Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 25. Wanita yang datang ke panti


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh menit Senja membiarkan Pak Andrian untuk berbincang dengan Bumi. Namun, pria paruh baya uang sudah Senja anggap seperti ayahnya sendiri itu selalu menghindar setiap kali terjadi kontak mata dengannya.


Setelah keadaan hening, Senja baru membuka suara. "Apa kabar, Yah?" tanyanya basa-basi lebih dulu.


Pak Andrian tampak menghela napas pelan dengan bibirnya mengulas senyum terpaksa. "Baik. Kamu, Nja?" Beliau pun balik bertanya.


Senja mengangguk yakin. "Apa ada sesuatu yang ingin Ayah katakan padaku? Mengapa sejak tadi Ayah seperti gelisah?" tanya Senja sopan. Panggilan Ayah untuk Pak Andrian bukan hanya Senja yang melakukan. Namun, seluruh anak panti yang tinggal.


"Kamu memang pandai membaca pikiran seseorang. Mengapa sulit sekali menyembunyikan rahasia darimu?" keluh beliau yang membuat Senja terkekeh, sedangkan Bumi justru merasa bingung karena tidak tahu apapun.


"Katakan saja jika hal tersebut masih menyangkut tentang ku, Yah. Aku siap mendengar apapun," pintar Senja agar Pak Andrian segera bercerita.


Raut Pak Andrian tampak ragu menatap Senja. Obrolan itu terhenti karena Bu Wening datang untuk menghidangkan kudapan. "Silahkan," ucap Bu Wening yang segera mengambil posisi duduk di samping sang Suami.


"Iya, Bunda."


"Jadi, bagaimana, Yah?" cecar Senja tidak sabaran.


Kini, Pak Andrian menatap Bu Wening yang terheran-heran menatap Senja dan suaminya bergantian. "Sepertinya, kita harus jujur pada Senja, Bu. Senja harus tahu," ucap Pak Andrian memecahkan kebingungan yang kini Bu Wening rasakan.


Setelah Bu Wening mengangguk, Pak Andrian menarik napas, bersiap untuk menceritakan isi kepalanya. Senja yang penasaran, masih setia menunggu dengan penuh perhatian.


"Jadi, satu bulan yang lalu ada seorang wanita yang datang ke sini untuk mencari putrinya yang sudah lama dititipkan." Pak Andrian memberi jeda pada kalimatnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Beliau membawa beberapa barang bukti yang kami juga memilikinya," sambung Bu Wening dengan tatapan menerawang jauh pada puluhan tahun silam.


"Kami tidak tahu siapa yang sudah meninggalkan bayi perempuan di depan gerbang dua puluh lima tahun yang lalu. Saat itu, Bunda sedang membuang sampah dan mendengar tangis bayi. Ada foto dan sebuah cincin yang ditinggalkan, yang tentunya masih Bunda simpan sampai saat ini. Bunda percaya jika suatu saat, bayi itu akan dipertanyakan oleh yang menitipkan. Terbukti bukan?" jelas Bu Wening panjang lebar.


Senja yang belum memahami jika bayi yang dimaksud adalah dirinya pun berkata. "Bagus dong, Bun. Jadi, anak itu sekarang bisa bertemu dengan ibunya."


Bu Wening kini menatap Senja lekat. "Bayi perempuan itu adalah kamu," ungkap beliau yang membuat dunia Senja bagai berhenti berputar, yang terdengar hanyalah suara semilir angin berlalu lalang di dekat telinganya.


Namun, Senja segera tersadar saat merasakan usapan lembut di punggung tangannya. Ketika menoleh, Senja mendapati Bumi yang tersenyum, seperti mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Karena kamu sudah terlanjur tahu, dua hari yang lalu beliau datang lagi dan mencoba mencecar Bunda dengan berbagai pertanyaan. Karena sampai saat ini, Bunda belum memberitahu jika putri yang beliau cari adalah kamu. Bunda bisa dengan mudah memberitahu alamat rumah kamu yang sekarang. Namun, keputusan kamu lebih diutamakan. Bunda butuh menanyakan lebih dulu," jelas Bu Wening lagi.


"Siapa nama beliau, Bun? Kenapa baru sekarang beliau datang? Selama ini, beliau kemana?" tanya Senja menggebu-gebu. Matanya mulai berkaca-kaca, merasakan sebuah kekecewaan yang teramat dalam. Dititipkan? Senja rasa bukan, melainkan dibuang di panti asuhan.


"Seberat apa sampai membuang darah dagingnya? Seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Jika boleh memilih, seorang anak pasti ingin lahir dari keluarga yang harmonis dan diberi kasih sayang cukup. Aku harap, Bunda tidak pernah memberitahu beliau."


"Lebih baik aku tidak pernah bertemu ibu atau ayah kandungku seumur hidup. Aku tidak mau," putus Senja dengan air mata yang berlinang membasahi pipi. Dia kecewa. Mengapa baru sekarang? Padahal, waktu sudah berlalu selama dua puluh lima tahun. Senja sudah tidak butuh hal itu lagi.


Ketika sampai di rumah, Senja langsung menuju kamar untuk mengurung diri. Pengakuan Bu Wening dan Pak Andrian masih mengguncang hati dan pikirannya. Jadi, selama ini dirinya tidak yatim piatu?


Senja memejamkan mata dan buliran bening mengalir begitu saja bersamaan dengan pintu kamarnya yang tertutup. Senja memilih duduk di sofa dengan posisi meringkuk. Menurut cerita Bu Wening, wanita yang mengaku ibunya itu sudah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga barunya.


Membayangkannya saja Senja rasanya tidak sanggup. Di saat dirinya harus tumbuh dengan mengandalkan diri sendiri, ibunya justru telah bahagia dan hidup bergelimang harta bersama anak-anak lainnya. Itu tidak adil untuk Senja.

__ADS_1


"Aku berpikir, kedua orang tua sudah tiada sampai aku harus tinggal di panti. Dia tidak pantas disebut sebagai ibu," racau Senja tak tentu arah.


Perasaanya bercampur aduk antara sedih, marah, kecewa, dan sakit hati. Ketika pintu kamarnya terbuka pun, Senja tak berminat menoleh dan justru betah menatap ke luar dari balik jendela kamarnya.


"Senja?" panggil suara yang begitu Senja ingin dengar.


"Hm," jawab Senja singkat.


Tanpa aba-aba, Bumi langsung berjalan tergesa-gesa dan membawa Senja dalam dekapan. Ada rasa hangat yang saat ini melingkupi tubuhnya, membuat Senja merasakan nyaman yang tiada duanya.


"Aku tidak pernah diharapkan, Mas," lirih Senja yang nada suaranya sudah bergetar menahan tangis.


"Tidak. Jangan berpikir demikian. Karena pada kenyataannya, aku mengharapkan adanya kamu di hidupku. Aku ingin kamu, Nja," jawab Bumi semakin mempererat pelukan.


Mendengar itu, Senja tak kuasa untuk menahan air matanya lagi. Tetes demi tetes air turun membasahi pipi mulusnya. Yang bisa Bumi lakukan saat ini hanyalah menenangkan dan memasang badan jika saat ini dia ada untuk Senja.


"Bisa-bisanya dia hidup tenang dan bahagia sedangkan di sini ada anak yang dia telantarkan. Kenapa harus sampai dua puluh lima tahun? Apakah aku terlalu merepotkan? Dulu, saat usiaku menginjak lima tahun, aku berharap akan ada ayah dan ibu yang datang. Namun, hari itu tidak pernah tiba. Sampai aku mulai berhenti berharap dan tidak butuh mereka lagi," racau Senja panjang lebar.


"Sampai pada akhirnya, aku menikah denganmu dan menemukan sebuah hubungan yang bernama keluarga. Aku merasa hidup ketika ada Mama Sonia dan Papa Adhi. Aku seperti menemukan sosok yang selama ini aku cari, yaitu ayah dan ibu," racau Senja membuat Bumi ikut berkaca-kaca.


Bumi mengangguk dan mendengarkan keluh kesah Senja sambil mengusap rambutnya penuh kelembutan. "Kamu punya Mama dan Papa. Orang tuaku, orang tua kamu juga."


"Dan ketika aku melihat Arta, aku tidak ingin dia merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Karena apa? Hanya ada kehampaan. Sepanjang hidup, seperti ada yang kosong. Walau keadaan aku dan Arta jelas jauh berbeda. Namun, aku hanya ingin Arta tumbuh dengan baik tanpa harus menanggung banyak luka mental. Dia butuh sosok ibu seperti yang aku rasakan dulu."

__ADS_1


__ADS_2