
"Aaaargh!" Bumi berteriak kesal saat sambungan telepon terputus. Perasaanya kalut saat mendengar suara Senja yang berteriak meminta tolong. Seketika Bumi menyesal karena tempo hari sudah menolong Naura kabur dari pengejaran.
Dia tergesa mengambil kunci mobil dan menyambar jaket yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Setelah itu, dia menemui Arta yang kini sedang bermain dengan mamanya.
"Arta?" panggil Bumi lembut.
Bocah yang usianya hampir empat tahun itu menoleh. "Napa, Pa?" tanyanya bingung.
"Papa mau keluar dulu ya. Ada urusan yang harus Papa selesaikan," pamit Bumi sambil mengelus puncak kepala putranya.
Pandangan Bumi kini beralih pada sang Mama yang kini seperti sedang membaca isi pikirannya. "Kamu kan baru pulang. Apa terjadi hal yang mendesak?" cecar beliau dan Bumi tidak ingin menutupi.
"Iya. Ma. Aku titip Arta ya." Lalu, Bumi mendekatkan bibir pada daun telinga sang Mama dan berbisik.
"Ada yang telepon aku. Dia meminta tebusan karena Senja ada bersama mereka?"
Bu Sonia menjauhkan wajah dengan mata yang membelalak lebar. "Hah? Kok bisa? Senja diculik?" tanya beliau pelan dan masih bisa mengontrol rasa terkejutnya. Tentu saja agar Arta tidak tahu dan menjadi cranky.
Helaan napas Bumi terdengar sangat berat. "Nanti aku akan cerita ke Mama. Waktuku tidak banyak, Ma. Aku juga mau meminta tolong Mama untuk mengabari Ibu dan Papa. Tolong ya, Ma. Aku pergi dulu," pamit Bumi sambil menyalami punggung tangan Bu Sonia.
Dia segera melajukan mobil menuju alamat yang telah di kirim. Beberapa kali, Bumi memukul setir ketika mobilnya terpaksa berhenti karena lampu merah atau karena jalanan sedikit padat.
Dia khawatir dan panik. Dia takut terjadi suatu hal yang buruk pada istri dan anak yang dikandung Senja. "Semoga kamu baik-baik saja, Nja. Maafkan aku. Ini semua salahku," gumam Bumi tiada henti di sepanjang jalan hingga tiba di sebuah gedung tua dan tak terpakai.
Karena waktu yang sudah malam, suasana tampak gelap dan menyeramkan. Gedung itu tersembunyi dari hiruk-pikuk jalan raya. Untuk bisa sampai di sana, Bumi harus melewati jalan yang lebarnya tidak ada dua meter.
Setelah turun, Bumi menatap gedung tinggi di depannya. Tidak ada aktifitas manusia di samping atau di depan gedung tersebut karena hampir seluruh bangunan telah dikosongkan.
Ponselnya tiba-tiba berdering dan nomor tak dikenal sebagai pelakunya. "Halo," sapa Bumi dan seseorang di seberang sana mengetahui jika Bumi telah tiba. Dia diminta masuk ke ruang yang terdapat pencahayaan api unggun.
__ADS_1
Sontak matanya tertuju pada satu ruang yang terdapat cahaya. Tanpa basa-basi, Bumi bergegas naik hingga tiba di ruangan tersebut.
Suara tepuk tangan terdengar menggema, membuat Bumi menatap sekitar dan melihat Senja dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya diikat pada kursi, matanya ditutup menggunakan kain dan telinganya menggunakan headset. di sampingnya terdapat seorang laki-laki yang berdiri dengan mengarahkan senjata api ke pelipis isterinya.
"Senja!" panggil Bumi berteriak kencang. Saat berniat mendekat, sebuah senjata di todongkan untuknya.
"Jangan mendekat, atau kamu akan kehilangan istri tercintamu," ucap suara yang mungkin adalah dalang di balik semua ini.
"Lepaskan! Istriku tidak tahu apa-apa! Jangan macam-macam!" teriak Bumi panik saat pria tadi mulai menarik pelatuk.
Tawa menggelegar pun terdengar. Mungkin ada lima pria yang berjaga mengamankan Senja. "Mana Naura? Kamu lupa untuk mengajak wanita tidak tahu diri itu?" tanya pria yang berdiri di dekat Senja, yang merupakan bos dari ke empat pria penjaga.
Seketika Bumi terpaku. Dia melupakan hal itu akibat terlalu panik. "Oh, kalau begitu jangan berharap jika istrimu bisa ikut pulang malam ini. Kita tunda dulu," ucap pria itu tanpa beban.
"Jangan datang kalau Naura tidak kamu serahkan. Silahkan pulang! Telepon aku jika Naura sudah kamu temukan!" titah pria penguasa itu.
Pria tadi berdecak kesal. "Karena kebodohan kamu itu, aku kehilangan uang triliunan."
"Aku tidak mau tahu. Bawa Naura ke hadapanku dan istri cantikmu bisa pulang. Akan aku beri waktu dua hari untuk mencari perempuan gila itu."
"Tolong, jangan sakiti Senja. Dia sedang hamil," mohon Bumi tidak berdaya.
Pria tadi kembali tertawa. "Sedang hamil ya? Mana cantik lagi. Kalau digilir—" Ucapan pria itu terhenti saat Bumi melemparkan kerikil ke wajahnya.
"Jangan kurang ajar. Istriku tidak tahu apa-apa. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada istriku, kamu tidak akan aku beri ampun!" Bumi memperingati pria tadi untuk menjaga ucapannya. Tangannya sudah mengepal di samping tubuh.
Bukannya marah, pria tadi justru tertawa lebar. "Makanya cepat bertindak. Jangan banyak membual. Kalau kamu tidak menginginkan istrimu, aku bisa menikahinya."
"Jangan kurang ajar!" sentak Bumi geram.
__ADS_1
Pria itu tertawa lagi. "Pergi dari sini. Waktumu hanya dua hari. Silahkan mulai mencari."
Bumi terdiam. Sedetik kemudian, Bumi menatap Senja sekali lagi sebelum benar-benar pergi. "Apa aku boleh menciumnya terlebih dahulu?" mohon Bumi berharap belas kasihan.
"Enak saja. Pergi sana! Istrimu, tawananku!"
...----------------...
Senja tidak habis pikir dengan Jovan yang memintanya untuk menutup mata dan mendengarkan musik menggunakan headset. Yang membuat Senja kesal, lagi yang di putar sejak tadi itu-itu saja.
Jamet kudasi... Jamet kudasi...
Senja mungkin sampai hapal dengan liriknya. Hingga tak terasa, Senja mengantuk dan bangun entah di jam berapa. Pemandangan yang dia lihat adalah sebuah kamar bernuansa modern dengan dinding berwarna hijau mint.
Kasur yang dia tiduri juga terasa empuk. "Aku dimana?" tanya Senja bingung.
"Di sini," jawab suara berat yang membuat Senja terlonjak. Dia segera bangkit dan menatap Jovan yang kini duduk melipat lutut di sofa.
"Kok aku di sini?" tanya Senja heran dan sedikit waspada. Dia menatap pakaian yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Aman. Tidak terjadi pele cehan.
"Tenang. Aku nggak seburuk itu," celetuk Jovan seakan tahu isi kepala Senja saat ini.
"Kok aku di sini? Perasaan, tadi dibawa ke gedung tua deh." Senja berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Jovan berdecak. "Aku kasih obat tidur di jus kamu tadi." Seketika Senja melotot tajam. Dia ingat saat akan berangkat, Jovan menawarkannya jus jeruk. Ternyata, ada udang di balik rempeyek. Padahal, Senja hampir memuji laki-laki itu karena walau seorang penculik, dia menjaga tawanannya dengan baik.
Kruek. Kruek.
Senja menunduk ketika perutnya berbunyi. Jovan yang mendengar itu, menipiskan bibir dan menahan tawa. "Tunggu di sini. Akan aku ambilkan makanan. Karena kamu sedang hamil, maka aku tidak akan bertindak berlebihan," ucap Jovan lalu segera pergi dari sana.
__ADS_1