
Sebenarnya Susi juga malas berkunjung lagi ke rumah utama. Namun terkadang mengingat kalimat suaminya kalau dulu Fatma lah yang melakukannya, Ia juga merasa kalau Fatma bisa membersihkan semua, kenapa dirinya tidak. Semangat menggebu Susi kalau dirinya juga bisa seperti Fatma. Setelah beberes di dalam rumah. Ia memulai mengangkat sapu dengan membersihkan halaman di sekitar kontrakan.
Halaman yang begitu luas tidak dihiraukan. Sesekali Ia melihat setelah beberapa lama menyapu ternyata masih belum selesai juga. Keringat sudah mulai mengucur, "Membersihkan halaman dekat kontrakan saja sudah keringatan, kalau ditambah membersihkan rumah utama gimana, luar biasa energi Fatma itu. Wajar sih disayang suami kalau istrinya rajin begitu", kata Fatma dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Melihat Susi yang komat-kamit sendiri, Riri yang baru saja pulang mengantar anak sekolah menyapanya. "Hei, napa tuh komat-kamit mulutmu, baca mantra kah?", tanya Riri. "Bikin kaget saja, enggak cuman sambil bicara sendiri aja daripada sepi sambil nyapu-nyapu", jawab Susi. "Memang ibu kontrakan yang rajin, baguuus", puji Riri. "Kok kamu senang aku nyapu-nyapu?", tanya Susi lagi. "Soalnya halaman bersih, almarhumah ibu dulu juga sama seperti yang kamu lakukan, jadi ku dukung, kita sebagai penghuni sini mah senang kalau lingkungan bersih tertata. Apalagi seperti kamu lihat disekitar sini banyak pepohonan yang membuat rindang. Bikin adem", jelas Riri. "Itu mah kamunya saja malas, ayo ambil sapu, bantu aku", ajak Susi. Riri tertawa. "Kami kan rajin, aku dukung kamu loh. Lanjutkan sis", kata Riri sambil berlalu pergi menuju kontrakannya. "Eh Ri, kemana?", tanya Susi. "Masuk rumah dulu, mau masak buat makan siang. Kamu lanjutkan saja bersih-bersihnya Ratu kebersihan", jawab Riri sambil tersenyum. "Dasar Riri, siapa juga Ratu kebersihan. Seenaknya saja memberi julukan pada orang", jawab Susi. Susi pun melanjutkan membersihkan halaman di sekitar kontrakan. Setelah selesai, Susi pulang ke dalam rumah. "Lelah juga, istirahat dulu. Nanti habis makan siang, agak sorean aja ke rumah utamanya buat bersih-bersih disana", kata Susi pada dirinya.
Tidak berapa lama, Yahya yang datang bingung melihat istrinya sedang terlelap tidur. Beberapa kali mengetok pintu dan mengucapkan salam juga tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya langsung masuk saja. Tidak disangka ternyata orangnya lagi tidur. "Pantas tidak ada tanda-tanda kehidupan", kata Yahya. Yahya pun mencolek-colek wajah istrinya, Ia merasa istrinya yang tidur sangat imut. Apalagi saat dicolek-colek sang istri belum juga bangun. Muncullah ide jahil di otak Yahya. Yahya mendekatkan mulutnya di telinga Susi. Ia tiup-tiup telinga Susi sambil berbicara dengan suara serak dibuat-buat seram. "Susi... Susi... Bangun, bangun", kata Yahya. Susi kaget mendengar suara itu. Ternyata setelah bangun Ia tahu kalau itu hanyalah ulah Yahya saja. Untungnya Susi tidak marah, malah bertanya, "Kapan pulang mas?". "Baru saja", jawab Yahya. "Kita makan yuk", ajak Yahya. "Iya", jawab Susi singkat.
__ADS_1
Saat menikmati makan siang, Yahya berkata kalau dirinya melihat pemandangan yang sedikit berbeda. Halaman di sekitar kontrakan bersih dan rapi. Yahya bertanya apakah Susi yang melakukannya. Susi cuma mengangguk. "Kalau cape, ga usah dipaksakan", kata Yahya. "Tapi hasilnya oke", tambah Yahya dengan dua acungan jempol nya untuk Susi. Susi senang sekali dapat pujian dari suaminya. "Rencananya nanti sore bersihin halaman rumah utama, ya ga bisa beresin semua, bertahap aja", kata Susi. "Ingat, kalau cape ya istirahat", kata Yahya. "Iya mas", jawab Susi. Setelah perbincangan siang itu, Yahya seperti biasa kembali ke kantornya.
Susi senang kalau Boy sudah memiliki teman baru disana, bahkan sudah bisa bermain bola bersama. Berarti Boy masih sama seperti waktu masih dengan Susi, senang bermain bola dengan teman-temannya.
__ADS_1
Susi pun berjalan menuju rumah utama. Sesampai disana, Ia langsung mengambil sapu untuk membersihkan halaman rumah yang berserakan oleh daun-daun berguguran. Susi menengadah melihat pohon apa saja yang ada disitu, ada mangga yang mulai berbunga, ada nangka, kelengkeng, jambu, bahkan durian juga ada. Pantas saja daun yang gugur banyak, pohon buahnya saja banyak. Setelah selesai menyapu, halaman pun bersih. Susi senang kegirangan sampai Ia melompat-lompat. Susi tidak sadar saat Ia melompat-lompat kesenangan tadi, di belakangnya ada Kevin yang baru pulang kerja.
Kevin membunyikan klakson tanda agar Susi tidak menghalangi jalannya. Susi pun menyamping agar Kevin bisa lewat. Susi menyapa Kevin, "Sudah pulang ya Kevin?", tanya Susi. Kevin mengangguk dan berlalu. Susi yang tadinya melihat Kevin sudah datang dari tempat kerja berpikir kalau Kevin pastinya mau istirahat. Sehingga rencana Susu untuk bersih-bersih di dalam rumah tertunda. Susi pun pulang dengan senang, karena Ia sudah berhasil menyapa Kevin. Itu sudah merupakan kemajuan yang luar bisa bagi Susi
__ADS_1