Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 21. Pertengkaran


__ADS_3

Naura mengepalkan telapak tangan erat ketika melihat adegan panas yang mengisi dapur pagi itu. Dia merasa, semakin lama sikap sahabat dari kakak tirinya itu sudah kelewat batas. Bertindak bagai ratu di rumah yang dulu Bumi dan kakaknya bangun.


Jelas saja Naura tidak terima. Mengapa keberuntungan yang dimiliki Deandra tidak sedikitpun menular padanya? Dan yang membuat Naura semakin marah yaitu, ketika kakaknya justru menjodohkan suaminya dengan Senja.


Sudah tidak tahan melihat kemesraan suami istri di depannya, Naura sengaja menjatuhkan gelas yang di pegangnya. "Aduh! Aku minta maaf! Aku tidak sengaja menjatuhkannya," ucap Naura penuh drama.


Berhasil. Bumi dan Senja pada akhirnya saling menjauh dan menatap Naura. Tampak sekali raut kesal yang ditunjukan Bumi untuknya. Naura sadar jika selama ini, Bumi kurang suka padanya. Mungkin, mendiang kakaknya sudah menceritakan hal buruk tentangnya.


"Tidak apa-apa. Sapu saja pecahan kacanya. Sapunya ada di belakang," ucap Senja yang membuat Naura hampir saja mengumpat. Memangnya, dia pembantu di rumah itu?


"Aku akan minta tolong Bi Tijah untuk membersihkan," ucap Naura yang bersiap untuk pergi dari sana.


"Tidak perlu. Bi Tijah pasti sedang sibuk. Tolong ya, kamu bersihkan sendiri tidak apa-apa kan?" Senja kembali berucap yang membuat dada Naura rasanya bergemuruh ingin meluapkan amarah.


"Baiklah. Tidak apa-apa." Dengan terpaksa Naura mengulas senyumnya. Dia harus bersikap manis karena sekarang ada Bumi.


Kekesalan Naura tidak sampai disitu saja. Senja seperti sengaja membuat dirinya tersiksa berada di rumah tersebut. Apalagi ketika dia diminta untuk mengantar Arta buang air kecil. 'Memangnya, aku pembantu apa? Kenapa wanita licik itu seperti sengaja memerintah aku?' gerutu Naura dalam hati.


"Tidak perlu, Sayang. Naura sudah mau pulang. Biar Siska saja yang antar Arta," ucap Bumi yang membuat Naura menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, Mas. Arta sudah aku anggap seperti anakku sendiri," jawab Naura berpura-pura seperti biasa.


Setelah Naura berlalu, Senja menatap Bumi datar yang kebetulan pagi itu duduk di sampingnya untuk melakukan sarapan. "Kenapa melihatku begitu?" tanya Bumi dengan alis yang terangkat.


"Aku masih marah sama kamu. Jadi, jangan berharap aku akan luluh begitu saja," ketus Senja yang membuat Bumi terkekeh pelan.


"Masih marah tapi membalas ciuman. Apa itu— Aw! Sakit! Kasar banget sih," Bumi urung menyelesaikan kalimatnya. Berganti dengan pekikan kesakitan ketika merasakan pahanya dicubit dengan begitu kencang oleh Senja.


Senja mengabaikan gerutuan Bumi. Dia kembali menyendok nasi dan menyuapkannya ke mulut. Setelah Senja menelannya, terdengar suara tangis dari kamar tamu, yang membuat Senja seketika panik.

__ADS_1


"Arta kenapa?" tanyanya langsung sigap berlari menuju sumber suara. Bumi pun ikut panik dan mengekori Senja. Ketika pintu kamar terbuka, suara tangis Arta semakin kencang terdengar.


Senja berlari ke kamar mandi dan membuka paksa pintunya yang ternyata dikunci. "Naura! Buka pintunya!" teriak Senja penuh amarah.


"Bunda! Pintunya telkunci!" pekik Arta disela tangisnya.


"Tenang, Sayang. Papa dan Bunda di sini kok," ucap Bumi berusaha menenangkan.


Senja menatap lubang kunci yang sudah tidak terdapat kuncinya. "Arta. Tenang ya, Sayang. Sekarang Bunda tanya, di pintu itu ada kuncinya tidak?" tanya Senja lembut.


"Mas. Kuncinya tidak ada," gumam Senja pada Bumi.


"Tak ada, Bun. Ante Naula ninggalin Alta!"


Bumi dan Senja saling melempar pandang. "Ada kunci cadangan. Biar aku ambil dulu," ucap Bumi yang segera berlalu. Tidak berapa lama, Bumi kembali dan segera memutar kunci hingga pintu itu terbuka. Arta langsung berlari memeluk Senja yang membuat Bumi pada akhirnya mampu bernapas lega.


"Arta dengan Papa dulu ya? Bunda ada urusan sebentar," pinta Senja setelah keadaan Arta cukup tenang.


"Kamu mau kemana?" tanya Bumi waspada.


"Ada yang harus aku urus." Senja menjawabnya dengan tatapan misterius.


Setelah Arta beralih ke gendongan Bumi, Senja berniat keluar dari kamar. Namun, sosok Naura tiba-tiba muncul dengan raut wajah tak bersalahnya.


Tanpa aba-aba, Senja langsung menyerang Naura. Dia menjambak rambut panjangnya hingga terdengar pekikan penuh kesakitan dari Naura. "Rasakan! Apa yang sudah kamu lakukan pada Arta? Bagaimana jika Arta kenapa-napa?" tanya Senja penuh amarah di wajahnya.


Siska datang untuk melerai. Namun, tenaganya kalah dengan lengan Senja yang berniat mencegah. "Aw! Aku baru saja menerima telepon! Aku— Aaaaargh!" Naura memekik lagi ketika jambakan di rambutnya semakin kencang.


"Siska! Tolong bawa Arta keluar," pinta Bumi agar Arta tidak melihat adegan di depannya. Setelah Arta berlalu, Bumi segera memeluk Senja dari belakang, berusaha melerai.

__ADS_1


"Tenang, Senja. Kita bisa selesaikan baik-baik. Lagi pula, kita belum tahu siapa yang telah mengunci Arta di kamar mandi!" pekik Bumi agar suara terdengar.


Senja pun melepas jambakan dan menatap Bumi nyalang. "Kamu tidak sedang membela dia kan, Mas?" geram Senja dengan gigi yang bergemeletuk.


"Bukan. Bukan begitu maksudku. Kita belum—"


"Apa? Belum apa? Hah?" tanya Senja menggebu-gebu.


Bumi pun terdiam yang membuat Senja kini beralih menatap Naura. "Pulang kamu!" usir Senja. Namun, Naura masih saja bertahan di tempatnya.


"Aku ke sini untuk menemui Mas Bumi. Bukan menemani Mbak Senja. Maaf jika kedatanganku hanya membuat keributan. Namun, aku tidak sengaja melakukannya ketika tiba-tiba ada telepon yang masuk." Kepala Naura menunduk seakan begitu menyesali perbuatannya.


Senja pun berdecih pelan. "Tidak usah sok baik kamu. Katakan! Apa maksud kedatangan kamu ke sini?" tanya Senja kasar. Bumi masih menahan kedua tangan Senja dan memeluknya erat agar Senja tidak lepas kendali lagi.


"Sebenarnya, aku ingin meminta uang lagi dengan Mas Bumi—"


"Apa! Uang? Bukannya baru seminggu yang lalu aku transfer? Itu saja sudah banyak loh?" sela Bumi tidak percaya dengan pendengarannya.


"Oooh. Jadi selama ini kalian ada main di belakangku?" tanya Senja spontan menyimpulkan.


Mendengar tuduhan itu, Bumi memejamkan mata frustasi. Kesalahpahaman yang terjadi kemarin saja belum selesai. Kini, muncul lagi masalah yang dapat menimbulkan kesalahpahaman Senja bertambah.


"Ini tidak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelaskan semua," mohon Bumi agar Senja mau mendengarkan.


Senja tersenyum getir. "Aku kecewa sama kamu, Mas." Lalu, Senja berlalu meninggalkan keduanya. Dia tidak memedulikan teriakan Bumi yang memanggil namanya.


"Pulang kamu! Kita bicarakan lagi nanti," pinta Bumi segera meninggalkan Naura. Selepas kepergian suami istri itu, Naura merapikan rambutnya. Dia tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat badai pada pernikahan yang tidak dirinya inginkan.


"Lihat saja nanti. Aku akan balas dengan yang lebih menyakitkan," ucapnya penuh dendam.

__ADS_1


__ADS_2