembar laki-laki dan perempuan, jadi kita tidak perlu produksi lagi."


"Emang makanan di produksi," ujar Laras dengan terkekeh.


"Ralat ralat, sepertinya Ayah salah bicara, kalau produksi setiap malam tetap berjalan, hanya saja jangan sampai dicetak," ujar Abi, dan Laras memutar malas bola matanya.


......................


Rahman sudah kembali bersikap romantis kepada Mawar, supaya Mawar tidak merasa curiga dengan perselingkuhan Rahman dan Anya, dan Anya yang merasa cemburu karena melihat kebersamaan Rahman dan Mawar yang kembali membaik, terus saja mengirimkan pesan kepada Rahman supaya tidak terlalu bersikap berlebihan kepada Mawar, tapi Rahman terus berusaha untuk meyakinkan Anya jika sekarang cintanya hanya untuk Anya.


Anya kenapa sih terus saja merasa cemburu, bukannya dia sendiri yang menyuruh aku supaya membuat Mawar senang? batin Rahman kini bertanya-tanya.


Mawar juga mencoba berubah menjadi istri yang baik dengan melayani semua kebutuhan Rahman, bahkan Mawar belajar memasak supaya Rahman semakin mencintainya, tapi Mawar yang serakah masih merencanakan usaha untuk mendapatkan Abi.


"Sekarang Mas Rahman sudah kembali bersikap romantis, tapi Mas Rahman tidak memiliki harta sebanyak Om Dirga atau Abi, karena Om Dirga sudah tidak dapat aku hubungi lagi, sebaiknya aku gencar untuk merayu Abi, supaya aku bisa mendapatkan hartanya. Maafkan aku Kakak ku tersayang, karena aku harus kembali merebut Suamimu, salah sendiri kamu selalu beruntung dan membuat aku iri," gumam Mawar dengan tersenyum licik.


Mawar yang baru selesai membersihkan rumah, kemudian belajar memasak untuk Rahman, dan setelah masakannya matang, Mawar membawanya kepada Rahman.


"Mas, cobain deh, Mawar barusan sudah belajar memasak khusus untuk Suami Mawar tercinta," ujar Mawar dengan menyuapi nasi dengan rendang Ayam yang dia masak.


Rahman mencoba makanan Mawar, meski pun rasanya masih jauh dari masakan buatan Laras yang tidak ada tandingannya.

__ADS_1


"Bagaimana, enak kan? Mawar memasaknya dengan penuh cinta."


"Enak kok," ujar Rahman, dan Mawar langsung menyuapi Rahman makan.


Kenapa baru sekarang kamu berubah setelah aku menikah dengan perempuan lain Mawar? sayangnya semuanya telah terlambat, karena sekarang rasa cintaku untukmu sudah berkurang, dan Anya sudah berhasil menggantikan posisi kamu dari dalam hatiku, batin Rahman.


Mawar yang ingat dengan kejadian saat makan siang tadi, memutuskan untuk bertanya kepada Rahman.


"Oh iya Mas, kenapa tadi siang Mas memberikan kode kepada Mawar supaya tidak memberitahukan kepada Anya tentang siapa Laras sebenarnya?"


"Mawar, kalau Anya sampai mengetahui Laras adalah mantan istri Mas, Anya pasti akan membenci Mas karena sudah lepas tanggung jawab menafkahi Daffa."


"Kenapa Mas jadi memikirkan pendapat Anya? bukannya kalau Anya tau Laras adalah Mantan istri Mas, Anya pasti akan bersedia membantu kita untuk membully Laras."


"Sudahlah Mawar, kita lupakan masalalu, bukannya kamu ingin berubah menjadi istri yang baik untuk Mas? jadi kamu jangan mencoba mengingatkan Mas dengan kesalahan yang telah Mas lakukan di masalalu," karena sebenarnya bukan Laras yang akan Anya marahi, tapi Anya sudah pasti akan memarahi aku. Jadi, lebih baik Anya tidak tau tentang siapa Laras sebenarnya, meski pun suatu saat nanti cepat atau lambat Anya akan mengetahuinya, batin Rahman.


Mawar sebenarnya merasa curiga dengan sikap Rahman, apalagi dengan kedekatan Rahman dan Anya, tapi Mawar selalu menampik semuanya, karena Mawar masih menganggap Anya sebagai teman terbaiknya.


......................


Keesokan paginya, Laras, Abi, dan Daffa sudah bersiap untuk berangkat menuju Jakarta.


"Bi, Mang, kami berangkat dulu ya," ujar Abi dan Laras dengan mencium punggung tangan Mang Diman dan Bi Surti.


"Hati-hati ya Mas bawa mobilnya, semoga semuanya lancar dan selamat sampai tujuan. Si Mbah pasti bakalan kangen sama Den kecil," ujar Bi Surti yang sudah menganggap Daffa sebagai Cucunya sendiri.


"Amin, makasih banyak ya Bi, Daffa juga pasti bakalan kangen sama Kakek dan Neneknya. Kalau begitu kami berangkat dulu," ujar Laras kemudian Abi dan Laras mengucap Salam sebelum berangkat.

__ADS_1


Abi melajukan mobilnya menuju Jakarta, dan entah kenapa jantung Laras terus saja berdetak kencang.


Kenapa jantungku terus berdetak kencang ya? perasaan apa ini? kenapa aku seperti akan bertemu dengan orang yang spesial? Aku sebaiknya tidak perlu mengatakannya kepada Mas Abi, bisa-bisa Mas Abi salah paham dan mengira aku grogi karena akan bertemu dengan Papa Dirga, batin Laras.


Perjalanan dari Bogor ke Jakarta, menghabiskan waktu tiga jam, karena Abi menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah, bahkan Abi sering berhenti karena takut Laras yang sedang hamil muda sampai kenapa-napa, meski pun Laras sudah berusaha meyakinkan Abi kalau Laras baik-baik saja.


Saat ini mobil Abi sudah memasuki halaman rumah yang begitu megah bak istana dalam dongeng, dan Abi turun terlebih dahulu supaya bisa membukakan pintu mobil untuk Laras.


"Bunda, sini Daffa nya biar Ayah saja yang gendong, Bunda juga hati-hati jalannya," ujar Abi dengan membantu Laras turun dari mobil.


Abi menggendong Daffa, dan menggandeng Laras untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap abi dan Laras secara bersamaan ketika melihat Mama Lasmi dan Papa Dirga yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Wa'alaikumsalam, kalian rupanya sudah datang," jawab Papa Dirga dengan menghampiri Laras dan Abi.


Setelah Laras dan Abi mencium punggung tangan Papa Dirga, Papa Dirga menggendong Daffa, karena Daffa yang melihat Papa Dirga, langsung meminta digendong oleh Kakeknya tersebut.


"Sini sayang, Daffa kangen ya sama Opa?" ujar Papa Dirga dengan mengambil Daffa dari gendongan Abi, sedangkan Mama Lasmi masih diam mematung ketika melihat wajah Laras yang begitu mirip dengan dirinya saat masih muda dulu.


Kenapa wajah istri Abi begitu mirip denganku saat muda dulu? batin Mama Lasmi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ma, kenapa Mama diam saja?" tanya Abi dengan meghampiri Mama Lasmi, karena Abi takut jika depresi Mama Lasmi kambuh.


Secara perlahan Mama Lasmi melangkahkan kaki untuk menghampiri Laras, dan buliran bening lolos begitu saja membasahi pipinya.


"Anakku," ucap Mama Lasmi dengan memeluk tubuh Laras, sehingga membuat Papa Dirga dan Abi yang mendengarnya merasa terkejut.

__ADS_1


"Ma, ini Laras istrinya Abi, bukan Larasati Anak kandung Mama yang hilang," ujar Abi.


"Tidak, dia adalah Larasati Anak kandung Mama, karena seorang Ibu tidak mungkin salah mengenali Anaknya."


__ADS_2