
Baru saja Senja turun, sebuah mobil ikut berhenti di depan pagar. Sebenarnya, Senja ingin tidak peduli. Namun ketika melihat siapa yang turun dari dalam mobil, seketika itu juga Senja menatap datar.
"Eh, ada Mbak Senja. Kebetulan sekali ya, Mbak. Mas Bumi tadi menelepon ku untuk datang ke rumah karena Arta sedang sakit. Katanya, Mbak Senja sedang tidak berada di rumah. Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Naura pura-pura peduli, yang diabaikan begitu saja oleh Senja.
Senja segera menekan bel agar pagar di depannya dibuka dari dalam. Hal itu membuat Naura kembali bersuara. "Berarti benar dugaanku ya, Mbak. Ini kan rumah Mbak Senja juga. Lalu, kenapa harus menekan bel? Jangan katakan jika Mbak Senja pergi dari rumah?" tebak Naura dan Senja hanya memutar bola matanya jengah.
"Tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Urus saja diri kamu sendiri. Tuh, leher kamu tutupi pakai apa gitu. Merah-merah begitu," ucap Bu Resti yang ikut kesal dengan tingkah perempuan di sampingnya.
Senja yang sejak tadi tak memperhatikan ke arah leher, sontak menatap ke arah yang dimaksud. Mata Senja membulat. Hal itu membuat Naura seketika merasa malu. Wajahnya sudah merah padam. Perempuan itu bergegas masuk ke mobil dan meninggalkan perumahan.
Senja hanya tersenyum konyol menatap ibunya yang juga melakukan hal sama. "Ibu heran sama perempuan zaman sekarang. Mereka seakan tidak memedulikan harga diri. Wajar kalau sudah menikah. Bukankah dia belum menikah?" Bu Resti menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir.
Sedangkan Senja, dia tidak peduli. Itu bukan urusannya. Bersamaan dengan itu, pagar di depannya terbuka menampakkan Bi Tijah yang membelalakkan mata lebar.
"Bu Senja!" ucap beliau terkejut.
"Ayo masuk, Bu," ajak Bi Tijah.
"Arta dimana, Bi?" tanya Senja yang berjalan tergesa-gesa memasuki rumah.
"Di kamarnya, Bu."
Tanpa basa-basi, Senja bergegas menuju kamar Arta, meninggalkan ibunya bersama Bi Tijah. Sesampainya di depan kamar Arta, Senja membuka pintu itu perlahan agar tidak menganggu putranya yang sedang beristirahat.
Namun, dugaan Senja salah. Dia lupa jika dalam rumah itu ada Bumi. Saat ini, Arta sedang berganti pakaian dengan dibantu oleh Bumi. Senja ingin mundur karena kedatangannya belum disadari, tetapi suara Arta yang memanggilnya, membuat Bumi menoleh.
"Bunda."
Senja mengangguk dan tidak bisa kabur lagi. Dia berjalan mendekat dan membawa Arta dalam gendongan. Raut bahagia tampak terpancar pada wajah pucat Arta. Belum lagi bibirnya yang kering dan mengelupas itu, menyunggingkan senyum lebar.
__ADS_1
"Alta lindu, Bunda. Bunda kemana?" rengek Arta memeluk leher Senja erat.
Senja terkekeh pelan dan mengelus punggung putranya. "Arta sudah minum obat belum?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum. Pahit. Alta tak cuka." Arta kembali merengek. Senja pun semakin erat memeluk putranya.
"Maafkan Bunda ya. Yuk, sekarang minum obat dengan Bunda. Dimana obatnya, Sayang?" Dengan lembut, Senja mendudukkan Arta di sisi ranjang. Bumi yang sejak tadi memperhatikan interaksi Arta dan Senja, dengan sigap mengambilkan sirup yang dokter resep kan.
"Ini," ucap Bumi sambil menyodorkan sebungkus obat dan Senja menerima tanpa mengeluarkan suara. Seperti janjinya di awal, Senja belum ingin berbicara pada Bumi.
"Wah, ini obatnya manis kok. Apalagi, ini rasa stroberi loh, Ta," bujuk Senja ketika telah memindai obat berbentuk sirup pada sendok takar.
"Ayo, buka mulutnya. Arta kan anak kuat," bujuk Senja lagi yang kali ini berhasil. Tanpa banyak drama, Arta meminum seluruh obat yang dokter berikan. Setelah itu, Senja memberikan apresiasi berupa pelukan pada Arta karena sudah menjadi anak yang hebat.
"Hebat, Arta. Bunda bangga."
"Cama Bunda obatnya tak pahit. Enak," celetuk Arta sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Sejak semalam Arta selalu memanggil nama kamu. Panasnya sudah turun tadi pagi. Hanya saja, Arta harus lebih banyak minum air putih agar tidak kekurangan cairan," jelas Bumi tidak peduli apakah ucapannya akan mendapat balasan atau justru berakhir di abaikan.
Senja mengangguk saja. "Oh iya. Tadi Bunda lihat Tante Naura loh. Arta mau ketemu Tante Naura?" tanya Senja bermaksud menyindir Bumi. Kalimat itu juga sebagai pengalihan topik pembicaraannya dengan Bumi.
Arta menggeleng dengan wajah yang mengernyit kesal. "Alta tak cuka Ante Naula," aku Arta polos.
"Loh, kenapa? Tante Naura kan baik niatnya, mau jenguk Arta," jawab Senja tidak ingin Arta membenci orang terlalu dalam.
Arta hanya menggelengkan kepala dan mengulurkan tangan meminta untuk di gendong. Dengan senang hati Senja mengangkat Arta dan berniat mengajak putranya keluar dari kamar.
"Aku tidak pernah meminta Naura datang. Kemarin, Mama mungkin mengabari Pak Theo kalau cucunya sakit. Bukan aku," jelas Bumi ketika melihat Senja mulai melangkah, menjauhi dirinya.
__ADS_1
Senja sempat berhenti melangkah dan menunggu Bumi selesai berbicara. Setelah di rasa cukup, Senja kembali melangkah, meninggalkan Bumi sendirian.
"Aku ada, tetapi tidak dianggap," keluh Bumi menghembuskan napasnya kasar.
"Kenapa keadaanya sekarang seperti terbalik? Dulu, Senja yang berusaha untuk bisa berbicara padaku. Kini, aku harus ada si posisi itu. Apa ini yang dinamakan hukum karma?" Bumi menjambak rambutnya kasar.
Pada akhirnya, dia ikut keluar menyusul Arta dan Senja. Dia akan gunakan kesempatan ini untuk berbincang dengan sang Istri. Sesampainya di ruang tengah, sudah ada Bu Resti dan sang Mama yang sedang berbincang hangat.
"Sudah lama di sini, Bu? ," sapa Bumi sambil menyalami ibu mertuanya.
"Belum kok. Bareng tadi, dengan Senja," jawab Bu Resti ramah seperti biasa.
Kepala Bumi celingukan mencari keberadaan Senja dan Arta yang tidak ditemuinya di ruang tengah. "Senja ada di belakang. Sana, susul gih," pinta Bu Sonia seakan paham akan isi kepala putranya.
"Iya. Kalian harus bicara berdua. Tidak baik membiarkan masalah berlarut-larut terlalu lama," sambung Bu Resti menyetujui usul besannya.
Bumi mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apakah gelagatnya mudah sekali terbaca? "Baiklah. Aku susul Senja dulu kalau begitu," pamitnya yang segera melangkah menuju teras belakang rumah.
Setibanya di sana, Bumi melihat Senja yang sedang duduk di kursi rotan dengan Arta yang duduk di pangkuan. Bumi ikut bergabung dan duduk di kursi yang masih kosong.
Lagi-lagi keberadaanya tidak dianggap oleh Senja. Perempuan itu tetap berbincang dengan Arta, mengabaikan Bumi yang ada duduk di sampingnya.
"Senja?" panggil Bumi yang masih diabaikan oleh Senja.
"Senja? Kita harus bicara. Banyak sekali yang ingin sampaikan. Tolong, hentikan semua ini," mohon Bumi merengek seperti begitu frustasi dengan sikap Senja yang sekarang.
"Ayo, Arta. Kita masuk dulu ya. Bunda mau berbicara dengan Oma."
Bumi memejamkan mata ketika Senja mengabaikan ajakannya. Istrinya itu justru kembali meninggalkan dirinya yang masih duduk terpaku.
__ADS_1
"Apakah aku ini sejenis jin? Apa Senja memang tidak melihatku?"