Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 26. Ini?


__ADS_3

Hari berlalu. Senja sudah lupa pada wanita yang mengaku sebagai ibunya. Mungkin, karena sosoknya belum membekas sedikitpun di hati Senja.


"Jangan banyak melamun. Mikir apa sih, Nja?" tanya Bu Sonia yang kebetulan sedang berkunjung ke rumahnya.


Senja menggeleng lalu mengulas senyumnya. "Tidak ada, Ma. Arta masih di belakang, Ma?" tanya Senja mengalihkan pembicaraan.


Bu Sonia mengangguk dan enggan membahas sesuatu yang tidak ingin Senja bahas. Beliau mendekat dan melihat berbagai makanan telah terhidang di atas kabinet.


"Kamu jadi masak banyak gara-gara ada Mama dan Papa yang mau berkunjung. Maafkan Mama ya. Mama jadi merepotkan," ujar Bu Sonia lagi merasa tidak enak hati.


Mendengar hal tersebut, Senja terkekeh pelan. "Justru aku senang bisa masak banyak sekalian, Ma. Biasanya, aku masak sedikit yang penting cukup untuk makan bertiga."


"Hebat kamu loh. Mama bangga punya menantu seperti kamu yang mengurus Bumi dan Arta dengan baik. Terimakasih ya, Nja." Bu Sonia berucap penuh rasa haru menatap Senja. Hal itu kembali membuat Senja terkekeh sekaligus tersipu.


"Kan, sebagai istri memang harus mengurus anak dan suami dengan baik, Ma. Aku bahagia bisa melayani suamiku dan menyayangi Arta. Bila masih melihat senyum di bibir mereka, duniaku akan tetap baik-baik saja," jawab Senja dan Bu Sonia dibuat takjub berkali-kali.


Tidak berapa lama, suara deru mobil terdengar dari teras belakang. Bu Sonia meminta Senja untuk menyambut kepulangan Bumi dan beliau yang akan menata seluruh makanan ke meja. Saat ingin protes, Bu Sonia kembali memaksa dan meminta Senja untuk menurut saja.


Pada akhirnya, Senja menunggu Bumi di depan pintu. Ketika sosoknya muncul, Senja mengulas senyum dan mengambil alih tas kerja yang sedang ditenteng suaminya. "Bagaimana hari ini?" tanya Senja yang tak kunjung menemukan jawaban karena saat ini Bumi justru terdiam menatap dirinya.


"Mas? Kamu kenapa? Semua baik-baik sa—mmph"

__ADS_1


Belum sempat Senja menyelesaikan kalimatnya, Bumi sudah membungkamnya dengan sebuah ciuman. Sangat lembut dan basah. Membuat saraf-saraf yang ada di tubuh Senja seperti gagal berfungsi untuk sesaat.


Senja berusaha mendorong tubuh Bumi karena bagaimanapun, ada mama mertuanya saat ini. Namun, setiap sentuhan di bibirnya membuat Senja lunglai dan tak berdaya.


Mungkin Bumi kesal karena selalu di dorong hingga kini menjauhkan diri dengan raut tak bersahabat. "Kenapa sih?"


Senja menggigit bibir bawahnya lalu menunjuk ke belakang dimana ibu mertuanya sedang menata makanan. Ketika Bumi menoleh, dia mendapati sang Mama sedang terpaku di tempat dengan kedua tangan yang masih memegang panci.


"Untung sup di tangan Mama tidak tumpah," celetuk Bu Sonia setelah berhasil menyadarkan diri.


Bumi seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Eh, ada Mama," ucapnya ingin menghilang dari muka bumi saja.


Malam sudah tampak pekat memeluk langit yang hari itu tak bertabur bintang dan berhias bulan. Suasana sudah terasa sepi hingga yang terdengar hanyalah detak jantung dua insan yang baru saja menyelesaikan satu babak pergulatan panjang dan panas, seakan tidak ada lagi hari esok.


Keringat tampak bercucuran dari tubuh masing-masing. Namun, aroma itulah yang membuat keduanya kini saling memeluk. "Apa ada yang sakit?" lirih Bumi sambil menyeka keringat di kening Senja.


Senja hanya menggeleng karena masih menikmati sisa-sisa denyutan yang tubuhnya rasakan. Bumi telah membuatnya gila akan sentuhan dan setiap hentakan yang pria itu lakukan.


Ketika teringat bagaimana liarnya diri, seketika itu juga Senja merasa malu dan menyembunyikan wajah pada dada bidang di depannya.


"Kamu ... sejak kapan belajar di atas?" Pertanyaan Bumi itu terlalu ambigu hingga membuat Senja bingung.

__ADS_1


"Hah? Maksudnya?" Sedetik kemudian, Senja tersadar lalu memukul lengan Bumi kencang.


"Jangan bahas itu. Aku malu!" kesal Senja segera menutupi wajahnya yang sudah memerah. Hal itu membuat tawa Bumi meledak. Senang sekali bisa menggoda sang Istri.


Beberapa menit berlalu, hening menyergap keduanya. Hingga Senja teringat akan sesuatu yang pernah dia lihat di lengan Bumi. Senja mengangkat kepala demi bisa menatap wajah Bumi, untuk memastikan jika saat ini suaminya masih terjaga.


"Kenapa, Sayang?" tanya Bumi dengan raut tengilnya.


"Mau lagi?" Seketika itu tangan Senja kembali melayang untuk memukul dada Bumi.


"Aku mau tanya boleh?" ucap Senja membuka pembicaraan.


"Tanya saja. Aku bakal jawab kalau bisa."


Senja terdiam sejenak sebelum mengambil lengan Bumi yang saat itu tidak tertutup apapun. Jari telunjuknya menyentuh sebuah tatto yang bertuliskan nama yang sangat Senja ketahui orangnya.


'DEANDRA'


"Ini?" tanya Senja tidak tahu harus bertanya dengan kalimat seperti apa.


Helaan napas kasar pun terdengar. Bumi terdiam menatap lengannya sendiri. "Kamu tidak suka? Ingin aku menghapusnya?" tanyanya lembut.

__ADS_1


__ADS_2