
Bumi memukul setir ketika kehilangan jejak dari Senja. Istrinya itu begitu lincah dalam mengendarai sepeda motor. Berbeda dengan dirinya yang mengendarai mobil dan tidak bisa menyalip, mengikuti kemana perginya Senja.
Pada akhirnya, Bumi menghentikan mobil di pinggir jalan. Suasana kota sudah tampak sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Dia harus pulang. Ada Arta yang harus diurus. Besok Bumi akan coba mencari Senja lagi.
Baru saja Bumi akan melajukan mobil, sebuah pesan masuk dari nomor Bu Resti. Mata Bumi yang semula sayu, kini terbuka lebar dan membaca sebaris pesan yang dikirim oleh beliau.
Ibu:
Senja di sini. Kamu tidak perlu khawatir. Dia aman bersama Ibu.
Bumi menghela napas lega. Dia tersenyum karena saat ini Senja dalam keadaan baik-baik saja. Dia segera membalas pesan tersebut.
Maafkan aku, Bu. Besok pagi aku akan datang ke rumah.
Setelah mengirim balasan, Bumi segera melajukan mobil membelah jalanan. Dia harus istirahat walau hanya beberapa jam.
Setibanya di rumah, Bumi melangkah gontai memasuki kamar yang menjadi cikal-bakal kemarahan Senja malam ini. Ketika pintu terbuka, keadaan masih cukup rapi. Hanya saja, pintu kamar mandi, pintu lemari, dan seluruh laci sudah terbuka.
Bumi mengusap wajahnya kasar. Lelahnya semakin bertambah ketika Senja memutuskan untuk pergi dari rumah.
"Sepertinya aku sudah keterlaluan. Bukankah Deandra waktu itu juga memintaku untuk mencintai Senja? Namun, semua itu tetap tidak bisa dipaksa. Aku menginginkan Senja. Namun, bayang-bayang Deandra seperti masih ada," gumam Bumi berbicara pada diri sendiri.
Kepala Bumi terasa buntu. Dia sudah berada di titik tidak tahu harus berbuat apa. Yang Bumi rasakan kali ini seperti sebuah kehampaan. Apa Senja adalah salah satu dari seseorang yang ikut andil membuatnya hampa?
"Tidak mungkin jika aku menjadikan Senja hanyalah sebuah pelarian. Aku nyaman ketika ada di dekatnya. Aku juga sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu. Namun, mengapa Deandra seperti masih membayangi?"
Bumi seketika bingung dengan perasaanya sendiri. Apakah benar jika manusia bisa jatuh cinta pada dua orang yang berbeda sekaligus? Sibuk berpikir, tidak terasa matanya mulai memberat. Bumi merebahkan diri di kasur dan seketika lelap membawanya pergi.
__ADS_1
Saat pagi hari tiba, Bumi dikejutkan dengan suara sang Mama yang berteriak kencang di depan kamar. Rasanya, Bumi baru saja terlelap. Namun, keadaan sudah berubah terang.
"Bumi! Buka! Bumi!"
Bumi mengumpulkan sisa nyawanya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bangkit.
"Bumi! Buka!"
Bumi memejamkan mata lalu segera bangkit dengan kondisi kepala yang pening. Ketika pintu terbuka, mamanya itu sudah berkacak pinggang dengan sorot mata tajam menatapnya.
"Kamu apakan Senja, Hah? Dimana dia sekarang? Jangan kamu pikir Mama tidak tahu ya!" cecar Bu Sonia mengibarkan bendera perang pada darah dagingnya sendiri.
Bumi menghembuskan napasnya kasar. Mulutnya sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan sang Mama yang sayangnya urung ketika Bu Sonia memaksa masuk dan menatap ruang kamarnya dengan pandangan terkejut. Matanya mengedar menatap setiap sudut kamar milik Bumi.
"Bumi? Kamu sudah melakukan kesalahan besar. Wajar jika Senja memutuskan untuk pergi." Tatapan Bu Sonia kini terarah pada Bumi. Sangat datar dan dingin.
"Ma! Jangan musuhi aku! Tolong aku! Aku juga tidak tahu kenapa bisa aku mencintai Senja, tapi masih ada Deandra juga—"
Plak.
Ucapan Bumi terhenti ketika telapak tangan Bu Sonia mendarat di pipinya. Tidak terlalu kencang. Hanya saja, sakitnya sampai menembus ulu hati.
"Kamu itu laki-laki breng sek! Mama dan Papa tidak pernah mengajari seperti itu. Kamu sebenarnya kenapa?! Hah! Senja kurang apa di mata kamu? Dia cinta kamu, sayang Arta, merawat kamu dan Arta, dan memenuhi semua kebutuhan kamu sebagai suaminya!"
Bu Sonia menghembuskan napasnya kasar setelah emosinya meledak. Dadanya naik turun merasakan letupan amarah yang seakan membakarnya. "Kamu itu laki-laki dan sudah menjadi seorang suami. Yang harus kamu lakukan adalah bertanggungjawab! Mama tidak peduli lagi jika kamu masih cinta Deandra atau tidak. Yang perlu kamu ingat, kamu itu suaminya Senja. Kamu berhak membimbing dan menjaganya dengan baik. Termasuk menjaga perasaan Senja, itu juga tanggungjawab kamu."
Keluar sudah seluruh kalimat yang sejak dulu Bu Sonia tahan. Beliau sudah kehilangan kesabaran menghadapi ulah putranya.
__ADS_1
"Ma? Arta mana? Jangan kencang-kencang," lirih Bumi penuh penyesalan.
"Arta pergi dengan Papa. Kamu jangan alihkan pembicaraan. Jika Bi Tijah tidak mengatakan pada Mama, mungkin kamu tidak pernah mau bercerita. Begitu juga Senja. Mana mau dia menjelekkan nama suaminya. Dia itu sudah terlalu cinta sama kamu. Namun, kamu justru yang tidak tahu diri!"
Bumi seperti tertampar ribuan kali oleh ucapan mamanya. Kesalahannya seperti jelas di depan mata. Dari dia yang masih menyimpan barang-barang Deandra, hingga diam-diam masih mengunjungi makam Deandra. Harusnya, semua sudah selesai. Tidak boleh ada rahasia.
Mengingat itu, mata Bumi yang semula sayu, kini terbuka lebar. "Aku harus menemui Senja, Ma. Aku harus meminta maaf," ucap Bumi yang segera berlari ke kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat banyak alat tes kehamilan yang berceceran di lantai.
Bumi membeku untuk sesaat. Membuat Bu Sonia penasaran dan mendekat. "Itu alat tes kehamilan," gumam beliau yang segera meraih benda-benda tersebut.
"Hasilnya positif. Berarti... " Ucapan Bu Sonia mengambang. Beliau menatap Bumi dengan bibir yang tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat.
"Mama akan punya cucu lagi," sambung beliau memekik di akhir kalimat.
Mata Bumi membelalak dengan bibir yang terbuka lebar. "Aku harus segera menyusul Senja, Ma. Tolong bilang ke Papa hari ini aku cuti," ucap Bumi segera masuk ke kamar mandi tanpa menunggu mamanya untuk menjawab.
Bu Sonia ingin protes. Hanya saja, beliau tidak ingin merusak rasa bahagia yang kini putranya rasakan. Beliau akan membiarkan Bumi lolos kali ini. Lain kali, Bu Sonia akan memberikan pelajaran tujuh SKS.
Bumi benar-benar menuju rumah Bu Resti. Dia masih mengenakan pakaian semalam. Dia juga tidak mandi. Hanya cuci muka dan gosok gigi. Setelah turun dari mobil, Bumi menekan bel rumah. Tidak berapa lama, sosok Bu Resti yang muncul.
"Eh, ada Bumi. Ayo masuk!" ajak beliau ramah. Mungkin karena semalam beliau sudah mengetahui jika Bumi akan datang.
Saat kaki Bumi baru melangkah, suara Senja terdengar dari balkon atas. "Aku nggak mau bertemu dia, Bu. Aku tidak mau!"
Raut wajah Bu Resti tampak merasa bersalah. Beliau menatap Bumi, memohon agar Bumi mau mengerti.
"Tidak apa-apa, Bu. Senja pasti masih marah padaku," jawab Bumi dengan kepala tertunduk lesu.
__ADS_1