
Senja memegang perutnya yang terasa kenyang. Dia telah berhasil menghabiskan satu porsi bubur ayam, kentang goreng, pudding, dan susu yang Jovan beli khusus untuk ibu hamil. Jika selama satu minggu Senja tinggal di sana, sudah dipastikan akan mengalami kelebihan berat badan.
"Lapar apa rakus sih?" ejek Jovan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Maklum. Sejak kemarin sore cuma kemasukan jus jeruk. Itu pun diberi obat tidur. Anggap saja sarapan pagi ini untuk mengganti makanan yang telah lewat." Senja mengibaskan tangan, merasa tak memiliki beban.
Hal itu membuat Jovan berdecak. "Hamil berapa bulan sih?" tanyanya penasaran.
Senja tersenyum lebar. "Mau tahu aja, atau mau tahu banget?"
Helaan napas kasar pun terdengar. Sejak tadi, Jovan merasa heran pada diri sendiri. Bukankah niat awalnya untuk menculik Senja? Lalu, kenapa dia harus kasihan pada ibu hamil di depannya? Dia memang tidak berbakat dalam urusan kriminal.
Dengan adanya Senja di sini setidaknya, suami Senja akan memenuhi tanggungjawab untuk membawa Naura kembali. Senja hanyalah umpan.
"Oh ya. Kemarin kamu bilang, katanya Mas Bumi menolong Naura? Kapan? Dimana? Kok aku nggak pernah tahu ya?" Kening Senja mengernyit, coba mengingat-ingat barangkali lupa. Namun, memang Bumi tidak pernah bercerita.
Jovan pun mulai bercerita awal mulai dia berurusan dengan Bumi. Malam itu, Jovan telah berhasil menangkap Naura dan mengurungnya di sebuah ruangan. Namun, Naura berhasil kabur ke tengah jalan dan memberhentikan sebuah mobil yang masih Jovan ingat nomor kendaraannya.
Dia mencari tahu dan menemukan informasi jika Bumi memiliki istri. Hal itu Jovan gunakan untuk mengelabuhi Bumi agar mau menyerahkan Naura tanpa dia harus repot-repot mencari.
"Jadi begitu." Senja menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah berhasil mencerna penjelasan dari Jovan.
"Lalu, kenapa kamu mengurung Naura? Pasti ada hal yang memicunya bukan?" tanya Senja mulai penasaran.
__ADS_1
Kalau dilihat-lihat, wajah Jovan bukanlah tipe penjahat. Justru terkesan seperti bos muda yang mempesona. Namun, Senja tidak tertarik sama sekali.
"Dia menipu adikku dan menguras isi rekeningnya. Apalagi, adikku kini seperti orang linglung. Keluarga terpaksa membawa adik ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan yang tepat," jelas Jovan panjang lebar yang membuat mata Senja membelalak.
Mulutnya menganga lebar, tidak percaya dengan pendengaran kali ini. "Menipu? Kok bisa? Apa adik kamu berteman dekat dengan Naura?" Dan Jovan mengangguk sebagai jawaban.
"Yang membuat aku heran, kekasih adikku itu kini menjalin hubungan dengan perempuan tidak punya harga diri itu. Tidak ada bukti yang bisa menjerumuskan keduanya untuk masuk jeruji besi," sambung Jovan lagi.
Jovan lalu mendongak dengan sorot mata penuh dendam dan berkata. "Oleh karena itu, aku ingin membalaskan rasa sakit yang adikku rasakan. Dia harus gila seperti adikku."
Senja menelan saliva. Cukup ngeri melihat raut wajah Jovan kali ini. Yang bisa Senja lakukan adalah menepuk pelan bahu Jovan untuk menenangkan. Dia tidak mau menasehati banyak hal tentang ini dan itu. Tentang yang boleh dan tidak.
Senja tidak ada di posisi Jovan, sehingga dia tidak mengetahui bagaimana perasaan laki-laki di sampingnya. Namun, reaksi Jovan justru menepis tepukan itu. "Kotor. Tanganmu belum cuci tangan," kesal Jovan sambil meringis risih.
"Eh. Memang, kalau ibu hamil nggak mual muntah ya?" tanya Jovan penasaran setelah beberapa saat keheningan menyergap.
Senja juga sama herannya. Bukankah kemarin pagi dia masih mual dan muntah? Lalu, kenapa pagi ini perutnya aman-aman saja? Senja menunduk dan mengelus perutnya lembut. "Jadi, dedek maunya Bunda makan bubur ayam di pagi hari ya?" monolog Senja seakan sedang berbicara dengan bayi dalam kandungan.
"Baiklah. Besok lagi Bunda akan makan bubur kesukaan dedek."
Jovan yang mendengar itu, seketika menunjukkan raut wajah heran. Merasa aneh dengan tingkah ibu hamil di hadapannya. Sedetik kemudian, matanya berbinar. "Oh. Aku tahu. Mungkin, karena sarapan pagi ini dedek bayi melihat Om tampan. Biasanya mual kan? Pasti akan mual lagi kalau makan bubur nggak ada aku. Kita lihat saja," ucap Jovan menyombongkan diri.
Tangan Senja bergerak untuk menyentil kening laki-laki di sampingnya. "Percaya diri Anda terlalu tinggi. Silahkan turunkan sedikit lagi."
__ADS_1
"Eh!" sentak Senja membuat Jovan terdiam menunggu hal apa yang ingin perempuan cantik di sampingnya katakan.
"Bukankah kamu penculik ya? Lalu, kenapa sikapnya baik begini pada tawanannya? Pasti masih amatiran kan?" ledek Senja sambil tersenyum lebar.
"Aku bukan penculik. Terpaksa aja sebenarnya. Apalagi, model yang diculik kaya kamu. Rugi besar kalau terlalu lama ditawan. Mau habis makanan berapa aja nanti." Kini giliran Jovan yang meledek.
"Ya itu sih resiko menculik ibu hamil. Karena, aku bukan makan untuk diri sendiri saja. Namun, calon anakku juga ikut makan. Wajar dong," elak Senja tidak terima.
"Sudahlah. Sana! Masuk ke kamar. Kamu itu sedang diculik. Jadi, jangan banyak tingkah," titah Jovan sambil mendorong bahu Senja pelan.
Hal itu membuat Senja tertawa renyah dan ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama merasakan sedih dan kecewa. "Eh iya—"
"Apa lagiiiii!" geram Jovan gemas sendiri karena sejak tadi Senja tak pernah kehabisan topik pembicaraan.
Senja mencebikkan bibirnya kesal. "Dengar dulu dong." Setelah Jovan mengangguk, bersiap untuk mendengarkan.
"Semoga apapun yang sedang ingin kamu capai, bisa terwujud sesuai keinginan. Namun, ada suatu hal yang kita sendiri tidak perlu turun tangan walau rasanya harus. Itu hak kamu mau mengadili pelaku atau menyerahkan pada pihak yang berwajib, termasuk Tuhan. Aku turut berduka cita atas adik kamu. Semoga, adikmu segera diberikan kesembuhan," ucap Senja panjang lebar.
Jovan hanya terdiam dengan raut wajah tak terbaca. Namun, Senja bisa melihat ada banyak dendam dalam sorot matanya. "Lakukan sebisa kamu. Munafik kalau aku bilang dendam itu bisa membakar diri sendiri. Kadar ketahanan hati setiap orang memang berbeda-beda."
"Kamu sedang menasehati aku?" tanya Jovan yang membuat Senja menghembuskan napasnya pelan. Dengan bibir yang mengulas senyum, Senja menggeleng.
"Tidak. Aku hanya sedang mengomentari masalah hidup yang sedang kamu alami. Memang begitu bukan? Orang lain hanya bisa berkomentar?"
__ADS_1
"Sudahlah. Aku masih menjadi tawanan kamu. Sekarang, aku mau mandi dulu," pamit Senja meninggalkan Jovan sendiri yang masih terpaku memikirkan kalimat yang Senja katakan.