
Senja pada akhirnya mengetahui jika sedari dalam kandungan telah menjadi seorang yatim. Ayahnya meninggal ketika Senja berusia dua bulan dalam kandungan. Membayangkan bagaimana perjuangan ibunya dulu, Senja seketika merasa berdosa karena telah menuduh yang tidak-tidak.
Ayah Reysan dan Regi, atau ayah tiri Senja, beliau datang di hidup Bu Resti ketika Senja baru saja dilahirkan. Sebenarnya, keduanya sudah saling mengenal karena dulu pernah bekerja di perusahaan yang sama. Bedanya, Ayah tiri Senja bekerja sebagai manager sedangkan Bu Resti hanyalah karyawan biasa. Perbedaan strata ekonomi yang cukup kontras.
Setelah sekian tahun, Tuhan mempertemukan keduanya kembali dan memutuskan untuk menikah. Di saat itu, Bu Resti kembali mengalami kesulitan karena tidak di terima dengan baik dalam keluarga suami.
Hari-hari berlalu. Senja mulai berdamai dengan keadaan. Dia juga mulai membiasakan diri untuk memanggil Bu Resti dengan sebutan Ibu. Sebenarnya, Bu Resti memberikan dua pilihan antara Mama dan Ibu. Namun, Senja memilih Ibu sebagai panggilannya.
Begitu juga Regi dan Reysan yang akhirnya sering datang ke rumah untuk bermain dengan Arta. Adik dari Senja, tetapi berbeda ayah itu masih bersekolah. Regi duduk di bangku kelas tiga SMP sedangkan Reysan baru kelas enam SD.
Kebahagiaan seakan meliputi hidup Senja saat ini. Dia terharu ketika Regi dan Reysan sama sekali tidak keberatan akan kehadiran dirinya di tengah-tengah keluarga.
"Mama mau dong, nanti kita ketemuan gitu. Biar Mama bisa akrab sama Ibu kamu," ucap Bu Sonia ketika Senja dan Bumi datang ke rumah beliau untuk sarapan bersama.
Senja mengulas senyum. "Tentu saja, Ma. Nanti, aku akan atur jadwalnya. Ibu kan orang sibuk. Apalagi, beliau mengurus semuanya sendiri," jawabnya yang telah selesai dengan makanannya.
"Oh iya. Berarti, Papa adik-adik kamu sudah meninggal ya, Nja?" tanya Pak Adhi, sang Papa Mertua.
Senja mengangguk membenarkan. Ibunya bercerita jika dia kembali ditinggal pergi untuk selama-lamanya. Dan itu membuat Senja ingin menangis melihat bagaimana rapuhnya sang Ibu.
"Benar, Pa. Sekitar dua tahunan ini."
__ADS_1
Pak Adhi mengangguk paham. "Selain dua adik laki-laki kamu, apa masih ada lagi keluarganya?" tanya beliau lagi seakan belum puas.
"Ada, Pa. Ada... Nenek dan Tante." Senja menjawabnya sedikit ragu. Dia tidak tahu harus membahasakannya dengan panggilan apa. Oma? Tentu saja Senja terlalu percaya diri. Bagaimana jika nenek dari adik-adik nya itu tidak mau mengakui Senja cucunya?
"Ooh, masih ada nenek dan tante. Tinggal dimana, Nja?" Kali ini bukan Pak Adhi yang bertanya, melainkan Bu Sonia yang justru tertarik untuk mengetahui keluarga Senja.
"Di kota ini juga, Ma. Cuma, rumahnya agak jauh kata Ibu. Katanya juga, Nenek sakit sudah lama dan menghabiskan waktunya di kursi roda," jelas Senja mengatakan apa yang dia ketahui.
Raut wajah Bu Sonia tampak tercengang. "Ya ampun. Kamu ada rencana jenguk nggak? Kalau ada, Mama ikut," tanya Bu Sonia dan Senja hanya tersenyum menanggapi.
Bumi yang mendengar itu, seketika menengahi. "Sudah, Ma. Hubungan Neneknya Regi dengan Ibu Senja itu kurang baik, Ma. Kita tidak bisa memaksa keduanya untuk berbaikan secara cepat. Ada sesuatu hal juga yang membuat mereka kurang akur," ucapan Bumi sambil menatap Senja.
...----------------...
Sang Surya mulai berarak menuju peraduan ketika Senja tiba di sebuah pemakaman dimana Deandra dikebumikan. Bumi dan Arta juga turut ikut. Biasanya, Bumi akan datang sendiri atau Senja yang datang sendiri. Kini, ketiganya sama-sama datang untuk berziarah.
"Kita mau ke Mama ya, Bun?" tanya Arta ketika Bumi memimpin jalan dan Arta di tengah sedangkan Senja di belakang.
"Iya, Sayang," jawab Senja penuh kelembutan. Setelah melewati beberapa nisan, akhirnya mereka tiba dan berjongkok di samping makam.
Senja mengulurkan sebuket bunga pada Arta untuk diletakkan di atas pusara. Arta menurut, lalu kepalanya menengadah ke langit dengan mata terpejam. Bibirnya menyunggingkan senyum, seperti sedang berdoa dalam hati.
__ADS_1
Melihat itu, Bumi menatap Senja lalu tersenyum ketika menyadari jika Senja juga sedang melihat ke arah Arta. "Kamu berdoa apa?" tanya Senja menggoda Arta ketika bocah tampan itu membuka mata dan menatap Senja penuh sayang.
"Anti Alta kacih tahu di lumah," jawab Arta penuh teka-teki. Hal itu membuat Senja gemas dan mengacak rambut Arta gemas.
Senja dan Bumi juga turut mendoakan semoga Deandra tenang di alam sana dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Hingga matahari sudah sepenuhnya tenggelam, ketiganya meninggalkan pemakanan lalu pulang menuju rumah nyaman.
Sesampainya di rumah, Arta mendatangi kamar Senja. Bocah itu sudah berganti pakaian, menandakan telah mandi. "Sini, Sayang. Ada apa?" tanya Senja mempersilahkan putranya masuk.
"Bunda mau tahu tadi Alta doa apa tak?" tanya bocah itu yang membuat Senja menghentikan gerakan mengeringkan rambut. Dia menoleh dan tersenyum.
"Mau! Kasih tahu dong. Bunda ingin tahu Arta doa apa?" jawab Senja yang sudah meletakkan hair dryer dan memilih merapikan rambut dengan sisir.
Senja memberi kode untuk Arta duduk di pangkuan. Bocah itu menurut dan duduk dengan nyaman karena Senja memeluknya penuh kasih sayang.
"Tadi, Alta bilang ke Mama kalau Alta cenang ada Bunda Nja. Mama pelnah bilang kalau Bunda itu, Ibu peri. Cekalang, Alta tahu itu benal. Alta bahagia. Makacih, Bun. Bunda cudah mau jadi Ibu peri ntuk Alta." Mendengar pengakuan Arta, Senja tak kuasa menahan bibirnya untuk tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca, merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Namun, dari sekian banyaknya kalimat yang Arta susun susah payah, Senja justru salah fokus pada pengucapan Ibu Peri yang begitu fasih. "Loh, itu Arta bisa sebut Ibu Peri, pakai 'R'. Namun, kemana yang lainnya masih cadel?" tanya Senja penuh selidik.
Hal itu membuat Arta tertawa. "Oh iya. Alta lupa, Bun."
Tawa Arta menular pada Senja. Membuat suasana ruangan menjadi hangat dan hidup. Bumi yang berniat untuk masuk, tak sengaja melihat pemandangan tersebut. Senja memang bagai Ibu Peri bagi Arta. Namun, tetap saja Deandra tidak tergantikan.
__ADS_1