
Bahagia itu harus, apalagi sudah menikah. Kalau menikah hanya mengalami penderitaan, tentunya ada yang salah. Benar salahnya harus pasangan itu yang menyelesaikan.
Kevin merasakan kebahagiaan pernikahannya, walaupun harus LDR an setelah menikah karena istrinya harus kembali ke Barabai dan melanjutkan kuliahnya yang tersisa dua tahun lagi.
"Vin, tidak terasa besok sudah mau pulang", kata Sinta. "Iya, nanti aku akan mengantar istriku yang cantik ini", jawab Kevin santai sambil menyisipkan kata pujian untuk istrinya. Sinta tersenyum. "Jangan jelalatan lo", pesan Sinta. "Jelalatan apa? Kan sudah menikah, punya istri. Artinya sudah laku", jelas Kevin. "Istri ga disamping, suami pergi kemana", jelas Sinta. "Nah ini, jangan banyak nonton drakor perselingkuhan dan pengkhianatan cinta, lalu semua pria dianggap sama. Itu cuma di drama", jawab Kevin. "Itu cerita berdasarkan pengalaman lo", kata Sinta. "Kata siapa? Itu buatan si penulis. Pintar-pintarnya penulis aja buat penontonnya seru dengan ceritanya, jadi nonton terus ", jelas Kevin. "Terus juga jadi penonton harus cerdas, mana cuma drama, mana realita", tambah Kevin. "Ceramah lagi kan?", jawab Sinta. "Kamu mencurigai suami sendiri", timpal Kevin. "Istri mah ingatin", kata Sinta. "Iya, iya, istri Kevin cuma satu, Neng Sinta atuh", goda Kevin. Tangan Kevin yang nakal mencolek istrinya, Sinta pun membalas colekan suaminya. Akhirnya pembicaraan suami istri berakhir dengan candaan. Sinta hanya bisa tersenyum dengan perkataan suaminya. Ia kalah debat kalau berbicara dengan Kevin, pasti ada saja jawaban Kevin. Tapi justru itulah daya tariknya terhadap suaminya itu.
Disisi lain rumah utama, tepatnya di rumah kontrakan, ada Yahya dan Susi yang juga sama-sama baru menikah. "Mas dengarkan apa kata orang-orang, bisik-bisik kalau istri barunya Yahya cuma mau uangnya saja", kata Susi. "Ngapain dengarkan pandiran* orang, kalau ga benar ya cuekin aja", jawab Yahya. "Ga bisa gitu, harus diselesaikan", bantah Susi. "Kamu jelasin panjang lebar sampai mulut berbuih banyak paragraf pun orang juga ga akan berhenti ngomong. Nanti juga berhenti sendiri", jelas Yahya. Istrinya Susi Masih cemberut karena tidak puas dengan jawaban suaminya, alih-alih menenangkan hatinya malah membuat kesal.
__ADS_1
"Gini maksud mas, orang yang punya mulutnya sendiri, ya mau bicara apapun terserah karena memang mulut-mulut mereka. Kita ga bisa kontrol. Solusinya diam saja dan cuekin aja. Omongan ga benar akhirnya akan berhenti juga", jelas Yahya agar istrinya tenang dan sabar. Tiba-tiba Susi bicara lucu, "Susah memang jadi orang cantik-cantik, mau ada dimana pun, ada ja yang suka komentar alias julid". Yahya tertawa. "Ooo merasa cantik ya istriku ini", ledek Yahya. "Memang ga cantikkah?", tanya Susi balik. Yahya makin tertawa. "Iya, iya , cantik, malah paling cantik sedunia", gombal Yahya. "Ada maunya", jawab Sinta. "Mau dimanjain istri", goda Yahya. Susi tersipu malu. "Sudah malam, tidur yuk", ajak Susi. "Ayuk", jawab Yahya. Malam semakin larut. Sungguh berbahagia bagi mereka yang sudah menikah, memiliki pasangan halal, untuk berbagi suka dan duka dan bisa sesurga berdua.
Pagi-pagi sekali Kevin sudah bersiap mengantar istrinya dengan naik motor ke Barabai. "Sudah mau berangkat Vin?", tanya Yahya kepada Kevin. Kevin menoleh, ternyata abahnya sudah datang dengan ibu Susi. "Iya Abah, mau antar istri pulang dulu. Nanti tiap weekend Kevin kesana bolak balik menemui Sinta, pulang-pergi Tanjung-Barabai", jawab Kevin. "Mudahan Selamat sampai tujuan", jawab Yahya. "Lah kok Abah Pagi-pagi sudah mau kemana Bah?", tanya Kevin lagi. "Mau jalan-jalan sarapan diluar", jawab Yahya. "Sinta mana?", tanya Susi. "Masih didalam, bersiap-siap", jawab Kevin. "Abah pergi duluan ya, kalian hati-hati. Jangan ngebut bawa istri", pesan Yahya. "Ga lah bah, malah rencananya bawa motornya pelan-pelan, biar nyampenya lama", canda Kevin. "Oo mau berencana begitu", terdengar celetukan suara Sinta yang sudah membawa barangnya yang akan dibawa keluar. "Hehehe...", kata Kevin. "Kevin bercanda kok Sin", kata Susi. "Iya mah, Kevin suka begitu", tambah Yahya. "Sinta ga marah kok, tenang aja Bah dan ibu Susi", kata Sinta. "Kok panggil ibu? Kalau Yahya sudah dipanggil Abah, aku juga dipanggil mama dong. Anggap seperti orangtua sendiri", pinta Susi. "Sinta belum terbiasa", jawab Kevin singkat. Kevin berusaha membelakan sikap istrinya dihadapan istri abahnya itu. Yahya merasakan dinding pembatas yang dibangun oleh Kevin itu. Sedikit banyak hubungan ayah dan anak masih belum harmonis semenjak Yahya memutuskan menikah lagi. "Tenang saja Vin, ibumu cuma ingin kalian berdua akrab", Yahya berusaha menengahi pembicaraan. "Maaf bu Susi, Sinta belum terbiasa kalau harus memanggil mama", kata Sinta pelan dan sopan. "Iya, ga papa", jawab Susi. "Semua sudah siap?", tanya Kevin kepada Sinta. "Iya sudah. Yuk berangkat!", ajak Sinta. Kevin dan Sinta berpamitan dengan Abahnya dan Susi. Kevin pun
melaju dengan motornya. Dan Yahya juga melanjutkan rencana jalan-jalan mencari sarapan pagi diluar.
"Hei Yahya", seseorang memanggil Yahya yang sedang makan. Yahya menoleh karena ada yang memanggilnya. "Ternyata kau Badrun", jawab Yahya. "Tumben ketemu disini, ngapain?", tanya Yahya. "Makan lah, habisnya mau apa", jawab Badrun. "Biasanya makan makanan istri saja. Apa istrimu ga masak? Marahan lagi ya? Sudah tua ga usahlah berantem sama istri. Damai aja, trus ngaku salah juga ga papa, asal selesai masalahnya", jelas Yahya. Badrun menutup mulut Yahya. "Kalau makan, fokus makan saja. Ga usah nyeloteh, sibuk ngurusin masalah orang lain", kata Badrun. "Siapa bilang berantem sama istri, ne istriku Tari", terang Badrun sambil memperkenalkan istrinya. "Halo, saya Yahya dan ini istri saya Susi. Salam kenal", terang Yahya. "Kirain jomblo, ga pernah bawa istri", sindirnya Badrun. "Kau beruntung ketemu istriku disini, biasanya kusimpan dirumah aja", canda Yahya. Susi hanya bisa tersenyum dengan gurauan suaminya itu. "Nanti lumutan kalau dirumah terus", balas Badrun. Tari, istri Badrun menepuk bahu suaminya, "Yah, yuk pulang ah. Nanti kalau sudah ketemu teman lalu lupa waktu ngobrolnya", kata Tari mengingatkan suaminya. "Eh iya, Yahya, nanti kita atur waktu ngobrolnya", kata Badrun sembari meninggalkan pasangan Yahya dan Susi yang masih menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Temanmu mas?", tanya Susi. "Iya, mantan teman sekantor dulu. tapi beliau sudah pur a duluan alias pensiun. Sekarang bisa santai dirumah ga sibuk dengan pekerjaan lagi", jelas Yahya. "Teman dekat ya?", tanya Susi lagi. "Iyalah, sudah seperti kaka sendiri. Baik banget orangnya, ya cuman bicaranya blak-blakan", kata Yahya. "Susah cari teman yang blak-blakan didepan kita. Sekarang banyak teman makanan sendiri", kata Susi.
"Nah kamu juga tahu", timpal Yahya. "Kita habiskan sarapan kita, habis itu pulang dan istirahat", kata Yahya.
Sementara itu, di perjalanan Tanjung-Barabai, Sinta mengajak Kevin bicara. "Vin, kamu tadi sedikit tidak sopan", kata Sinta. "Maksudnya?", tanya Kevin sambil memperlambat jalan motornya. "Waktu bicara dengan Bu Susi", jelas Sinta. "Aku bicara seperlunya, ga perlu basa-basi", jawab Kevin. "Paling tidak sopan sedikit lah", pinta Sinta. "Iya, iya, lain kali", jawab Kevin santai. Mereka pun terus menikmati perjalanan selama dua jam itu.
Note Bahasa banjar:
__ADS_1
*pandiran \= omongan