Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 29. Asal-usul Senja


__ADS_3

Seperti yang telah Bu Sonia sarankan, seharian penuh Senja gunakan untuk merenung. Dia tidak sendiri. Ada Bumi yang setia menemani walau sekedar duduk di sisinya, sambil sesekali memainkan helaian rambutnya yang panjang.


Arta benar-benar diajak pergi oleh Bu Sonia agar Senja memiliki waktu untuk dirinya sendiri. "Mas?" panggil Senja lalu menyadarkan kepala di bahu lebar milik Bumi.


"Hm? Sudah dapat jawaban?" balas Bumi langsung memberikan pertanyaan.


Senja mengangguk dengan mengulas senyum tipis. "Mas ada nomor telepon Bu Resti kan?" tanya Senja yang membuat Bumi seketika mencebikkan bibir kesal.


"Ibu, gitu saja bisa kan? Dia ibu kamu, Sayang. Ayo, biasakan," pinta Bumi seakan begitu mudah seperti membalikkan telapak tangan.


Senja menghela napas pelan. "Baiklah. Ibu." Dia memilih mengalah lalu mengulurkan tangan untuk memeluk laki-laki yang kini duduk di sampingnya. Rasanya sangat nyaman dan membuat matanya terpejam.


"Mau tidur siang nggak?" tawar Bumi setalah lengannya bergerak membalas pelukan dari Senja.


Tak langsung menjawab, Senja melihat jam yang menempel di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang. "Masih belum terlambat sih. Namun, sepertinya aku lapar, Mas." Senja memberitahu dengan raut wajah meringis.


Hal itu membuat Bumi tertawa renyah. "Mau makan apa?" tawarnya seolah-olah bisa mewujudkan apapun keinginan Senja.


"Aku pengen makan mie pakai telor, Mas. Tapi, aku lagi malas buat sendiri."


"Biar aku yang buatkan. Sekalian banyak karena aku juga lapar," jawab Bumi sama sekali tidak keberatan. Senja pun melepaskan Bumi agar berlalu ke dapur, yang segera diikuti olehnya.


"Aku mau lihat suami aku masak untuk pertama kalinya." Senja kembali berucap ketika langkah Bumi terhenti dan menatapnya penuh tanda tanya.


"Baiklah. Kalau aku grogi bagaimana? Dan takutnya akan mempengaruhi ke rasa makanannya nanti," jawab Bumi membuat Senja cemberut.

__ADS_1


"Tidak akan, Mas. Mie kan sudah ada bumbu instan. Jadi, rasanya akan tetap sama sesuai varian yang sudah tertera," jelas Senja dan Bumi pun mengangguk mengiyakan.


Sebenarnya, Senja ingin memeluk Bumi dari belakang sambil melihat proses pembuatan mie dari suami tercinta. Namun, hal itu urung dilakukan ketika melihat kursi makan melambai-lambai, seakan memaksa Senja untuk duduk di sana dan mengamati dari kejauhan.


"Aku akan hubungi Ibu setelah kita makan." Ucapan Bumi itu membuat Senja mengalihkan perhatian dari punggung tegap yang kini sedang berdiri membelakangi nya.


"Kok Mas kelihatan akrab gitu?" tanya Senja heran.


Bumi menoleh sekilas dan kembali fokus pada pekerjaan. "Sebenarnya, mencoba untuk akrab. Ibu kamu, ibu aku juga kan?" tanya Bumi dan Senja mengangguk membenarkan.


"Keputusan ku benar tidak menurutmu, Mas? Apa salah kalau aku juga menginginkan ibu ada di hidup aku? Walau kemarin dan tadi pagi, rasanya aku terlalu kekanak-kanakan," tanya Senja yang sebenarnya masih ragu dengan perasaanya sendiri.


"Wajar kok. Makanya beri kesempatan Ibu untuk bicara dan menjelaskan. Siapa tahu, dengan kamu mendengar dari sisi yang berbeda, kamu akan mendapatkan jawaban yang tepat."


...----------------...


Namun, dengan menelepon Bu Resti, Pak Satpam akhirnya mengizinkan. Setelah menekan bel, terdengar suara gembok yang beradu dengan pagar besi lalu diikuti suara gesekan benda dan gerbang itu terbuka.


"Selamat datang, Sayang," sambut Bu Resti mengulas senyum bahagianya.


Ya. Bu Resti memohon pada Senja untuk datang ke rumah. Beliau mengatakan, sekalian ingin mengundang makan malam bersama. Setelah pemikiran cukup panjang yaitu sekitar satu mingguan, akhirnya Senja setuju dan datang ke rumah besar juga mewah itu.


"Hai, Arta. Sini, biar Oma gendong," ucap Bu Resti lagi sambil mengambil alih Arta yang berada dalam gendongan Bumi.


"Salim dulu sama Oma, Sayang," pintar Bumi dan matanya melirik Senja yang kini justru terpaku. Entah apa. Yang jelas, istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh. Belum tentu apa yang saat ini kepalamu pikirkan, adalah sebuah kenyataan," bisik Bumi sambil meraih pinggang Senja dan menariknya berjalan memasuki rumah, dimana Bu Resti sudah berjalan lebih dulu.


"Aku tuh bingung, kamu tuh suami aku atau cenayang? Kok tahu gitu?" Senja terkekeh sambil tersenyum untuk menghilangkan rasa gugup yang kini dia rasakan.


Mereka digiring langsung menuju meja makan. Di ruangan itu ternyata sudah ada dua anak remaja, laki-laki semua. Bisa Senja tebak jika mereka adalah anak dari Bu Resti.


"Regi! Reysan! Ayo, salim dulu," pinta Bu Resti yang telah mengambil posisi duduk di salah satu kursi.


"Hai, Kak," sapa keduanya sangat ramah. Senja tersenyum begitu juga Bumi. Entah mengapa, hati Senja rasanya menghangat ketika mendengar sapaan tersebut. Namun, bila menyadari mungkin saja kedua remaja itu belum mengetahui yang sebenarnya, akan seperti apa reaksi mereka?


Makan malam berjalan dengan lancar. Setelah selesai dan seluruh hidangan dibereskan, Arta diajak Suster Siska untuk bermain di luar. Hal itu atas perintah Bumi yang tidak ingin anaknya terlibat pembicaraan orang dewasa. Siska memang Senja ajak untuk mengantisipasi kejadian seperti ini.


Bu Resti berdehem pelan sebelum suaranya kembali terdengar, menggema di ruangan luas itu. "Reysan? Regi? Ada sesuatu yang ini Mama bahas. Mama bisa meminta tolong agar kalian tetap di sini kan?" tanya beliau yang segera mendapatkan anggukan dari dua putranya.


Bu Resti pun memulai ceritanya. Beliau mengatakan dengan jujur jika selama ini telah menyembunyikan sebuah rahasia tentang Senja. Beliau pun mengatakan alasan mengapa meninggalkan Senja di panti asuhan.


Hal yang sebenarnya terjadi, suami barunya yang tidak rela jika Senja kecil sampai kenapa-napa. Karena ada beberapa keluarga yang berniat untuk menyingkirkan Senja dengan cara apapun.


Pernah suatu hari di usia Senja yang baru beberapa bulan lahir, ketika jam makan siang Senja datang, kakak ipar Bu Resti memberikan obat tidur dengan dosis tinggi. Yang lebih parah lagi, Ibu mertuanya yang berniat mencelakakan Senja karena dianggap beban dan tidak akan pernah dianggap cucu oleh beliau. Suami dari Bu Resti pada akhirnya membuat keputusan demi kebaikan semua.


"Ibu sadar, jika caranya salah. Namun, Ibu tidak punya pilihan. Saat itu, Ibu tidak berdaya dan tidak kuasa melihat keadaan kamu yang selalu dikucilkan. Suami Ibu hanya takut jika mental kamu yang akan diserang oleh mereka ketika kamu telah dewasa."


Dari sekian banyaknya cerita, Senja justru terpaku pada sebuah pertanyaan. "Lalu, dimana ayahku, Bu?" tanyanya dengan hati yang terasa hampa.


Ternyata, sudah sejak dulu kehidupannya di dunia tidak diharapkan oleh banyak orang.

__ADS_1


Bu Resti menunduk sambil memilin jemarinya. "Ayah kamu mengalami kecelakaan kerja di sebuah pabrik."


Mendengar itu, dunia Senja seperti luluh lantak.


__ADS_2