
Pagi itu, Bumi melihat Senja yang sedang berkutat di dapur. Padahal, hari masih begitu pagi. Dia tersenyum. Awal hari yang indah menurut Bumi. Beruntungnya Bumi memiliki istri yang kesabarannya seluas samudera. Definisi dicintai dengan baik oleh sang Istri memang membahagiakan.
Belum lagi, daster rumahan yang panjangnya di atas lutut tanpa lengan, kini membalut tubuh indah itu, membuat Bumi tak kuasa menahan gejolak di dalam dadanya saat ini. Bumi menelan saliva. Setelah itu, dia berjalan mengendap agar kehadirannya tidak diketahui oleh Senja.
Langsung saja, Bumi mengulurkan kedua lengan melewati pinggang ramping Senja, lalu mendekap perut sang Istri penuh kelembutan. "Selamat pagi, Sayang," sapanya tepat di daun telinga Senja, membuat perempuan yang saat ini dalam pelukan, berjengit kaget dan melotot tajam.
"Mas! Aku kaget!" kesalnya sambil memukul lengan Bumi kencang. Namun, sekencang apapun pukulan Senja, hal itu tidak membuat Bumi kesakitan. Justru, Bumi tertawa karena telah berhasil mengerjai istrinya.
Hal itu membuat Senja kesal hingga sebuah cubitan mendarat si pahanya. Bumi mengaduh kesakitan sambil meringis. "Aduh! Sakit, Sayang. Kenapa kasar gitu sih?" Senja hanya mengendikkan bahu.
Bumi tersenyum lalu menumpukan dagu di bahu Senja dengan begitu nyamannya. "Masak apa, Bunda Sayang?" Pertanyaan itu sontak membuat bahu Senja bergetar. Ketika kepala Bumi melongok, ternyata Senja sedang menahan tawanya agar tak meledak.
"Kenapa sih?" tanya Bumi heran.
Senja kini berbalik untuk bisa menatap sang Suami. Setelah saling pandang, Senja mencubit hidung Bumi gemas. "Sejak kapan mulai panggil Bunda? Perasaan, semalam masih Senja deh."
Bumi semakin menarik pinggang Senja untuk merapat. "Sejak tadi. Papa berencana mulak hari ini, Bun," jawab Bumi seketika membuat Senja terkekeh geli.
"Kok geli ya, dengarnya," ejek Senja yang membuat bibir Bumi cemberut.
"Itu karena belum terbiasa saja. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan panggil dengan sebutan Bunda." Lalu, Bumi membalik tubuh Senja agar kembali menghadap kompor.
"Tuh, hampir matang dagingnya, Bun," tunjuk Bumi pada panci berisi daging ayam.
Suasana hangat di pagi hari itu berlangsung lama sampai tiba sarapan. Bi Tijah yang sejak tadi mondar-mandir melewati kedua atasannya, hanya bisa pura-pura tidak melihat. Bi Tijah ikut bahagia atas keharmonisan keduanya. Beliau berharap, semoga kebahagiaan selalu menyertai keduanya. Walau masalah selalu hinggap, semoga dapat diselesaikan tanpa harus berpisah.
"Nanti sore siap-siap ya. Setelah pulang dari kantor akan aku jemput," ucap Bumi sesaat setelah Senja mencium punggung tangannya dan mengantar sampai teras.
"Mau kemana memangnya?" tanya Senja dengan kening berkerut dalam.
__ADS_1
Bumi terdiam sambil menatap manik dalam milik Senja. "Bolehkah aku mengajak kamu dan Arta ke panti asuhan?"
Senja mengerjapkan mata untuk mencerna kalimat yang baru saja terlontar. Namun, sedetik kemudian senyum Senja terukir sempurna. "Boleh kok. Aku akan ber siap-siap begitu juga Arta," jawabnya bahagia.
"Ya sudah. Kalau begitu aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik," ucap Bumi lalu mendekat untuk mengecup kening Senja lembut.
Sampai mobil Bumi menghilang, Senja masih saja terpaku di tempatnya berdiri. Adegan barusan membuat saraf-saraf dan persendian Senja tak berfungsi dengan baik. Senja menarik napas lalu menutup wajahnya malu.
"Mengapa pipiku panas sekali?" gumam Senja lalu segera masuk ke rumah untuk menemani Arta bermain. Baginya, menghabiskan waktu bersama putranya adalah hal yang sangat berharga.
Ketika sore hari tiba, Senja dan Arta sudah siap dengan pakaian rapi. Senja memilihkan Arta pakaian hangat karena di panti udaranya lumayan dingin. Begitu juga Senja yang sudah mengenakan dress berwarna hijau zaitun berlengan panjang, yang begitu cocok untuk kulit putihnya.
Keduanya sama-sama menunggu di ruang tengah sambil menyalakan televisi yang menayangkan film dua bocah kembar botak. Arta tampak serius menyaksikan, yang membuat Senja gemas dan mengacak rambut sang Putra.
"Arta suka film itu ya?" tanya Senja menatap layar televisi lalu beralih pada Arta. Bocah itu mengangguk antusias.
"Alta cenang, Bun. Lucu," jawab Arta tanpa mengalihkan pandangan.
Arta mengangguk dan mematikan televisi dengan remote kontrol. "Ayo, Bun," ajaknya antusias.
Senja mengangguk dan ikut bangkit. Bersamaan dengan itu, sosok Bumi muncul dari balik sekat dengan senyum yang merekah. Namun, gurat lelah di wajahnya tidak bisa membohongi Senja.
"Capek ya, Mas? Mau bikin teh dulu tidak?" tawar Senja cukup khawatir.
Bumi melihat Arta sedang menatapnya dengan polos, seperti begitu antusias untuk segera berangkat. Hal itu membuatnya tidak tega. "Buatkan di termos saja bagaimana? Aku minum di jalan nanti," tanya Bumi meminta pendapat.
Senja mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku buatkan dulu kalau begitu. Mas dan Arta ke mobil dulu tidak apa-apa," jawab Senja segera berlalu menuju dapur.
Tidak berapa lama, Senja menyusul dengan membawa teh hangat untuk suami tercinta. Ketika membuka kursi penumpang bagian depan, tidak ada Arta di sana. Senja segera masuk dan menoleh ke belakang. "Loh, Arta tidak mau duduk di depan?" tanyanya heran.
__ADS_1
Arta menggeleng. "Alta mau tidul. Anti lau dah campe bangunin Alta ya, Bun."
Senja terkekeh lalu tangannya terulur untuk mencubit pipi Arta lembut. "Ini sudah sore. Boboknya bisa ditahan dulu kan, Sayang?" pinta Senja lembut.
Arta yang semula berniat untuk membaringkan tubuh, seketika bangkit dan mengangguk patuh. "Iya, Bun."
Bumi yang melihat pemandangan itu, mengulum senyum bahagia. "Mana teh Papa, Bun?" tanya Bumi sambil menatap Senja sekilas. Bibirnya tak berhenti mengulas senyum.
Senja mengulurkan termos pada Bumi. Setelah meminumnya, Bumi baru menjalankan mobil menuju tempat tujuan. Sepanjang perjalanan, mobil diisi oleh percakapan Senja dan Arta hingga tiba di tempat tujuan.
"Bunda dulu tinggal dicini?" tanya Arta dan Senja mengangguk cepat.
"Iya, Sayang. Yuk turun."
Ketiganya memutuskan turun dan melihat-lihat sekitar. Belum berapa lama di sana, Arta mulai akrab dengan anak-anak lainnya dan bermain bersama. Senja tersenyum begitu juga Bumi.
"Masuk dulu yuk, Mas!" ajak Senja dan Bumi mengangguk. Sebelum berlalu, Senja sempat menitipkan Arta pada adik pantinya yang sudah duduk di bangku SMA.
"Selamat sore, Ibu," sapa Senja ketika melihat Bu Wening menyambut kedatangannya bersama Bumi.
"Eh. Ada Senja dan Pak Bumi. Ayo, silahkan masuk," sambut beliau sambil membuka pintu ruangannya lebar.
Ketika telah duduk di sebuah kursi rotan, Pak Andrian muncul dari dalam dengan raut wajah yang begitu terkejut. "Senja?" Kemudian, Pak Andrian menatap Bu Wening dengan raut wajah yang sulit terbaca.
Setelah Bu Wening mengangguk, Pak Andrian baru membuka suaranya lagi. "Eh! Ayo silahkan duduk." Dan Senja menangkap raut yang sedikit berbeda. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan mengenai dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa dukungannya ya..
__ADS_1
Tenang. Aku baca komen kalian kok🥰, dan itu buat aku senyum2 sendiri. Maaf ya, karena nggak bisa balas satu per satu🙏