Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Si Manis Yang Tambah Manis


__ADS_3

Menikah adalah mewujudkan keluarga sakinah mawadah warahmah. Selama menjalani biduk rumah tangga, kadang terasa manis semanis gula, kadang ada juga yang asin seasin garam dan bahkan pahit seperti empedu. Tiga bulan awal pernikahan dianggap sebagai manis-manisnya setelahnya siapa yang tahu. Harapannya menjalani pernikahan tetap terasa manis, walau waktu terus berjalan, dan ujian semakin banyak, namun pernikahan tetap kokoh berdiri tidak tergoyahkan.


Sampailah weekend yang ditunggu, sehabis shalat Jumat Yahya langsung mengajak istrinya bersiap-siap. "Sudah siap Sus?", tanya Yahya. "Belum mas, rencana kita makan siang dulu", jawab Susi. "Ga usah masak, kita makan di warung makan di perjalanan, nanti kalau makan di rumah, masih menunggu beberes rumah lagi", kata Yahya. "Okelah kalau begitu, ne sudah mau siap", jawab Susi. "Mas sudah berbenah juga?", tanya Susi. "Tuh barang-barang mas sudah di dalam tas", Yahya menjawab sambil menunjuk tas yang sudah berada di mobil. Susi bingung kapan suaminya itu packing-packing barang, sedangkan dirinya saja belum selesai karena masih bingung baju apa yang akan dibawa. "Mungkin laki-laki tidak banyak printilan, jadi bawaannya ringkas, ga seperti perempuan", pikir Susi.


Sambil menunggu Susi, Yahya melihat halaman sekitar. Halaman kontrakan bersih, sepertinya Susi rajin membersihkannya. Yahya teringat waktu Fatma masih ada, juga bersih seperti ini. Semoga Susi juga sosok perempuan yang sama lemah lembutnya dan rajin seperti Fatma. Susi pun muncul setelah beberapa lama bersiap-siap. "Mas, siap", kata Susi. "Oke, cus let's go", kata Yahya.

__ADS_1


Susi dan Yahya pun pergi menikmati perjalanan weekend. Sebelum pergi, Yahya berbicara sebentar dengan Kevin. "Bicara apa mas?", tanya Susi. "Bilang kita mau ke Banjarmasin, mas minta Kevin jaga kandang selama kita pergi", jawab Yahya.


Yahya pun masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin yang akan memakan kurang lebih enam jam. Baru 30 menit menyetir, Yahya menanyakan Susi mau makan siang dimana. Susi menjawab terserah, yang artinya bisa memilih warung makan apa saja. Dan Susi menurut saja. Bagi Yahya, itu adalah pilihan yang bebas, mau berhenti makan di tempat mana saja, Susi tidak masalah. Yahya akhirnya memilih makan di warung terdekat, dengan menu ayam panggang. "Bagaimana kalau makan disini?", Yahya bertanya sama istrinya sambil berhenti di depan rumah makan. Susi mengangguk setuju. Akhirnya mereka berdua pun makan dengan lahap. Setelah itu melanjutkan perjalanan lagi. Saat menyelesaikan pembayaran, kasir bertanya, "Mau kemana?". "Mau ke Banjarmasin", jawab Susi. "Kalian kakak adik sungguh mirip", kata kasir itu. "Dia bukan kakakku, tapi suamiku", jawab Susi. Si kasir malu-malu dan meminta maaf. Bagi Susi ga masalah, hanya kesalahpahaman biasa saja.


Susi pun mengikuti Yahya masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Susi tertawa sendiri, Yahya yang bingung bertanya. Susi mengatakan lucu sekali masa kita berdua dikira kakak adik, sewaktu Susi bilang kita suami istri barulah kasir tadi minta maaf. "Apa kita mirip ya mas?", tanya Susi. "Mungkin karena mirip itu kita jodoh", kata Susi lagi. "Mana ada hal seperti itu, paling si kasir ga ada topik obrolan, jadi sekedar bicara aja", kata Yahya. "Tapi Susi jadi kepikiran apakah benar kita mirip, mau sekedar ngomong juga perlu dibuktikan", kata Susi. "Sini mas", Susi langsung menarik Yahya kesamping dan mengarahkan kameranya, ternyata Susi mengajak suaminya foto berdua. "Apa-apaan kamu Sus, mas lagi nyetir. Kalau mau foto, ya bilang-bilang. Mas bisa berhenti sebentar, berbahaya Lo tadi", Yahya sedikit marah. "Maaf mas, saking semangatnya tadi, makanya langsung saja terpikir foto bareng", jawab Susi. Yahya diam sambil fokus menyetir. Susi memperhatikan fotonya tadi dengan seksama. "Dimana miripnya?", gumam Susi. Yahya melirik istrinya itu. Lalu berkata, "Makanya jangan langsung percaya omongan orang". Susi masih saja memandangi foto dirinya berdua. Susi kemudian berkata, "Ga mirip kok". Akhirnya Yahya lega Susi menyadarinya juga. "Aku lebih manis daripada mas Yahya, ga bisa ini", kata Susi. "Iya, iya kamu manis. Malah jauh lebih manis daripada gula", puji Yahya. Susi asyik melihat foto, kemudian berkata lagi, "Dimana miripnya ya?". Yahya geleng-geleng kepala, istrinya masih saja memikirkan pandangan kasir tempat makan barusan.

__ADS_1


Didalam kamar hotel, Susi langsung melihat keluar jendela, pemandangan jalan dan kota terlihat dari lantai 3 kamar hotel. "Waaah, baru kali ini lihat dari ketinggian seperti ini", Susi berseru kegirangan. Yahya tersenyum. "Wajar saja lah, Khan dirimu tinggal di Banjarmasin, masa menginap di hotel". "Bersihin badan dulu habis dari perjalanan, terus kita ajak Reva selama 2 hari ini", kata Yahya lagi.


Beberapa saat kemudian, "Mas, yuk berangkat", kata Susi. "Semangat betul", kata Yahya. "Ya iyalah mas, lama ga ketemu sama anak", jawab Susi. "Ayo cepetan", kata Susi lagi. "Iya, iya, bentar", kata Yahya lagi. Setelah bersiap, Yahya dan Susi pun langsung berangkat lagi menuju rumah Reza.


Saat sampai di rumah Reza, "Assalamualaikum", kata Susi dan Yahya berbarengan. "Waalaikumsalam", jawab seorang perempuan tua yang tidak lain adalah mantan mertua Susi alias ibunya Reza. "Susi, lama ga ketemu nak. Tambah cantik saja. Ayo masuk-masuk, ajak juga suamimu", kata mertua Susi. "Iya Bu, Revanya ada Bu, lama ga ketemu", kata Susi lagi sambil melihat ke sekitar kalau-kalau ada Reva. "Bentar lagi pulang, tadi main di rumah temannya", jawabnya. Susi pun menunggu di ruang tamu, dan ibu mertua Susi tadi pun masuk kedalam rumah, dan kembali menyuguhkan minuman buat Susi dan Yahya. "Ibu ga usah repot-repot", kata Susi. "Ga repot kok, malah ibu senang dikunjungi dari kalian yang jauh-jauh dari Tanjung", jawab ibu.

__ADS_1


"Assalamualaikum", kata Reva yang baru saja pulang dari rumah temannya. "Waalaikumsalam", jawab Susi. dan la pun langsung beranjak dari kursi menemui anaknya itu, Reva berteriak kegirangan, "Ibu!". Susi senang mendengar suara anaknya langsung, rasa kangen tiba-tiba menghilang. "Iya, ibu datang jenguk Reva", kata Susi. Susi pun berkata, "Anak mama tambah manis saja, lama tidak bertemu". "Reva bukan gula ma", jawab Reva. Susi makin gemes dengan jawabannya anak perempuannya itu.


Susi bertanya kepada ibu mertuanya, "Bu, bolehkah saya ajak Reva di hari ini jalan sama saya selama di Banjarmasin?". "Lah, mau diajak kemana? Kalian ga nginap disini saja?", tanya ibu itu. "Kami menginap di hotel bu selama disini, rencananya mau mengajak Reva juga", kata Susi. "Kalau begitu ga papa, Reva juga senang bisa bertemu kamu, tapi Reza belum pulang, bisa malam baru pulang. Nantinya biar ibu saja yang kasi tahu kalau kalian ajak Reva", jelas ibu. "Iya Bu, makasih", kata Susi. "Yuk Reva, siap-siap mama ajak jalan-jalan", kata Susi lagi. "Horreee, mama lama di Banjar nya?", tanya Reva. "Ga bisa lama-lama Reva, mama harus pulang lagi pada hari Minggu, karena Abah Yahya harus masuk kerja lagi Senin nya", jelas Susi. Reva cemberut dan kecewa, terlihat jelas Ia sangat berharap ibunya tidak pergi lagi. "Yuk manis, mama bantu siap-siap", ajak Susi. Reva pun ikut saja.


__ADS_2