
Terdengar suara tangis bayi di ruang bersalin, membuat seluruh keluarga yang menunggu di depan ruangan, mengucapkan syukur atas kelahiran cucu dari dua keluarga. "Selamat ya, Res. Akhirnya kita memiliki cucu baru," ucap Bu Sonia memeluk Bu Resti dengan mata berkaca-kaca.
Bu Resti membalas pelukan itu tak kalah erat. "Selamat juga untuk kamu, Sonia." Dan air mata bahagia di antara keduanya tak terbendung lagi.
"Akhirnya, aku punya cucu lagi," ucap Pak Adhi tak kalah ikut merasakan kebahagiaan.
"Selamat ya, Pak Adhi," ucap Bu Resti tersenyum lebar. Pak Adhi balas mengangguk dan memeluk sang Istri penuh kasih sayang. Regi yang ikut menemani, memeluk mamanya turut bahagia.
Sedangkan dalam ruangan, Bumi tak henti-hentinya mengecupi kening Senja sambil menggumamkan terimakasih berulang kali. Dia sangat bahagia. Akhirnya, anak keduanya telah lahir dalam keadaan sehat dan sempurna.
"Putrinya mau diberi nama siapa, Pak Bu?" tanya seorang petugas kesehatan, membuat Bumi tersenyum lebar.
"Renjana Ayudisha," kata Bumi lalu menatap Senja yang kini memejamkan mata dengan bibir mengulas senyum.
"Nama yang indah. Baiklah. Kami akan bersihkan bayinya terlebih dahulu dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap suster tadi sambil tersenyum manis.
Tak berbeda jauh dengan putrinya, Senja pun harus dibersihkan setelah melahirkan. Satu jam kemudian, Senja akhirnya dipindahkan ke rumah rawat inap. Walau tidak ada yang salah, karena bayi dan ibunya sehat, tetap saja Senja masih butuh observasi beberapa jam ke depan.
"Hai, Bunda..." ucap seorang suster yang memasuki ruangan Senja berada. Di dalamnya, ada Bumi juga. Sedangkan Bu Resti, Bu Sonia, dan Pak Adhi sudah pulang lebih dulu untuk mengurus keperluan di rumah juga Arta.
Senja yang sedang duduk sambil bersandar pada brankar, kini menegakkan tubuh, menatap kedatangan suster yang membawa anaknya. "Silahkan disusui lebih dulu ya, Bu. Itu akan baik untuk imunitas putri Ibu," arah suster tadi.
Senja hanya mengangguk dengan raut wajah bingung. Hal itu membuat suster bertanya karena beliau menangkap raut wajah bingung itu. "Kenapa, Bu? ASInya sudah lancar kan?" tanya Suster tadi.
Senja mengangguk lagi dan tatapannya kini tertuju pada sang Suami. "Sudah, Sus. Namun, saya tidak tahu bagaimana caranya menyusui," ungkapnya tidak ingin berbohong. Hal itu wajar karena Senja merupakan ibu baru.
Sang Suster terkekeh pelan. "Sini, biar saya bantu, Bu." Lalu, putrinya di posisikan dengan nyaman dan suster itu mengarahkan dengan baik hingga ASI itu berhasil di transfer ke mulut sang Putri.
"Wah, seperti itu ya, Bu. Asinya lancar sekali. Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu ya."
Lalu, sang Suster beralih menatap Bumi yang berdiri terpaku menatap Senja tak berkedip. Beliau berkata. "Pak? Jaga istri dan anak Bapak baik-baik. Jangan rebut hak anak Bapak lebih dulu, karena putri Bapak lebih membutuhkan."
Senja terkikik geli melihat wajah Bumi yang salah tingkah setelah suster tadi berkata demikian. Setelah Suster berlalu, Bumi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
...----------------...
Melangkah dengan hati yang bersyukur, dengan menghargai segala pemberian hidup. Setiap detik adalah langkah, setiap rintangan adalah pembelajaran. Dalam sabar, seseorang mampu menemukan kekuatan untuk melewati proses hidup ini.
Tidak ada yang sia-sia. Semua akan tumbuh dan berbuah indah pada waktunya. Bersyukur dan bersabarlah, karena kehidupan ini adalah pelajaran yang luar biasa.
"Arta! Jana! Papa!" teriak Senja ketika telah selesai menata seluruh makanan di meja makan. Dia telah selesai membuat banyak makanan, tetapi anak dan suaminya tak kunjung datang. Mungkin karena semalam keempatnya begadang demi bisa menonton film kartun kesukaan Jana.
Putrinya itu tumbuh begitu cepat begitu juga dengan Arta, sang Putra. Walau usia Jana masih lima tahun, aura kecantikannya sagat menurun dari sang Ibu. Tidak berbeda dengan Jana, Arta pun tumbuh menjadi anak laki-laki yang pengertian, ramah, dan tampan.
Sungguh. Itu merupakan level tertinggi kebahagiaan dalam hidup Senja. Memiliki keluarga yang harmonis dan anak-anak yang sehat mental.
Belum ada reaksi apapun, atau minimal salah pintu kamar terbuka. Hal itu memaksa Senja untuk naik dan menghampiri langsung. Ketika pintu terbuka, dia melihat suaminya masih tertidur pulas.
"Papa! Bangun! Ini sudah siang!" pekik Senja seketika membuat Bumi menggeliat.
"Kenapa sih, Bunda? Tunggu lima menit lagi kan bisa," kesal Bumi yang kini kembali menyembunyikan wajah di balik selimut.
Merasa tak tahan lagi, karena suaranya yang tinggi nyatanya tak mampu membangun anak dan suaminya, Senja mendekat dan membuka selimut milik Bumi.
Bumi tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Kejadian berikutnya, tangan Senja tiba-tiba ditarik hingga berhasil terbaring di ranjang. Bumi dengan sigap beranjak untuk menutup pintu lalu menguncinya.
Baru setelahnya, Bumi kembali melempar diri ke atas ranjang untuk memeluk Senja. "Mas! Ini sudah siang," protes Senja saat suaminya mulai menciumi leher dan tengkuknya berulang kali.
Saat sedang berdua, Senja masih suka menggunakan sebutan Mas. Saat bersama anak-anak, tentu saja Senja menggunakan sebutan Papa untuk memberikan contoh yang baik.
"Mau sarapan Bunda dulu biar semangat," jawab Bumi langsung menyambar bibir Senja tetap dengan penuh kelembutan. Tak merasa keberatan, Senja membalas pagutan itu penuh mesra. Seluruh jemarinya sudah bergerak untuk menarik-narik rambut Bumi pelan.
Keduanya menjauhkan wajah ketika pasokan oksigen di paru-paru menipis. Namun, hal itu hanya sebentar sebelum Bumi pada akhirnya melepas seluruh kain yang melekat pada diri Senja. Setelah itu, dia melakukan hal sama pada diri sendiri.
Senja menatap Bumi yang kini sedang membalas tatapan darinya. Tubuhnya sudah ditutup selimut dan menempel pada tubuh Bumi hingga membuat sebuah gesekan-gesekan menggelikan.
"Kenapa?" tanya Bumi sambil menyelipkan anak rambut Senja ke telinga.
__ADS_1
Senja tertawa. "Kamu tampan banget kalau baru bangun tidur," puji Senja tulus. Hal itu membuat Bumi tersenyum malu.
Tangan Bumi kembali melalang-buana, menyentuh bagian-bagian favoritnya dengan mata yang tak lepas menatap istri tercinta. Apalagi ketika melihat Senja memejamkan mata dengan bibir yang sedikit terbuka, membuat gairah yang dia rasakan semakin membuncah.
"Mash," desis Senja lirih.
"Iya, Sayang?" jawab Bumi menggelikan.
Ketika tangan Bumi semakin bergerak turun, tubuh Senja semakin menggila dan bibirnya tak henti mengeluarkan racauan merdu.
Mungkin, karena sudah tak tahan, Senja bangkit dan menindih tubuh Bumi. "Kelamaan," kesalnya yang berniat memulai permainan lebih dulu.
Bumi tertawa kencang. "Ya sudah. Masukkan sekarang kalau begitu." Dan Senja benar-benar melakukannya. Tubuhnya menari di atas tubuh Bumi penuh kelembutan. Perlahan, tetapi pasti.
Hingga keduanya sama-sama ingin mencapai puncak, tiba-tiba terdengar panggilan dari depan kamar.
"Bunda! Papa! Keluar! Jana sudah bangun!"
Keduanya berhenti dan saling lempar pandang. "Lanjutkan. Sedikit lagi selesai," rengek Bumi tidak tahan.
SELESAI...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...akhirnya selesai juga.. ...
...Terima kasih untuk kalian yang sudah memberikan banyak dukungan dan membaca ceritaku hingga selesai.. ...
...semoga kalian sehat selalu dan diberi umur panjang. Jangan kapok baca ceritaku lagi ya.. 😘...
...Bye.. ...
...Author pamit undur diri.. ...
__ADS_1
...Muah.. sekebon😘😘...