Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 27. Ibu


__ADS_3

"Kamu tidak suka? Ingin aku menghapusnya?"


Mendapat pertanyaan tersebut, seketika membuat Senja bimbang. Rasanya, terlalu lancang dan terkesan merebut bila nama yang sudah tertera harus dihapus. Walau Deandra telah tiada, tetap saja sosok itu sangat berjasa dalam hidupnya.


"Tidak. Aku tidak akan meminta Mas untuk menghapusnya. Aku sadar, bagaimanapun juga Deandra pasti memiliki ruang tersendiri di hati Mas. Aku tidak apa-apa," jelas Senja panjang lebar. Dia berusaha berpikir bijak dalam menanggapi masalah seperti ini. Karena tanpa Deandra, Senja juga tidak mungkin ada di posisi yang sekarang.


"Baiklah. Terimakasih atas pengertian kamu. Sebenarnya, aku sudah memikirkan hal ini sejak kemarin. Aku berniat untuk membuat ulang tanpa harus menghapusnya." Jawaban dari Bumi itu membuat kening Senja mengernyit.


"Maksudnya?"


Bumi terkekeh pelan sebelum menjawab sambil jemarinya menyisir rambut Senja yang berantakan karena ulahnya. "Aku akan kasih blok dan aku timpa dengan nama kamu."


"Hah? Memang bisa ya? Tidak sakit?" Senja sampai meringis bila mengingat bagaimana proses membuat tato itu tidaklah mudah. Senja pernah melihatnya di internet dan katanya, rasanya sakit.


"Bisa dong. Nanti kamu lihat dan hasilnya," balas Bumi yang tangannya mulai aktif kembali menyentuh titik-titik sensitif milik Senja. Hal itu membuat Senja ingin menjerit meminta dilepaskan.


"Mas! Sudah ya. Ini sudah malam. Tidur dulu," rengek Senja memohon dengan sangat.


Melihat bagaimana wajah Senja memelas, Bumi terkekeh dan mencium kening sang Istri penuh kelembutan. "Baiklah. Kita lanjut lagi besok pagi ya," ucap Bumi yang tak lagi Senja hiraukan.


Dia memilih memejamkan mata hingga merasakan deru napas Bumi menerpa wajahnya. Hal itu membuat Senja nyaman dan perlahan kelopak matanya terasa berat, lalu mimpi membawanya lelap.


Saat pagi hari tiba, Senja dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tak undang. Seorang wanita paruh baya telah berdiri di depan pintu sambil menatap dirinya dengan pandangan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Bu? Apa ada yang bisa saya bantu? Ibu ingin bertemu siapa?" tanya Senja karena wanita di depannya tak kunjung mengatakan maksud dan tujuan datang ke rumah.


"Apa benar jika kamu adalah Senja?" tanya beliau yang membuat Senja mengangguk sebagai jawaban.


"Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Bu?" tanya Senja lagi tanpa mengurangi rasa hormat dan kelembutannya.


"Ini Ibu, Nak. Maafkan, Ibu," ucap wanita yang belum Senja ketahui namanya itu, membuat Senja mundur perlahan dengan pandangan mata yang memburam.


"Maaf, Bu. Namun, saya yatim piatu. Saya juga sebatang kara. Sepertinya, Ibu sudah salah orang," jawab Senja dengan gemetar.


Dia cukup terkejut dengan kedatangan seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya. Yang Senja lupa adalah, bagaimana rupa wajah seseorang dalam foto yang ditunjukkan oleh Bu Wening waktu itu.


Dan wanita di depannya adalah orang yang sama. Ketika Senja akan menutup pintu, wanita itu segera menahan dan berharap Senja mau memberikan kesempatan. "Tolong, dengarkan saya dulu, Nak. Ada sesuatu hal yang membuat saya harus menitipkan ke panti. Saya—"


Yang membuat Senja tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh adalah, ketika wanita paruh baya di depannya bersimpuh di hadapan Senja. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu memang salah. Sangat salah. Namun, kamu tidak pernah tahu bagaimana susahnya Ibu berjuang untuk bisa menemui kamu."


"Susah? Itu kan Ibu sendiri yang membuat susah. Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia. Seandainya aku bisa memilih, mungkin aku akan lahir dari rahim seorang ibu yang bertanggung jawab. Dan seumur hidup, aku tidak akan merasakan bagaimana berjuang dan hidup sendirian."


Senja menyeka air matanya yang mulai bercucuran. "Tolong jangan katakan itu. Hati Ibu sakit mendengarnya," mohon wanita itu.


"Lalu, bagaimana hatiku? Setelah sekian lama aku berharap, mengapa baru sekarang? Di saat aku butuh pelukan menenangkan ketika duniaku tak baik-baik saja, Ibu kemana? Ibu tidak layak disebut seorang ibu. Bisa-bisanya Ibu hidup bahagia dan penuh kemewahan bersama keluarga baru Ibu, sedangkan di tempat lain ada anak yang Ibu telantarkan." Senja tidak sanggup lagi menopang berat badannya hingga ikut bersimpuh, berhadapan dengan sosok wanita yang mengaku sebagai ibunya.


"Ibu kemana saja... mengapa baru sekarang..." racau Senja yang suaranya teredam oleh tangis.

__ADS_1


Tanpa diduga, Senja merasakan tubuhnya ditarik dan didekap dengan sangat erat. Harusnya Senja menolak. Namun, hatinya tak bisa berdusta jika pelukan itu begitu nyaman dirasa. Pelukan setelah dua puluh lima tahun tidak pernah Senja rasakan.


"Ibu adalah ibu yang jahat. Aku kecewa," racau Senja lagi yang hanya diangguki oleh ibunya.


"Ibu memang jahat dan kejam. Ibu egois. Ibu adalah contoh yang buruk. Maafkan, Ibu."


Cukup lama keduanya menangis, saling meresapi perasaan satu sama lain. Hingga Senja memilih menjauh lebih dulu dan menghapus sisa air matanya. "Silahkan pulang, Bu. Tempat ibu bukan disini," usir Senja yang segera bangkit dan merapikan pakaiannya.


Seakan mengabaikan perintah Senja, beliau pun menjawab. "Kamu tahu? Nama panjang kamu itu diambil dari nama Ibu. Nama Ibu adalah Resti Kalaluna. Bohong jika selama ini Ibu melupakan kamu. Itu tidak benar. Hanya saja, Ibu selalu bersikap baik-baik saja karena ada adik-adik kamu yang harus tetap diurus."


Mendengar itu, Senja tersenyum miris. Bolehkah Senja cemburu pada orang-orang yang ibunya sebut dengan adik? Mereka pasti mendapatkan kasih sayang yang cukup. Senja menatap ibunya lekat. "Kalau begitu, urus lagi anak-anak Ibu," balas Senja masih meninggikan egonya.


Bohong jika saat ini dia tidak butuh Ibu. Nyatanya, ketika sosok itu ada di depan mata, Senja ingin memilikinya. Ingin mendekap bahkan ingin hidup bersama. Namun, bila mengingat jika dirinya adalah anak yang tidak diharapkan, seketika itu juga keinginannya menguar.


"Ibu tidak pernah bisa mendapatkan tidur nyenyak karena memikirkan kamu. Setiap menit dan detiknya yang ada dipikiran Ibu hanyalah kamu. Namun, Ibu masih terlalu takut pada suami Ibu untuk mengatakan yang sejujurnya. Maafkan ibu, Senja. Ibu menyayangi kamu. Setiap hari ibu tidak pernah berhenti berdoa agar kamu mendapatkan kehidupan yang baik. Karena keadaan, Ibu tidak bisa menjaga dan mengasuh kamu sebagaimana mestinya."


Bibir Senja bergetar. Matanya kembali memanas dengan pandangan mata memburam. Air matanya kembali terbendung di pelupuk mata hingga mengharuskan kepalanya mendongak untuk menghalau nya.


Mengapa rasanya begitu menyakitkan ketika tanpa disengaja ibunya mengatakan jika suami barunya lebih penting, lebih berharga.


"Senja?" panggil suara yang tidak lain adalah milik Bumi. Senja menoleh dan tersenyum penuh luka. Tanpa menunggu lama, Senja berlari ke arah Bumi dan masuk dalam dekapan sang Suami.


"Tolong aku, Mas. Dadaku rasanya begitu sesak," bisik Senja yang segera mendapat elusan lembut di punggungnya.

__ADS_1


"Tenang, Sayang. Dia ibu kamu."


__ADS_2