
Tidak terasa waktu berlalu, hari-hari terasa cepat. Dulu yang biasanya sendiri, sekarang sudah ada istri. Kalau mau jalan, sekarang sudah ada temannya. Sempurna hidupku. Namun kebahagiaan itu belum lengkap, karena anak-anakku belum menerima pernikahan aku dan Susi.
__ADS_1
"Mas, Kevin sepertinya susah untuk berdamai denganku. Apa mas sudah bicara dengannya?", tanya Susi. " Belum, tapi mas memang ada rencana untuk bicara dengannya dalam waktu dekat ini", jawab Yahya. "Semoga saja waktu itu tiba, dan situasi canggung ini berakhir", kata Susi. Yahya pun mengangguk. Dirinya mengerti bagaimana perasaan istri dan juga dirinya yang kaget dengan sambutan atas pernikahan mereka. Ada yang maklum dengan pernikahan ini, namun ada juga yang tidak bisa menerima. Semuanya butuh proses. Aku dan Susi pun masih berproses untuk saling menyelami pribadi masing-masing, mengingat proses perkenalan yang begitu singkat.
__ADS_1
Susi pun keluar rumah, melihat sekeliling rumah kontrakan. Areal kontrakan yang ada memang cukup luas. Sekilas terlihat seperti komplek perumahan karena didalamnya terdapat 10 buah rumah yang dikontrakan. Semua ada penghuninya, tapi Susi belum pernah ketemu dengan semua penghuni. Saat berpikir apakah sebaiknya dia mengenal dulu para penghuni kontrakan, Susi terhenti saat Riri, tetangga di sebelah kontrakan menyapa. "Bu Susi", sapa Riri. " Iya", jawab Susi. "Bu Susi ga mau kumpul-kumpul sama ibu-ibu komplek sini?", tanya Riri. " Memang ada?", sanggah Susi. "Adalah, disini ada acara disebut yasinan, kumpul-kumpul pengajian khusus untuk RT sini", jelas Riri. " Tapi belum selesai lagi putarannya, jadi dirimu sebagai member baru belum bisa bergabung. Harus menunggu putaran member selesai", jelas Riri lagi. "Ya, kalau putarannya sudah selesai, kamu kasi tahu aja aku. Aku mau ikut, sekalian biar bisa bersosialiasi dengan warga sini", kata Susi. Susi bertanya lagi, " Kapan ya aku bisa berkenalan dengan penghuni kontrakan disini? Biar kenal akunya". "Agak susah Bu Sus, soalnya rata-rata mereka pekerja tambang. Pergi pagi, pulangnya sudah sore menjelang Magrib. Terus mereka ga bawa istri untuk tinggak disini. Kebanyakan bukan asli Tanjung. Jadi, yang bisa ibu bisa ajak ngobrol ya cuma ada dua orang, aku dan satu lagi temanku disini juga", jelas Riri. "Pantas, keluar melepas suami kerja ga pernah ketemu. Ternyata sudah berangkat duluan. Dan lagi laki-laki pasti lebih enak temannya sama laki-laki juga", kata Susi. " Nah itu, kalau mau banyak teman, harus perbanyak wilayah", jelas Riri. "Iya, namanya juga masih baru disini. Masih tahap penyesuaian", kata Susi lagi. Mereka berdua berbicara panjanh lebar. Susi merasa paling tidak dirinya punya kenalan, dan untungnya disebelah dirinya tinggal alias tetangganya sendiri.
__ADS_1