Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 32. Tolong aku, Mas


__ADS_3

"Bagian dari bencana itu ketika engkau mencintai, sementara orang yang kau cintai tidak mencintaimu."


Bumi baru keluar dari kantor pukul sepuluh malam. Dia harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk karena besok ada rapat penting dengan investor asing.


Tadi, saat sore hari, Bumi sudah sempatkan untuk menyambangi makam Deandra. Mungkin ini untuk yang terakhir kali. Dalam artian, terakhir kali datang sebagai seseorang yang mencintai. Mulai besok, dia akan mulai kembali belajar mencintai Senja, perempuan yang sudah berkorban banyak hal untuknya.


Selama ini, Bumi memang selalu mengunjungi makam setelah pulang dari kantor. Sekarang, Bumi tidak akan datang bila tidak ada Senja.


Bumi menghela napas kasar. Pembicaraan Arta dan Senja malam itu membuatnya tersadar jika apa yang saat ini Bumi miliki adalah keinginan banyak orang. Memiliki istri baru dan mau menerima anak tirinya dengan sangat baik, bahkan sudah seperti anak kandungnya sendiri.


Bumi membuka dasbor mobil untuk mengambil ponsel yang sejak tadi sore lupa dibawa. Saat akan melihat notifikasi, tiba-tiba ada seorang perempuan yang melintas dan...


Brak!


Mobil Bumi menabrak perempuan tadi hingga kaki Bumi harus menekan rem mendadak. Mata Bumi membelalak. Dia segera keluar dan memeriksa ke luar.


Dia melihat ke depan mobil dan ada seorang wanita yang bersimpuh di depan mobilnya. "Mas Bumi?" ucap wanita itu yang sulit sekali Bumi kenali wajahnya karena wajah wanita itu tertutup telapak tangan. Mungkin, dia merasa silau akibat tersorot lampu mobilnya.


"Tolong aku, Mas," rintih perempuan itu yang segera beranjak, tetapi kakinya pincang. Dengan sigap Bumi membantu dan bisa melihat dengan jelas jika wanita itu adalah Naura.


Wanita itu celingukan seperti ketakutan pada sekitar. "Tolong aku. Selamatkan aku untuk kali ini saja," mohon Naura dengan wajah yang tampak lebam.


Dari tempatnya berdiri, Bumi bisa melihat ada dua orang bertubuh tegap yang berjalan mendekat. Bumi segera membawa Naura dalam mobil dan bergegas menjalankannya.


"Terimakasih, Mas. Aku takut sekali," ucap Naura yang kini justru menangis sesenggukan.


Bumi menatap iba sekaligus kesal. Mengapa juga Naura masih berjalan-jalan di tengah kota saat hari hampir tengah malam?


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bumi merasa tidak tega sendiri.

__ADS_1


"Panjang ceritanya. Bisa tolong bawa aku ke suatu tempat?" pinta Naura tampak memohon.


Bumi melirik sekilas dan melihat sudut bibir Naura tampak mengeluarkan darah. "Bersihkan dulu bibirmu. Ada darah itu. Tisunya di dalam dasbor," ucapnya yang membuat Naura justru tersenyum lebar.


"Terimakasih karena sudah perhatian, Mas," jawab Naura yang tidak lagi Bumi tanggapi.


"Aku antar pulang ke rumah kamu," ucap Bumi yang segera mendapat gelengan kepala dari Naura.


"Jangan, Mas! Kalau diizinkan, bolehkah aku menginap di rumah Mas semalam saja?" pinta Naura lagi dan Bumi berdecak sebal.


"Turun di sini! Biar aku pesankan taksi!" titah Bumi yang sudah menepikan mobil di pinggir jalan. Dia sangat kesal karena sikap Naura yang diberi hati masih meminta jantung. Hal itu membuat Naura membelalak tak percaya.


"Jangan terlalu tega pada adik sendiri, Mas. Apa kamu tidak khawatir bila terjadi sesuatu yang buruk padaku?" tanya Naura menggebu-gebu.


Bumi menggeleng santai. "Kamu bukan lagi siapa-siapa di hidupku. Turun!" titahnya yang segera mengotak-atik ponsel. Tidak berapa lama, ada sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari mobil Bumi terparkir.


"Itu mobilnya. Sudah aku bayar. Turun sekarang atau kamu akan tahu akibatnya," ancam Bumi yang tidak bisa lagi Naura tolak.


...----------------...


Senja harus menunggu Bumi pulang demi bisa mendapat penjelasan. Sekuat hati dia menahan kepalanya untuk tidak berpikir buruk tentang suaminya. Dia coba untuk menghubungi nomor telepon Bumi yang sayangnya sedang tidak aktif. Padahal, tadi pagi rasanya baik-baik saja.


Kecemasan Senja semakin bertambah ketika jam terus bergulir hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan angka sebelas. Senja menghela napasnya kasar.


"Papa lum pulang, Bun?" tanya Arta yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.


Senja menoleh dan berusaha mengulas senyum. Dia harus menutupi rasa sedih dan kecewa yang saat ini dirasakan. "Iya. Papa sepertinya lembur. Arta belum ngantuk?" jawab Senja sambil mengecup puncak kepala Arta.


Bocah laki-laki itu menggeleng. Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong karena Arta justru menguap lebar. Senja terkekeh dan meminta Arta tidur lebih dulu.

__ADS_1


"Tidurlah dulu, Sayang. Ajak Suster Siska. Bunda mau menunggu Papa dulu," pintanya penuh kelembutan.


Arta mengangguk patuh. "Alta tidul dulu, Bun. Selamat malam."


Senja masih menatap punggung Arta yang menghilang pada salah satu pintu yang terletak di lantai atas. Helaan napas kembali terdengar. Mungkinkah Senja bisa bertahan jika sebuah fakta kembali terungkap? Bisa saja, selama ini Bumi hanya sedang berpura-pura mencintai bukan?


Lamunan Senja tersentak ketika mendengar deru mobil di depan rumah. Sampai semalam ini Bumi baru pulang? Mengapa suaminya itu tidak mengabari sedikit saja? Apa Senja memang tidak pernah berarti dalam hidup Bumi?


"Kamu belum tidur?" tanya Bumi yang entah sejak kapan sudah masuk.


Senja segera bangkit dan berjalan lebih dulu meninggalkan Bumi yang masih bertanya-tanya. "Sayang!" panggil Bumi yang sayangnya tidak lagi mampu meluluhkan hati.


"Tunggu, Senja!" panggil Bumi lagi yang segera menyusul.


"Maaf. Aku lembur. Aku lupa tidak mengabari. Ponselku tertinggal di mobil," ucap Bumi berusaha menjelaskan.


Senja berhenti melangkah ketika telah selesai meniti anak tangga. Dia menoleh dengan tatapan datar. "Aku boleh tidur di kamar kamu kan?" tanya Senja tiba-tiba yang membuat Bumi seketika membeku.


"A-aku. Itu, berantakan," jawab Bumi tergagap yang membuat Senja yakin ada sesuatu yang Bumi sembunyikan.


Senja terkekeh sinis. "Kenapa? Kamu takut rahasia kamu terbongkar? Kamu takut apa yang selama ini kamu simpan akan aku ketahui? Sayangnya, aku sudah melihat semuanya," ucap Senja datar dan dingin.


Senja berniat melangkah, tetapi urung ketika tangannya dicekal oleh Bumi. "Apa yang sudah kamu lihat?" tanya Bumi yang wajahnya berubah datar.


"Semuanya," ulang Senja balas menatap mata Bumi.


"Jangan katakan kamu juga menyentuh barang-barang itu?" tanya Bumi lagi yang membuat tawa Senja semakin hambar terdengar.


"Kamu gila," umpat Senja yang segera menepis tangan Bumi dan berjalan cepat menuju kamarnya.

__ADS_1


Hilang sudah semua pertanyaan yang sudah Senja susun ketika melihat raut wajah Bumi tampak begitu marah. Ekspresi Bumi sudah menjawab semuanya.


Bumi menggeram kesal dan menjambak rambutnya kasar. "Kenapa semua jadi seperti ini? Padahal, hari ini aku berniat untuk memberitahukan semua," ucapnya frustasi.


__ADS_2