Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 31. Rahasia Bumi


__ADS_3

Setelah mengantar Bumi berangkat, Senja menunggu Bi Tijah dengan gelisah. Beliau sedang Senja minta untuk membelikan sesuatu di apotek depan kompleks. Dia berharap, apa yang selama ini diduga benar adanya. Oleh karena itu, dengan alat tersebut Senja akan membuktikannya.


"Bunda napa?" tanya Arta yang saat itu berniat untuk main di halaman bersama suster Siska.


Senja menoleh cepat, lalu tersenyum ketika melihat mata bulat Arta menatapnya polos. "Lagi nunggu Bi Tijah. Bunda ada titip sesuatu, Sayang. Arta mau main di luar?" Kini, dia melempar pertanyaan pada sang Putra.


"Heem, Bun. Alta main dulu," pamitnya ketika melihat Siska datang membawa mainan pistol gelembung. Senja mengangguk dan berpesan pada Siska untuk mengawasi Arta dengan baik.


Tidak berapa lama, Bi Tijah datang sambil membawa beberapa barang belanjaan. Senja tersenyum cerah lalu membantu Bibi untuk membawa belanjaan ke dapur lebih dulu. Setelah itu, dia baru menanyakan perihal pesanannya.


"Bi? Dapatkan?" tanyanya dan Bi Tijah mengangguk ramah.


"Dapat, Bu. Ini. Semoga hasilnya positif ya. Bibi sudah tidak sabar menunggu kabar baik itu," jawab Bi Tijah sambil tangannya terulur menyerahkan bungkus plastik berlogo apotek ternama.


"Bibi beli semuanya kan? Dari yang murah sampai yang mahal?" Senja bertanya sambil memeriksa isi pesanan dan ternyata tepat.


"Iya, Bu. Aman pokoknya," jawab Bi Tijah dengan senyum sumringah.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Bi. Mau langsung tes soalnya." Setelah Bi Tijah mengiyakan, Senja bergegas menuju toilet yang berada dalam kamarnya. Setelah melakukan serangkaian prosedur, kini Senja berdiri dengan gelisah di depan wastafel sambil menatap perubahan benda kecil bernama testpack.


Setelah menunggu beberapa menit, mata Senja membelalak lebar. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Lima alat kehamilan yang dia gunakan semuanya menunjukkan dua garis merah. Senja menutup mulutnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Perutnya seperti ada yang menggelitik. Sangat geli bagaikan kepakan sayap kupu-kupu.


"Aku harus segera memberitahu Mas Bumi," gumam Senja berniat mengirim foto testpack pada Bumi. Namun, sebuah pemikiran terbesit di kepala Senja dan berniat untuk memberikan kejutan ini pada sang Suami.

__ADS_1


"Aku taruh saja di kamar Mas Bumi. Setelah itu, aku bisa kirim pesan agar membuka hadiah dariku itu." Mata Senja berbinar. Dia bergegas membawa seluruh tes kehamilan itu ke kamar sebelah, dimana kamar itu dulu digunakan oleh Deandra dan Bumi.


Saat tiba di depan pintu dan memutar kenop, ternyata dalam keadaan terkunci. Kening Senja mengernyit heran. "Kenapa di kunci ya? Perasaan, setiap hari Mas Bumi selalu ke kamar ini," gumam Senja bertanya-tanya.


"Aku tanya Bi Tijah saja kalau begitu." Ketika Senja berniat untuk beranjak dari sana, kakinya seperti menginjak suatu yang menonjol di bawah keset kaki.


Senja setengah menunduk dan menggeser keset tersebut hingga sebuah kunci terlihat di bawahnya. Agak aneh menurutnya. Namun, Senja berusaha berpikir positif.


Dengan debaran jantung yang menggila, Senja memasukkan kunci pada lubangnya hingga pintu itu bisa Senja buka dengan baik. Setelah itu, Senja masuk dan kembali mengunci dari dalam.


Ketika berbalik, dunia Senja seperti berhenti berputar kala melihat masih ada beberapa foto Deandra di dalamnya. Senja seperti merasakan dejavu ketika berada di posisi sekarang.


Senja memejamkan matanya sesaat. Dia juga menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali untuk menghilangkan sesak yang kini seperti menghimpit rongga dadanya.


"Semoga, apa yang saat ini ada di kepalaku tidaklah benar." Senja berusaha meyakinkan diri untuk sedikit saja memberikan kepercayaan pada Bumi. Barangkali, Bumi belum sempat memindahkan seluruh foto Deandra di kamarnya.


Senja berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu. Jantungnya bagai berhenti berdetak ketika melihat sabun dan alat kecantikan wanita tertata rapi di sebuah rak. Hanya untuk sekedar menelan saliva pun, rasanya Senja kesusahan.


"Sebenarnya, apa yang belum aku ketahui selama ini?" tanya Senja dengan tenggorokan yang bagai tercekat.


Kakinya melangkah dengan gemetar. Semakin dekat, merek produk itu semakin jelas Senja lihat. Itu adalah produk kecantikan dengan merek yang biasa Deandra gunakan. Senja mematung di tempat. "Ini milik Deandra," gumamnya tersenyum getir.


"Kenapa Mas Bumi masih menyimpannya? Lalu, sikap yang dia tunjukkan selama ini padaku, karena apa?" gumam Senja tak terasa air matanya luruh.

__ADS_1


"Aku coba untuk tidak berpikir macam-macam. Namun, setiap hal baru yang aku temui, selalu berhasil membuatku kehilangan kepercayaan padamu, Mas."


Tidak ingin merasa bodoh lagi, Senja berjalan keluar dan menuju sebuah lemari kayu berwarna coklat terang. Dengan dada yang bergemuruh, Senja menggeser pintu lemari besar di depannya hingga seluruh pakaian terlihat.


Senja membekap mulutnya erat. Air matanya kembali luruh. Kakinya terasa lunglai dan berakhir terduduk di lantai. Tangisnya pun berubah menjadi isak sesenggukan yang begitu mengiris kalbu.


"Ternyata, hidup selama itu bersama kamu, tidak membuatku cukup baik mengenalmu. Banyak sekali rahasia yang kamu sembunyikan dariku, Mas," lirih Senja merasa kecewa.


Jadi, rasa aman dan nyaman yang selama ini Bumi berikan hanyalah semu? Benarkah jika Bumi benar-benar tulus? Mengapa rasanya begitu nyata jika Bumi begitu mencintai dirinya? Dan setelah melihat apa yang di simpan suaminya kali ini, mematahkan prasangka baik Senja.


"Pantas saja kamu tidak pernah membiarkan aku untuk tidur di kamar ini. Kamu masih menyimpan barang-barang Deandra." Sesak sekali dada Senja saat ini ketika melihat hampir seluruh lemari berisikan pakaian milik Deandra. Semua masih rapi seakan pemiliknya masih hidup.


"Bahkan, ketika kamu akan menggauli ku, kamu lebih memilih kamar tamu atau kamarku. Kenapa?" racau Senja dengan keadaan yang sudah begitu berantakan. Rambutnya sudah acak-acakan karena sejak tadi tak berhenti dijambak.


Senja menghembuskan napas kasar. Dia menunduk dan menatap perutnya yang masih rata, dimana anak Bumi tumbuh di sana. "Bagaimana ini?" tanya Senja berada di persimpangan dilema.


Rasa kasih dan cinta yang dia punya, seluruh pengabdian untuk keluarga, apakah Bumi tidak melihatnya? Kenapa Bumi masih saja ingin hidup di masa lalu? Untuk apa suaminya itu menyimpan seluruh barang Deandra sampai alat kecantikan pun dia simpan.


"Pantas saja kamu jarang mandi di kamarku. Ternyata, kamu berniat untuk mengenang Deandra dengan cara—" Senja tidak sanggup meneruskan kalimatnya.


Jahat sekali suaminya itu. Dia sadar. Tanpa Deandra, Senja bukanlah apa-apa. Namun, cintanya sudah banyak terluka selama ini. Senja tidak pernah menjadi satu-satunya di hati Bumi.


"Jadi benar jika seorang pria hanya bisa jatuh cinta sekali seumur hidup? Dan Bumi hanya sedang menjalani sisa hidupnya bersamaku? Bukan mencintaiku? Kenapa harus sesakit ini?" racau Senja penuh kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2