
Berbeda halnya dengan Senja yang hidup tenang, Bumi justru kelimpungan tak karuan. Waktunya tidak banyak untuk bisa menyelamatkan istrinya. Seluruh keluarga sudah tahu masalah ini dan hampir semuanya menyalahkan Bumi.
Tidak masalah. Semua terjadi karena kesalahannya sendiri. Hanya Regi yang mungkin bisa berpikir dewasa atas masalah yang sedang di hadapi. Pak Adhi walau terlihat kesal, tetap membantunya untuk mencari keberadaan Naura.
"Papa akan coba lacak keberadaan Naura. Papa juga sudah hubungi Theo dan katanya, Naura sudah lama tidak pulang ke rumah," beritahu pak Adhi sambil mengotak-atik laptop di depannya. Bu Resti dan Bu Sonia yang panik, kini sedang mondar-mandir dengan gelisah.
"Aku akan ke sana saja, Pa. Aku mau cek sendiri apa Naura benar-benar tidak ada di rumah," ucap Bumi segera menyambar kunci mobilnya.
Pak Adhi ingin mencegah, tetapi Regi segera menengahi. "Apa yang Mas Bumi katakan benar, Om. Biar Mas Bumi cek dulu barangkali mereka berbohong. Aku akan temani. Aktifkan ponsel Om dan hubungi bila ada informasi baru," ucap Regi yang pada akhirnya membuat Pak Adhi mengangguk menyetujui.
Pada akhirnya, Bumi dan Regi benar-benar pergi ke rumah Pak Theo pagi-pagi sekali. Hal itu memicu tanya untuk Pak Theo dan Bu Vera.
"Bumi?" sapa Pak Theo heran ketika melihat wajah panik mantan menantunya. Bu Vera hanya diam mengamati kedatangan Bumi dan Regi.
"Om? Bisa beritahu aku dimana Naura sekarang? Aku tidak punya banyak waktu," ucap Bumi tergesa-gesa.
"Tenang dulu. Ini, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu mencari Naura sampai panik seperti ini?" Bu Vera kini giliran bertanya. Berharap jika saat ini Bumi sedang merasa khawatir pada putrinya. Dengan begitu, beliau memiliki harapan untuk dapat menantu kaya lagi.
"Aku ada urusan dengan dia," jawab Bumi tidak ingin basa-basi.
Pak Theo menunduk dalam, sedangkan Bu Vera hanya diak dengan mata yang mengerjap pelan. "Sebenarnya, Naura sudah lama tidak pulang. Namun, saya masih ingat terakhir kali Naura pamit itu ingin ke rumah temannya. Saya juga sudah coba hubungi, tetapi nomornya tidak aktif."
Mendengar itu, Bumi menghela napas kasar. "Tante tidak sedang menyembunyikan putri Tante kan?" cecar Bumi menuduh.
Bu Vera menggeleng cepat. "Tidak. Dia pulang saat akan memberiku uang. Namun, Naura pernah bercerita jika dia memiliki kekasih." Kepala Bu Vera berputar untuk mengingat dimana rumah kekasih dari putrinya itu.
Namun, dering panjang di ponsel Bumi, mengalihkan perhatian semua. Ketika melihat siapa nama penelepon, mata Bumi membelalak tak percaya. "Naura meneleponku!" pekik Bumi antusias.
__ADS_1
...----------------...
Di sinilah Bumi berada. Di depan rumah yang terletak di kawasan perumahan elit. Naura menelepon jika dia ada di sana. Mungkin karena Naura belum tahu jika tujuannya mencari perempuan itu untuk menyerahkan pada orang lain.
Oleh karena itu, perempuan itu membuka gerbang dengan senyum merekahnya. "Mas Bumi sedang mencari ku? Kenapa?" tanyanya senang.
Bumi mengangguk dan berusaha mengulas senyum agar tidak membuat kecurigaan. Biarlah dia kali ini berbohong demi bisa menyelamatkan Senja. "Bisa ikut aku? Ada hal yang ini aku katakan," pinta Bumi berusaha merayu.
Naura tersenyum manis. Tampak sekali kebahagiaan terpancar di wajahnya. Benar kata Senja jika Naura tampak menunjukkan gelagat tertarik padanya. "Boleh. Aku akan ambil tadi dulu ya," jawabnya laku berlari kecil memasuki rumah.
Entah rumah siapa itu. Namun, Naura patut dicurigai. Sedang apa dia di sini jika itu bukan rumahnya? Tidak berapa lama, Naura muncul dan Bumi segera mengajaknya untuk masuk ke mobil.
Ketika telah duduk kursi penumpang samping kemudi dan seluruh pintu mobil telah terkunci, Regi baru mengeluarkan suara. "Hai, Kakak," sapanya membuat Naura menoleh terkejut.
"Bumi? Siapa dia?" tanyanya heran.
Naura mengangguk polos. Regi yang berada di jok belakang terkekeh pelan melihat tingkah Naura itu. Lalu, mobil pun melaju membelah jalanan. Regi adalah orang yang bertugas untuk menghubungi Jovan tentang Bumi yang sudah membawa Naura ikut.
Oh iya. Papanya lah yang telah membuat Naura pada akhirnya menghubungi Bumi lebih dulu. Entah sandiwara apa yang papanya lakukan hingga dengan mudah Naura luluh.
"Mas?" panggil Regi yang hanya dijawab dengan sebuah gumaman oleh Bumi.
"Kita ke apartemen ini kan?" tanya Regi yang sebenarnya memberi kode pada Bumi untuk melajukan mobil menuju alamat yang sudah dikirim oleh Jovan.
"Iya. Kita ke sana," jawab Bumi mengerti kode dari Regi.
"Mau temani aku untuk ke apartemen dulu kan?" tawar Bumi yang segera diangguki oleh Naura.
__ADS_1
"Dengan senang hati."
Entahlah. Bumi tidak tahu mengapa Jovan memintanya untuk membawa Naura ke apartemen. Beruntung, Regi ikut bersamanya. Dengan begitu, dugaan buruk tidak berlaku untuknya.
Tidak berapa lama, ketiganya tiba dan Bumi memasukkan mobil ke basement seolah-olah dia tinggal di sana. "Kita naik," ajak Bumi sambil melempar senyum manisnya.
Naura tak kalah lebar dalam melemparkan senyum. "Sebenarnya mau berbicara apa sih? Sepertinya sangat penting?" tanyanya tanpa menaruh curiga sedikitpun.
"Sangat penting. Ini tentang masa depan kita," ucap Bumi tidak sepenuhnya berbohong. Demi masa depannya bersama Senja juga. Regi yang mendengar itu, menggelengkan kepalanya pelan. Kakak iparnya itu rela melakukan apapun asalkan bisa mendapatkan kakaknya.
Ketika tiba di depan kamar, Bumi tidak tahu kata sandi untuk masuk ke ruangan. Regi dengan sigap maju dan menekan beberapa digit angka.
Setelah masuk, tidak ada yang mencurigakan. Naura juga masih terlihat santai. Hingga ketika ketiganya telah duduk, bel apartemen berdenting. Bumi dengan sigap berdiri dan membukakan pintu.
Ketika pintu itu terbuka, yang datang bukan sesuai harapan. Hanya Jovan dan Senja tidak ikut bersamanya. "Dimana Senja?" tanya Bumi geram.
Mendengar itu, Jovan berdecak sebal. "Nih. Masuk ke apartemen nomor 88. Adik Senja sekalian kamu tunggu. Nah, itu dia sudah keluar," ucap Jovan menatap ke dalam dimana Regi sedang mendekati pintu masuk.
"Dia di dalam kan?" tanya Jovan tersenyum misterius.
Bumi mengangguk saja. "Urusan kita selesai ya?" tanya Bumi yang segera mendapat anggukan kepala dari Jovan.
"Makanya, lain kali jangan jadi sok pahlawan. Untung istrinya cantik. Jadi, aku nggak berani berbuat jahat." Setelah berucap demikian, Jovan menutup pintu dan masuk untuk mencari keberadaan Naura.
Ternyata, perempuan itu sedang duduk di sofa dengan santainya, seperti tanpa beban. Namun, ketika melihat Jovan datang, wajahnya seketika panik dan menegang.
"Kok kamu? Dimana Mas Bumi?" Seketika itu juga Jovan tersenyum miring, membuat Naura bergidik ngeri dan ingin keluar dari sana. Namun, semua sudah terlambat. Dia baru sadar jika Bumi hanya sedang menjebaknya.
__ADS_1