
Senja tersentak kala merasakan sebuah pelukan dari belakang diikuti sebuah dagu yang bertumpu di bahunya. Dia sedang berada di dapur membuatkan jus untuk Arta. "Sayaaaang..." Panggilan itu terdengar merengek dan mendayu.
Senja mengulum senyum. Dia tidak ingin terlihat salah tingkah karena panggilan itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan Bumi? Biarlah suaminya itu memohon dan mengejar dirinya bila benar-benar mencinta.
"Sampai kapan kamu mau marah? Apa nggak capek?" tanya Bumi sampai Senja bisa merasakan hembusan napas yang menerpa samping wajahnya. Mungkin karena posisi wajah Bumi yang begitu dekat.
Melihat Senja yang masih diam dan sibuk dengan pekerjaan, Bumi kembali bersuara. "Jawab, Nja. Tolong." Tangannya mulai bergerak untuk mengelus perut Senja.
Entah mengapa, Senja justru ikut terhanyut ketika telapak tangan Bumi menyentuh perutnya penuh kelembutan. "Jaga anak kita baik-baik ya. Jangan sungkan untuk merepotkan aku. Ini anak kita," ucap Bumi dan Senja segera tersadar agar tidak mudah tergoda bujuk rayu suaminya.
Senja melepaskan diri dan berjalan meninggalkan Bumi sendirian yang tampak begitu frustasi.
"Arta. Ini jusnya. Minum dulu ya, Sayang," ucap Senja sambil duduk menekuk lutut di hadapan Arta yang kini sedang berbaring di sofa.
"Sini, biar Mama yang urus Arta. Kamu jangan sampai kelelahan," pinta Bu Sonia yang segera mengambil alih segelas jus di tangan Senja.
"Ayo, Arta. Bangkit dulu, Sayang." Bu Sonia kini beralih pada Arta. Senja pun menurut dan mengambil posisi duduk di samping Arta.
"Jadi bagaimana, Nja? Kehamilannya sehat kan?" tanya Bu Sonia sambil fokus memegang gelas jus dan mendekatkan ke bibir Arta.
"Sehat, Ma. Tidak ada masalah serius. Semuanya baik. Hanya saja, sudah beberapa hari ini aku mengalami mual yang berlebihan. Mulai tidak suka mencium bau masakan," jelas Senja tersenyum tipis.
"Wajar kok, Sayang. Apalagi masih usia dua bulan. Mual muntah itu sudah menjadi langganan. Itu normal. Nanti kalau sudah menginjak lima bulanan, akan reda dengan sendirinya." Kini giliran Bu Resti yang ikut masuk dalam topik pembicaraan itu.
__ADS_1
"Mama bahagia karena sebentar lagi akan punya cucu kedua. Kamu belum ingin pulang?" Pertanyaan itu membuat mimik wajah Senja berubah muram seketika.
"Biar nanti kamu bisa merepotkan Bumi. Enak saja dia, mau enaknya saja. Kamu tuh harus menyusahkan suami sendiri, Nja," sambung Bu Sonia menggebu-gebu, membuat Senja dan Bu Resti tertawa.
"Nanti Senja pikir-pikir lagi, Ma," jawab Senja pada akhirnya.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Bu Sonia membawa besannya untuk makan siang di rumah itu. "Kok malah Mama yang minta kalian makan sih? Ini kan rumah Senja," ucap Bu Sonia sambil menemukan jidatnya konyol.
Senja tertawa. Kalau di pikir-pikir, kok jadi kepikiran. "Mama merasa aneh ini loh. Harusnya kamu yang minta Mama dan Ibu untuk makan," ledek Bu Sonia lagi.
Senja pun bingung. Saat ini dia masih menjadi tersangka buronan Bumi. Dia masih ragu untuk kembali dalam rumah tersebut.
"Sekarang, Senja lagi alih peran dulu. Biarkan sajalah," ucap Bu Resti menengahi. Ketiganya pun berjalan menuju meja makan dengan Arta yang selalu menempel pada Senja. Mungkin, anak itu rindu dengan sosok Senja dalam hidupnya.
"Arta makan lagi ya? Habis ini kan harus minum obat," pinta Senja yang segera mendapat anggukan dari bocah tersebut.
Bumi datang saat semua orang sudah mulai menikmati hidangan. Dia memilih duduk di kursi yang berbatasan dengan Senja demi bisa menatap sang Istri lama. Senja hanya melirik sekilas karena fokusnya kini sedang terbagi.
Entah mengapa, perutnya merasakan gejolak seperti ingin muntah karena mencium bau ayam yang dimasak balado. Biasanya, Senja akan senang hati memakannya. Namun, kali ini rasanya berbeda.
Saat Senja memaksa makanan itu masuk, saat itu juga Senja mulai tidak tahan dan berjalan cepat menuju wastafel untuk memuntahkan seluruh makanan yang baru ditelannya.
Bumi sangat panik dan bergegas menyusul. Melihat bagaimana susahnya Senja, dia mendekat dan memijat tengkuk sang Istri penuh kelembutan. "Pasti nggak nyaman ya?" tanya Bumi yang membuat Senja menoleh cepat setelah selesai mencuci muka. Wajahnya sudah pucat dengan hidung dan mata yang memerah.
__ADS_1
Senja mengangguk sebagai jawaban. "Mual," jawabnya lemah.
"Maaf ya. Gara-gara aku, kamu harus seperti ini," lirih Bumi yang segera menuntun Senja untuk duduk di kursi bar.
Senja hanya memerhatikan bagaimana Bumi bergerak mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat. Bumi kembali dan memberikan air itu untuknya. "Minum dulu," titah Bumi.
Senja bersiap untuk menerima gelas tersebut yang segera ditepis halus oleh Bumi. "Biar aku yang pegang. Buka mulut kamu."
Tidak ada pilihan lain. Tubuhnya sudah lemas karena tenaganya habis. Senja membuka mulut dan Bumi mendekatkan pinggiran gelas agar Senja bisa minum dengan baik. "Sudah," ucap Senja.
Bumi meletakkan gelas itu pada meja bar. Setelah itu, matanya menatap Senja dalam. Posisinya yang berdiri sedangkan Senja duduk, membuatnya harus menunduk. "Sudah sering muntah-muntah begini ya? Kenapa nggak bilang ke aku? Pulang ya? Biar aku bisa urus kamu," pinta Bumi begitu lembut.
Senja membuang pandangan ke segala arah agar tak bertemu tatap dengan Bumi. "Aku nggak mau merepotkan siapapun," jawab Senja coba menyadarkan diri. Dia lupa jika sudah takdir manusia untuk saling merepotkan dan direpotkan.
"Aku suami kamu, Senja. Apa kamu sudah amnesia?" geram Bumi menipiskan bibirnya kesal.
Hal itu membuat Senja mendongak dan menatap Bumi kesal dengan bibir yang mengerucut. "Kamu kali yang lupa kalau aku ini istri kamu," balasnya kembali mengungkit masa lalu.
Bumi seketika menekuk lutut di hadapan Senja dan meraih jemari sang Istri. Bodohnya Senja yang menurut dan justru terpesona dengan tampilan Bumi yang bulu-bulu di sekitar rahang sudah lama tidak dicukur.
Namun, lingkaran hitam di bawah mata Bumi yang paling menarik perhatiannya saat ini. Suaminya itu tampak menyedihkan.
"Pulang ya? Maafkan aku. Aku sudah banyak menyakiti. Saat kamu pergi dari rumah dan marah, akuja merasa seperti ada yang hilang. Hampa dan sepi. Namun, bukan hanya itu. Aku seperti kehilangan separuh jiwaku," ucap Bumi begitu manis, tetapi jujur dari dalam hati.
__ADS_1
Sayangnya, Senja tak lagi mudah percaya. Dia tidak ingin kejadian buruk di masa lalu kembali terulang. Jadi, Senja memilih menanyakan secara langsung pada yang bersangkutan.
"Berikan aku satu bukti yang bisa meyakinkan hati, bahwa kehadiranku ini sangat penting untukmu. Bisa?"