Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Kembali ke habitat


__ADS_3

Tanjung, kota yang sudah dipilih oleh Susi untuk tinggal bersama kehidupan barunya bersama Yahya.


Seperti biasa, Yahya dan Susi menjalani hari-hari seperti biasanya dilakukan. Dari Senin sampai Jumat, Yahya bekerja dan Susi jaga kandang alias di rumah. Dan Susi masih mempertahankan kerajinannya ikut merapikan halaman rumahnya dan juga rumah utama.

__ADS_1


Riri menyapa, "Sus, kamu jadi ikut yasinan RT tempat kita?". "Iya, jadi", jawab Susi. "Nanti Jumat ikut aku ya ke acara yasinan. Soalnya Jumat ini, yasinan terakhir. Biasanya akan mulai yasinan baru, nah disitu kau bisa ikut", jelas Riri. "Sip lah kalau begitu", kata Susi sambil memberikan jempol ke arah Riri.


Sekilas mata mereka berdua terhenti dan perbincangan keduanya juga terhenti. Riri dan Susi sama-sama memperhatikan sesosok laki-laki yang sangat tampan, saking terlenanya mereka sadar si pria merasa diperhatikan dari jauh. "Kau kenal Ri?", tanya Susi. "Iya, dia penghuni kontrakan juga. Kamu kan baru kenal dua orang, aku dan Ratna. Masih ada 7 penghuni lainnya", jelas Riri. "Siapa dia?", tanya Susi. "Kalau kau mau kenal, yuk kita dekati", ajak Riri. "Ga ah, malu", jawab Susi. "Kamu kan istri pemilik kontrakan, wajar lah ajak ngobrol biar kenal sama member kontrakan suamimu", kata Riri lagi. "Boleh kah begitu?", kata Susi dengan nada rendah. "Ikut aja dulu", ajak Riri. Susi pun mengikuti Riri dari belakang.

__ADS_1


tanya langsung orangnya", kata Riri lagi. Randy diam saja. Susi menengahi pembicaraan itu. "Biar mas Randy saja menanganinya, soal itu harus dijelaskan pribadi biar ga salah paham", kata Susi. Randy memandang Susi dengan penuh kekaguman.


Saat asyik berbincang, Silvi mendekat. "Ada apa nih sepertinya seru perbincangannya?", tanya Silvi. "Biasa aja", jawab Randy. "Siapa dia?", tanya Silvi sambil menunjuk kearah Susi. "Aku...", namun belum sempat Susi melanjutkan langsung kompak Riri dan Randy berkata, "Ini Susi". Riri dan Randy tertawa. "Tumben kita kompak", kata Riri. "Ini mba Susi, istrinya Pak Yahya, pemilik kontrakan kita", jawab Riri. "Bukannya istrinya baru saja meninggal? Ini istri yang mana?", tanya Silvi ketus. "Aku baru saja menikah dengan mas Yahya, jadi wajar kalau mba Silvi belum tahu", jawab Susi. "Ooo istri baru", jawab Silvi. "Iya mba", jawab Susi. "Kok mau sama Pak Yahya, kalau aku mah ogah, Khan tua, apalagi dirimu cantik?", tanya Silvi lagi. Susi menghela nafas. Dia yakin pasti banyak pertanyaan yang sama seperti ini saat dirinya memutuskan menikah dengan Yahya. "Namanya jodoh mba", jawab Susi. "Ga ada namanya jodoh-jodoh, yang ada mba Susi naksir jugalah sama Pak Yahya atau Karena Pak Yahya kaya jadi mau dinikahi?", tanya Silvi. Riri kesal dengan pertanyaan Silvi yang menyudutkan Susi, seolah-olah pilihan Susi menikah dengan Pak Yahya karena Susi adalah perempuan matre atau mata duitan. "Kamu jangan keterlaluan Sil, baru ketemu kamu sudah begitu", kata Riri. "Ga papa Ri, biar mba Silvi ga berpikir macam-macam. Wajar karena ga kenal jadinya mikir seperti itu", jawab Susi. Susi berusaha tenang menjawab pertanyaan Silvi. "Jadi yang benarnya menurut mba Silvi, perempuan seperti saya pantasnya menikah dengan mas Randy, dan bukan dengan Pak Yahya. Apa seperti itu?", tanya Susi balik. Silvi gelagapan, dia tidak menyangka kalau Susi akan mulai menyudutkannya. "Ya ga mungkinlah mba Susi menikah dengan mas Randy, mas Randy sudah ada perempuan yang disukainya, iya kan mas?", tanya Silvi ke Randy. Randy yang sudah selesai membersihkan motornya pun berdiri dan menjawab pertanyaan Silvi dengan lantang. "Sil, mau itu mba Susi atau perempuan manapun, mas Randy ga akan suka. Karena mas sudah punya perempuan yang mas cintai, istri dan anak mas. Karena mereka ga ikut tinggal mas disini, bisa jadi banyak perempuan disini yang mengira mas ini masih jomblo", jawab Randy tenang. Riri hampir saja mau cekikikan tertawa, namun Susi langsung mencubit tetangganya itu. "Mas Randy sudah menikah?", tanya Silvi. "Tapi mas ga pakai cincin perkawinan?", tanya Silvi lagi. "Apa perlu laki- laki yang sudah menikah harus memakai cincin kawin, bagi mas bukan cincin yang menjadi bukti seorang laki-laki sudah menikah atau bukan, tapi komitmen di terhadap pasangannya. Jadi, walaupun mas dengan istri dan anak jauh, mas tetap akan menjaga sikap mas sebagai suami dan ayah yang baik", jelas Randy. Silvi terdiam. "Kirain Silvi tadi ...", namun Silvi tidak melanjutkan perkataannya. "Kamu masih mengira Randy single kan?",. tanya Riri. Silvi mengangguk. "Ganteng gini siapa yang ga naksir, sekali lihat juga tahu", kata Susi. "Hush, jangan sampai Pak Yahya dengar Lo kalau dirimu muji pria lain, sampai bilang ganteng lagi", kata Riri. Silvi tertawa, "Berarti Silvi yang salah kira mas Randy masih sendiri, karena ga pernah lihat ada perempuan yang dekat mas Randy", kata Silvi. "Terus kamu kira aku perempuan nya kah?", tanya Susi. "Kamu tu istri Pak Yahya, masa diduga istri Randy", jawab Riri lagi. "Kan tadi Silvi beranggapan, aku ga cocok dengan Yahya, harusnya dengan Randy kah?", tanya Susi lagi seperti serangan balik ke Silvi. Silvi pun malu, ia merasa tadi sudah keterlaluan karena terbawa emosinya sendiri. Sekarang, Silvi malah merasa ia harus menghadapi perasaannya sendiri, ternyata menyukai Randy diam-diam hanya menyakiti perasaan sendiri saja, setelah tahu Randy sudah berkeluarga. "Maaf mba Silvi, saya tidak bermaksud begitu. Cuman bingung saja, mba cantik, pastinya pilih yang ganteng. Tapi kok malah ya g tua tapi kaya?", tanya Silvi. "Ini bukannya menyindir mba loh ya", jawab Silvi lagi. "Aku paham kok, aku menikah dengan Yahya, Karena mas Yahya baik dan laki-laki yang bisa memperlakukan perempuan bagaimana seharusnya", jawab Susi. "Semoga benar apa yang mba Susi ucapkan", jawab Silvi dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. "Kamu jangan masukkan dalam hatinya Sus perkataan Silvi", kata Riri. "Santai saja, aku mulai terbiasa dengan pendapat orang seperti itu", jawab Susi. Randy hanya bisa melihat Susi, walau Susi berusaha tenang, ia tahu kalau Susi sebenarnya ga senang kalau dianggap perempuan matre. "Perempuan matre ga salah kok, namanya juga perempuan suka shopping", kata Randy memecah kesunyian. Riri langsung nyeletuk, "Sayang mas Randy sudah beristri, kalau tidak aku bisa naksir Lo". "Riri bisa aja bercanda", jawab Randy. Susi tersenyum. Susi pun mengajak Riri pulang bersama. Mereka pun meninggalkan Randy yang sudah membersihkan motornya. Randy pun memandangi mereka berdua yang pergi meninggalkannya. Seketika itu Randy lalu merasa kangen sama istri dan anaknya. "Andai istri dan anaknya mau tinggal disini", kata Randy di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2