
Senja menatap Bumi yang kini berjalan pelan mendekati dirinya. Apa yang Regi katakan memang ada benarnya. Tanpa menunggu lama, Senja segera duduk di sofa dan menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya.
"Senja?" panggil Bumi ketika telah duduk di samping istrinya, berniat membuka pembicaraan.
"Hm." Senja menjawab dengan perasaan yang masih enggan. Egonya masih begitu tinggi untuk memberikan maaf pada suaminya.
"Aku sadar akan apa yang sudah aku lakukan, dan tidak membenarkan satu pun. Aku sudah berusaha keluar dari bayangan masa lalu itu, tetapi bukan berarti dalam waktu satu dua hari aku lupa."
"Mengenai Naura, aku hanya menolongnya tempo hari saat tak sengaja dia tertabrak mobilku. Saat itu, kondisi Naura berantakan lengkap dengan luka lebam. Aku hanya mengantarnya hingga dekat rumahnya." Bumi berucap panjang lebar dan Senja masih setia mendengarkan.
Di dunia ini memang tidak ada manusia sempurna. Apa yang dikatakan Bumi memang benar jika melupakan seseorang bersama kenangannya itu tidak mungkin dalam satu atau dua hari.
Dia menatap Bumi yang kini melemparkan pandangan ke arah jendela apartemen. "Mengenai arti kamu dalam hidupku, tentu saja kamu bagian terpentingnya. Ibarat kata, manusia tidak bisa hidup tanpa jantung, dan kamu adalah jantungnya." Lalu, pandangannya tertuju pada Senja.
Senja seketika memalingkan muka. Dia takut semburat merah di pipinya akan terlihat dengan mudah. Bukankah tidak apa-apa jika Senja kembali memberikan kesempatan Bumi untuk berubah?
"Senja?" panggil Bumi begitu lembut masuk ke gendang telinga Senja.
"Kita coba perbaiki hubungan ini lagi ya? Aku janji, hal seperti itu tidak akan terulang lagi. Kini, hanya ada aku, kamu, dan anak-anak kita nanti." Bumi bergerak mengikis jarak. Tangannya tampak ragu melewati belakang tubuh istrinya, untuk kemudian melingkarkan pada pinggang sang Istri.
Tidak ada penolakan dari Senja yang membuat Bumi semakin berani untuk merengkuh tubuh Senja dalam dekapannya. "Aku rindu kamu, Nja. Rindu semua tentang kamu," gumam Bumi sambil mengecupi puncak kepala istrinya.
Senja tak kuasa menahan senyum. Dia pun bergerak membalas pelukan sang Suami dan menyembunyikan wajah di balik dada bidang Bumi. "Janji ya? Jangan ulangi hal-hal yang bisa buat aku marah?" ikrar Senja dan Bumi mengangguk yakin.
__ADS_1
Sambil memeluk Senja, tangan Bumi bergerak untuk mengelus perut sang Istri dimana jabang bayi sedang bertumbuh di sana. "Apa kabar, Sayang? Maafkan Papa karena sudah buat Bunda sedih," monolog Bumi seakan berbicara pada anaknya.
Senja terkekeh dan merubah posisi lengan yang awalnya di pinggang Bumi kini beralih ke leher sang Suami. Tatap keduanya saling beradu degan bibir menyunggingkan senyum manis.
Dan Senja merasakan hormon di tubuhnya meningkat saat pinggangnya dielus lembut oleh jemari panjang dan berotot milik Bumi. Seperti gelenyar aneh yang membuat seluruh sel dalam tubuhnya berfungsi lebih cepat dari biasanya.
"Kamu rindu aku nggak sih?" tanya Bumi hampir terdengar seperti rengekan. Sontak saja hal itu membuat Senja tergelak renyah.
"Nggak rindu sama sekali," bohongnya membuat bibir Bumi seketika mengerucut.
"Bercanda!" pekik Senja diselingi tawa. Bumi pun tersenyum lebar lalu memeluk istrinya erat-erat. Tidak akan Bumi biarkan lagi Senja marah karena itu sangat menyiksa perasaannya.
Dalam hati, Bumi berkata. 'Oooh, jadi seperti ini rasanya dicintai lebih besar dari pasangan kita?'
Kini bersama Senja, Bumi yakin jika perang datang, istrinya itu akan turut berperang membantunya. Namun, kata perang hanyalah sebuah kiasan untuk menggambarkan sosok Senja dalam hidupnya.
...----------------...
Regi melirik kaca spion tengah mobil yang sedang dikendarainya. Kali ini, dia harus beralih profesi sebagai sopir pribadi kakaknya. Keduanya duduk di belakang dan bertingkah lumayan mesra, menganggap Regi tidak pernah ada.
"Hem! Ehem!" Regi berdehem kencang untuk menyadarkan Senja dan Bumi yang kini duduk di jok belakang dengan tubuh bagai tanpa jarak. Jangan lupakan kepala kakaknya yang kini sudah bersandar nyaman di bahu kakak ipar.
"Kenapa sih, Gi? Tolong dimaklumi ya? Umur kamu sudah 17+ kan?" tanya Senja tanpa membuka kelopak matanya yang sejak tadi terpejam.
__ADS_1
Regi hanya menggelengkan kepalanya pelan. Memang susah bila berbicara pada orang yang sedang jatuh cinta. "Kamu pasti sudah punya pacar kan?" tanya Senja membuat Bumi menipiskan bibir sambil geleng-geleng kepala.
"Apaan sih? Sok tau banget," kesal Regi, tetapi pandangannya masih fokus pada ruas jalan.
"Jujur? Pasti udah punyalah. Masa belum sama sekali," cecar Senja seperti tak akan menyerah sebelum Regi mengakuinya sendiri.
"Mana ada? Aku mah fokus sama ujianku sebentar lagi," elak Regi yang segera mendapatkan tepuk tangan dari Bumi.
"Apa yang kamu lakukan sudah benar, Gi. Fokus dulu. Jangan terburu-buru." Bumi kini menengahi keduanya.
Perbincangan ketiganya masih terus berlanjut hingga tak terasa mobil berhenti di depan pekarangan rumah sang Mama. "Pulang ke sini dulu kan, buat ambil baju-baju Kakak?" tanya Regi ragu.
"Kamu tidak sedang mengusir kakak kan?" tanya Senja dengan tatapan kesalnya. Bumi dan Regi sontak tertawa.
"Sekarang Kakak pulang dulu. Besok-besok nginep di sini lagi," kelakar Regi membuat Senja ikut tertawa bersama.
"Benar. Semua orang sudah menunggu kita. Semua orang mengkhawatirkan kamu," ucap Bumi membenarkan ucapan Regi.
"Iya, Kak. Bahkan, Mama Sonia sampai berkata jika Kak Bumi terluka parah tidak apa-apa, asalkan menantunya pulang dengan selamat." Ucapan Regi barusan membuat ketiganya kembali tertawa bahagia.
Senja yang sudah turun dari mobil pun ikut tertawa sambil kakinya terus melangkah memasuki rumah diikuti kedua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya.
'Ya Tuhan. Semoga ini pertanda akhir yang bahagia untuk cintaku pada Mas Bumi. Aku tidak ingin lebih. Aku hanya ingin Bumi dengan semua cintanya,' gumam Senja dalam hati, mensyukuri atas kebahagiaan hidup yang kini menghampiri hidupnya.
__ADS_1