Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Cemburu Tanda Cinta


__ADS_3

Yahya pun masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum", kata Yahya. Tidak ada jawaban dari salamnya itu, Yahya pun langsung masuk rumah. Yahya melihat Susi yang asyik duduk sambil memainkan hpnya. " Kok salam mas ga dijawab?", tanya Yahya. Susi diam saja sambil tidak menghiraukan suaminya. Kemudian Susi berkata, "Minta jawab sama perempuan tadi saja, kalau ga salah namanya Suci lo". Yahya tersenyum senang, jarang-jarang ada momen yang pas seperti ini, apalagi kalau istrinya marah karena lagi cemburu. Ia malah senang, tandanya Susi peduli saat Yahya ada kontak dengan perempuan lain. Susi ternyata tidak senang kalau suaminya dekat-dekat sama perempuan lain.


Karena dicuekin istri tercinta, Yahya pun langsung bersiap-siap ke kamar mandi. Sehabis dari aktivitas kantor, Yahya biasanya membersihkan diri dulu. Ia mulai memperhatikan kelakuan istrinya dari kejauhan.


"Lagi-lagi ga peduli perasaan istri", gerutu Susi. Sebenarnya Yahya bukannya ga peduli, tapi dirinya ingin membicarakannya setelah dirinya bersih dan berganti pakaian dari pakaian dinasnya.

__ADS_1


Yahya teringat kejadian sore tadi saat bertemu Suci. "Ka, apa kabar?", sapa Suci. " Alhamdulillah baik, kamu habis datang dari mana?", tanya Yahya. "Suci berkunjung ke tempat kaka, tapi ternyata kaka belum datang", jawab Suci. " Apa kamu sudah bertemu istri kaka Susi?", tanya Yahya lagi. "Iya, dan pantas saja kaka memilih Susi jadi istri soalnya orangnya selain muda juga cantik, tapi...", kata Suci namun terdiam. " Tapi apa?", tanya Yahya. "Cemburuan ka", kata Suci sambil tersenyum. " Hahaha", suara tawa Yahya yang keras. Dan Suci pun ikut tertawa. "Siap-siap ya ka kalau di rumah, dicuekin istri. Sepertinya Susi tidak senang dengan kedatanganku", kata Suci lagi. " Iya iya", kata Yahya.


Pembicaraan dengan Suci sore itu hanya sekedar bertukar kabar saja. Namun memancing sedikit emosi Susi. "Mau marah ya marah saja", kata Yahya dalam hati. Yahya malah semakin menikmati mandi sorenya. Sedangkan di luar kamar mandi, Susi yang ngambek malah semakin gerah kalau suaminya tidak peka akan perasaannya.


"Dasar suami yang ga sensitif, istri marah harusnya dibujuk, dibiarkan saja", celoteh Susi sendiri didalam kamar tidur sembari menonton televisi. Sebenarnya televisi pun tidak ditontonnya, karena televisi hanya dijadikan alat kalau Susi sendiri lagi asyik melihat acara di sana, padahal pikirannya masih memikirkan apa yang dibicarakan suami dengan perempuan yang katanya adik iparnya itu dengan mesra.

__ADS_1


Semakin melihat istrinya geram, Yahya semakin ingin terus melihatnya, karena menurutnya lucu dan seru aja, usil-usil sedikit sama istri. "Ya itu, mas tahu juga, Ia Mba Suci lah", kata Susi. "Ada apa dengan Suci?", tanya Yahya. "Tanya aja sama Suci nya sendiri", jawab Susi ketus. "Mas nanya sama kamu, kok malah disuruh nanya ke Suci. Mas ga ngerti", kata Yahya. Susi semakin cemberut. "Jadi suami itu ga boleh bohong mas, apalagi bohongnya sama istri sendiri", kata Susi lagi. "Lah loh, bohong apa?", jawab Yahya. " Pikir aja sendiri", jawab Susi semakin tidak jelas. Yahya berpikir, memang kalau sudah cemburu wanita itu tidak menggunakan logikanya, perasaannya saja yang main.


Akhirnya daripada berdebat tidak ada ujungnya, Yahya duduk disamping istrinya itu. "Ga usah cemburu gitu", kata Yahya. Sebelum Yahya menjelaskan lagi, Susi langsung memotong, " Siapa juga cemburu". "Tuh, mas belum selesai bicara. Kamunya sudah nyerocos duluan", kata Yahya.


Susi diam dan pura-pura melihat kearah televisi seakan-akan sedang menontonnya. Yahya pun langsung mengambil remote televisi dan mematikannya.

__ADS_1


Susi berkata, "Mas..., kok dimatikan sih!". "Mas belum selesai bicara, kamu jangan mengalihkan pembicaraan kita", kata Yahya. "Suci datang hanya sekedar menyapa saja, dan kamu juga tahu kami tadi tertawa karena Suci sendiri sudah mengingatkan mas kalau nanti kamu bakal marah-marah karena cemburu. Mas tadinya ga percaya Lo kalau istri mas yang cantik ini bisa juga cemburu, tapi melihat sikap kamu yang seperti ini. Mau ga mau mas percaya", kata Yahya. "Siapa juga cemburu", kata Susi lagi. "Tuh masih menyangkal, ngaku aja cemburu", kata Yahya sambil tangannya yang nakal mencubit istrinya itu. " Apaan sih mas", kata Susi. "Ngaku aja", kata Yahya lagi. Susi tetap ngotot tidak mengaku.


Yahya tidak memaksanya, malah mengajaknya makan malam di luar bersama. "Yuk kita makan malam diluar", ajak Yahya. "Benar mas ga ada apa-apa sama Suci?", tanya Susi lagi. "Iya", jawab Yahya. "Masih ga percaya?", tanya Yahya balik. Susi tersipu malu. "Kalau cemburu ga papa, asal cerita. Jadinya bisa diluruskan. Kalau dipendam sendiri, lama-lama jadi penyakit lo", kata Yahya. " Iya mas", kata Susi. "Tuh kan akhirnya mengaku juga", kata Yahya lagi. " Mengaku apa?", kata Susi. Yahya tersenyum melihat tingkah istrinya yang kalau cemburu ternyata seru juga. Yahya menjelaskan kalau dirinya dan Suci tidak ada hubungan apa-apa, hubungan dekat karena memang Suci sudah seperti adik sendiri. "Mas aja yang anggap adik, Suci nya gak tuh", kata Susi. "Terus maunya Susi gimana?", tanya Yahya balik. "Ga usah ngobrol sama Suci lagi", jawab Susi. "Ya ga bisa gitu dong Sus, masa kalau bicara sana Suci pakai bahasa isyarat atau alien. Kamu tenang saja, cinta mas hanya untuk kamu seorang", kata Yahya. "Dasar gombal", kata Susi. "Mas ga ngegombal, mas membujuk kamu Lo. Daripada marah-marah terkena api cemburu, mas siram aja dengan gombalan mas. Siap tahu mempan", kata Yahya. "Ya udah, siap-siap kita makan di luar. Kamu mau makan apa?", tanya Yahya. "Makan sate boleh?", tanya Susi lagi. "Boleh", jawab Yahya. "Makan bakso boleh?", tanya Susi. Yahya bingung, tadi maunya sate, sekarang bakso. "Boleh saja asal perutmu muat", jawab Yahya. "Makan yang lain boleh?", tanya Susi lagi. Ada apa lagi dengan istrinya ini, kesurupan makanan atau apa. "Maunya makan apa?", tanya Yahya. "Makan kamu", jawab Susi tertawa. Yahya tahu istrinya bercanda. "Terserah kamu mau makan apa, mas temenin pokoknya. Ayo cepat bersiap, nanti kemalaman", ajak Yahya.


__ADS_2