
Cinta? Siapa yang tidak pernah mengalaminya. Cinta sesuatu yang abstrak, bisa dirasa terkadang egois, karena mencintai ingin memiliki sepenuhnya bahkan menguasai pasangan.
__ADS_1
"Sus, kalau dirimu mau ke rumah utama, mas sudah kasih kuncinya ya", kata Yahya sebelum berangkat kerja. "Iya mas, ntar Susi kesana jalan-jalan melihat sekitar setelah selesai urusan di rumah", jawab Susi. Susi mengantar suaminya sampai di depan pintu. Ia pun berpapasan dengan Riri, yang sibuk dengan kedua anaknya. Susi pun menyapanya. "Ngantar anak Ri?", tanya Susi ramah. Riri hanya mengangguk seperti tidak menghiraukan Susi. Susi cuek saja, ia pikir Riri lagi fokus urusan mengantar anaknya ke sekolah, dan mungkin ga mau diganggu oleh dirinya. Susi pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Kemudian Susi ingat, lingkungan tempat dirinya tinggal ada 10 kontrakan, 1 diisi keluarga Riri, yang kedua keluarga Ratna, terus dirinya dan mas Yahya, sisanya 7 lainnya Ia belum pernah bertemu. Tapi kok Susi melihat seperti sudah tidak ada orang. Namun pikirannya tentang warga kontrakan terhapus dengan agenda bersih-bersih rumah. "Untung kontrakan ini kecil, jadi ga perlu lama bersihinnya. Tapi bagaimana dengan rumah sebesar rumah utama, siapa yang bersihkan rumah seluas itu?", pikir Susi. Nanti aku kesana juga pikirnya. "Apa nanti ketemu Kevin?", pikirnya lagi. "Semoga saja tidak ketemu, soalnya canggung mau bicara apa", kata Susi dalam hati.
__ADS_1
Susi pun bersiap jalan ke rumah utama, baru beberapa langkah meninggalkan rumah kontrakan Ia bertemu Riri tetangganya. "Mau kemana?", sapa Riri. "Berarti tadi pagi bukan karena Riri ga mau memperdulikan aku, tapi karen sibuk dengan urusannya sehingga tidak sempat menyapa balik", kata Susi dalam hati. Susi langsung menjawab, "Mau ke rumah utama, ikut kah?", tanya Susi. "Kau mengajak aku ya Sus?, Apa boleh?", tanya Riri. "Bolehlah, aku sudah pegang kunci rumahnya", jawab Susi. "Oke deh, tunggu ku letakkan motorku dulu ya. Baru kita pergi sama-sama", kata Riri membalas ajakan Susi. Susi mengangguk. Tidak berapa lama, Riri datang menghampiri dan mereka berdua pun pergi jalan bersama menuju rumah utama. "Sudah lama Lo Sus, aku ingin tahu seperti apa di dalam rumah utama", kata Riri. "Aku pernah masuk kesana Ri, tapi kalau mau menjelajah ya ini pertama kali. Mungkin kalau sendirian, aku bisa merasa gimana gitu", jelas Susi. "Kamu kan istri pemilik rumah, wajarlah bisa masuk", kata Riri lagi. "Sepertinya jadi istri mas Yahya iya, tapi dianggap sebagai ibu dari anak-anak mas Yahya, mereka belum bisa menerimaku", jawab Susi. Raut wajah Susi menunjukkan kesedihan. Riri memahami, mana ada orang akan berpikir baik pada seorang perempuan cantik seperti Susi memilih menikah dengan Yahya yang secara usia jauh sekali perbedaannya kalau bukan karena uang, jadi wajar saja Susi pasti akan dicap perempuan matre, maunya menikah sama laki-laki tua yang uangnya banyak. "Kalau kami perhatian dan menganggap anak-anak bapak seperti kamu memperlakukan anak-anakmu sendiri, mungkin lambat-laun sikap mereka juga akan berubah", jelas Riri. "Mungkin iya, mungkin tidak...", jawab Susi lirih. "Kita sudah sampai", kata Susi.
__ADS_1
Tiba-tiba Susi dikagetkan dengan suara Riri yang tertawa terbahak-bahak. "Kenapa Ri?", tanya Susi. "Apa tadi kubilang, halaman depannya saja kacau, dalamnya juga pasti kacau. Ternyata terbukti hahaha. PR mu banyak lo Sus", kata Riri. "Tapi kan wajar lah, yang menempati juga anak laki-laki. Ga sama rajinnya kalau anak perempuan yang menempati", jelas Susi. "Tapi rumahnya memang luas dan semuanya seandainya bersih aku bisa kasih jempol banyak sebagai rumah oke banget", kata Riri. "Maksud dari bapak memberi kami kunci ke rumah utama , ya biar kami beresin semua kekacauan ini", tambah Riri. "Bisa aja kamu Ri, anak Bapak sudah besar ya harus bersihin sendiri lah, nanti kalau aku mulai bersihin, terus-terusan jadi job aku setiap hari beberes rumah disini. Di kontrakan saja sudah banyak tugas rutin, kalau ditambah lagi rasanya ga sanggup", jelas Susi. "Tapi ini kesempatan bagus lo buat kamu", saran Riri. "Kesempatan apa?", tanya Susi. "Kesempatan pedekate sama anak tirimu, biar mereka merasakan kehadiranmu memang berguna", jelas Riri. "Memang aku asisten rumah tangga, nanti jadi kebiasaan, anak-anak Bapak bermalas-malasan, sedangkan aku jadi pembantunya", kata Susi. "Ini saranku lo ya, diterima syukur, kalo ga diterima ya ga papa", timpal Riri.
__ADS_1
"Kamu lumayan lama tinggal di kontrakan Ri, kenal dengan sosok istri bapak dulu ga?", tanya Susi. "Kenal banget sih ga, cuma memang ada beberapa kali bertemu. Beliau ramah orangnya, bahkan kalau misal membuat masakan yang banyak, senang bagi-bagi dengan penghuni kontrakan", jelas Riri. Susi terdiam. Pantas saja suaminya kalau bicara tentang istrinya dulu selalu memuji-muji, sampai-sampai Susi merasa cemburu dengan Fatma, mantan istri Yahya. "Namanya ditinggal pergi untuk selama-lamanya, Bapak sedih sekali. Kami saja sempat berpikir kalau Bapak tidak akan menikah lagi karena melihat cinta Bapak yang besar kepada istri sebelumnya. Kamu jangan marah sama Bapak Lo ya, namanya hidup berumah tangga lama dengan almarhumah pastinya punya perasaan khusus. Dan bukan bisa terhapus perasaan itu hanya dengan hadirnya orang baru. Aku ga menyindir kamu Lo Sus. Wajar Bapak masih ada rasa sayang dengan istrinya dulu. Seandainya masih ada ibu almarhum, mungkin Bapak tidak akan menikah lagi", kata Riri panjang lebar. Susi mendengarkan dengan seksama. Kalau mas Yahya begitu mencintai istrinya dulu, dan sampai sekarang pun masih teringat kebaikan-kebaikan istrinya. Ia sekarang yang jadi istrinya dianggap apa?. Apakah pengganti ataukah ia juga dicintai seperti istrinya mas Yahya dulu?. "Jangan melamun", tegur Riri. "Untung kamu menegurku Ri, kalau tidak aku sempat terpikir apakah Bapak mencintai aku karena cerita mengenai Bapak dan istrinya dulu begitu saling menyayangi", kata Susi. "Kalau bapak menikah dengan dirimu berarti Bapak sudah memilih kamu menjadi pendampingnya. Artinya ya memang suka sama kamu Sus. Dan kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, nantinya tambah kerutan. Cemburu terus dan curiga terus", kata Riri. "Ya kamu benar Ri, itu masa lalu Bapak dengan istrinya dulu. Sekarang lah yang perlu dipikirkan. Makasih", kata Susi. Riri pun mengajak Susi kalau dirinya harus sudah menjemput anak-anaknya pulang sekolah, jadi tidak bisa menemani Susi lama-lama berjalan-jalan keliling rumah utama. Susi pun berkata ingin balik ke kontrakan. Dirinya juga berani keliling rumah seluas itu sendirian. Akhirnya Susi dan Riri pergi meninggalkan rumah utama dan kembali ke kontrakannya masing-masing.
__ADS_1