
Pernikahan adalah momen sakral bagi setiap orang yang sudah mengalaminya. Tidak ada yang menginginkan menikah beberapa kali, rata-rata menginginkan sebuah pernikahan yang benar-benar sekali dalam seumur hidup. Bagi Yahya dan Susi pun seperti itu. Tapi Tuhan memberikan kesempatan lagi untuk mereka bertemu, jatuh cinta dan akhirnya menikah. Tidak mudah bagi dua orang yang pernah sama-sama menikah untuk saling bisa memahami perbedaan. Hanya keikhlasan pasangan lah yang bisa membuatnya tidak menjadi masalah.
Susi mulai berteman dengan Riri dan Ratna, walaupun tidak bisa setiap hari ngobrol bareng karena kesibukan masing-masing. Hubungan mereka sangat baik. Susi merasa bahagia dengan pernikahannya dengan Yahya, walaupun tidak sesempurna yang diharapkannya. Sudah berapa lama Ia tinggal di kontrakan, namun pertemanannya tidak juga bertambah, baru Riri dan Ratna. Susi pun mengutarakan hal itu kepada suaminya Yahya. "Mas, lama-lama aku ga bisa punya teman orang kampung sini. padahal sudah lumayan lama tinggal disini", kata Susi. Yahya mendengarkan curhatan istrinya. Ia maklum kalau di siang hari suasana kontrakan sepi, kecuali ada ibu-ibu rumah tangga lainnya yang keluar kontrakan beraktivitas dan itu juga ga setiap hari. Susi juga butuh aktivitas di luar. Yahya pun berkata, "Coba ikut yasinan ibu-ibu RT sini. Mungkin saja menambah kenalan seperti yang kamu maksud". "Nanti besok kutanya Riri soal ini", kata Susi lagi. Susi merasa waktunya hanya habis di lingkungan kontrakan, Ia juga ingin merasakan suasana yang tidak hanya itu-itu saja dilakukan.
__ADS_1
Esoknya, Ia sengaja menunggu Riri dimuka kontrakan. Biasanya Susi tahu betul kapan Riri setelah selesai mengantar anaknya sekolah. Yang ditunggu-tunggu datang juga. "Ri, sini bentar", sapa Susi. "Iya", jawab Riri. "Ada apa?", tanya Riri. "Disini ada yasinan ibu-ibu ga? Aku ingin ikut, biar bisa nambah teman", tanya Susi. "Ada kok di tempat kita ini, kamu ikut aku aja nanti setiap Jumat sore siapa tahu ada pembukaan yasinan baru, jadi kamu bisa ikut sebagai anggota. Tapi kalau yasinan yang ada belum pembukaan, terpaksa kami mesti tunggu yasinan yang ada selesai", jelas Riri. "Ga papa, nanti aku ikut kamu biar tahu informasinya ya", kata Susi. "Sip, aku masuk beres-beres pekerjaanku ya", kata Riri. "Silahkan", jawab Susi mempersilahkan.
"Paling ga inilah langkah awal aku menunjukkan diri, masa istri Yahya tidak menampakkan eksistensinya. Jangan cuma Fatma saja yang populer disini, aku juga bisa tidak kalah populer", kata Susi pada dirinya. Susi semangat melakukan aktivitasnya, halaman kontrakan bersih, selanjutnya halaman rumah utama. Susi sudah mulai menyesuaikan dengan suasana sekitar rumah. Kalau di Banjarmasin, suasana agak terasa panas karena kurangnya pepohonan yang rindang membuat teduh lingkungan, di Tanjung Ia tinggal sekarang suasana nya berbeda, adem, tenang dan tidak ada hiruk pikuk kebisingan seperti di Banjarmasin. Susi sudah mulai betah disini.
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah itu, Susi pun bangun dari tidur nya, Ia kaget ternyata sudah siang, artinya sebentar lagi Yahya pulang untuk makan siang. Susi pun beranjak untuk menutup Jendela dan pintu yang dibukanya tadi, namun ketika mau menutup jendela Ia melihat sepeda motor Kevin terparkir di halaman, sehingga Susi tahu kalau Kevin ada di rumah. Susi pun langsung saja pergi dan meninggalkan rumah utama. "Kevin kalau pergi keluar pasti juga bisa menutup jendela dan pintu", pikir Susi. "Semoga saja aku tidak keduluan mas Yahya sampai di rumah", kata Susi lagi di dalam hatinya.
Bergegas Susi melangkahkan kakinya menuju rumah kontrakan. Ternyata apa yang dipikirkannya tepat terbukti, Yahya sudah berdiri di depan rumah menunggunya. Susi tersenyum melihat suaminya, namun Yahya seperti menunjukkan ekspresi bertanya kemana saja Susi sampai baru saja di rumah. "Masuk dulu mas", ajak Susi. Susi langsung mengajak Yahya masuk dan langsung memberitahukan kalau tadi dirinya dari rumah utama, habis bersih-bersih, malah ketiduran di ruang tamu. Yahya pun senang mendengarnya. "Mas pikir bisa saja kamu kabur", kata Yahya. "Kabur kemana mas?", tanya Susi. "Pulang ke Banjarmasin lah", jawab Yahya. "A hahaha....", Susi tertawa. "Sudah betah disini", jawabnya singkat. "Ngomong-ngomong tentang Banjarmasin, kapan kita ke Banjarmasin mas? Aku ingin nengok Reva Lo", tanya Susi lagi. "Mas tadinya mau kasih kejutan, kalau minggu ini ke Banjarmasin mengajak kamu. Berhubung sudah ditodong pertanyaan begini, jadinya ya ga jadi kejutan lagi", jawab Yahya. "Hore!!", Susi berteriak kegirangan. "Hush, jangan begitu Susi", kata Yahya mengingatkan agar Susi tidak teriak-teriak. "Makasih ya mas, Susi memeluk Suaminya itu. "Coba kalau setiap hari dipeluk, jangan pas ada maunya saja", kata Yahya. "Oooo mau dipeluk setiap hari", kata Susi lagi. "Bukannya setiap malam juga sudah....", saat Susi ingin melanjutkan perkataannya, mulut Susi langsung ditutup Yahya. "Ga usah diucapkan, rahasia rumah tangga", kata Yahya. Susi memandang Wajah suaminya yang memerah karena malu. Tapi Susi masih saja menggoda Suaminya itu. "Gimana mas, masih mau dipeluk?", goda Susi lagi. Yahya tersenyum. Mereka berdua pun saling menggoda satu sama lain. Yahya berharap agar kondisi seperti ini akan berlangsung terus, keputusannya untuk menikah lagi bukanlah keputusan yang salah.
__ADS_1
Yahya pun kembali ke kantor meninggalkan Susi. Ketika melewati rumah utama, Yahya bertemu Kevin yang juga sama-sama mau pergi lagi ke kantor. "Mau berangkat juga Kevin?", tanya Yahya. "Iya Bah", jawab Kevin. "Tadi istri Abah ke rumah", kata Kevin lagi. "Iya , katanya Ia mau bantu kamu bersihin rumah utama", kata Yahya. "Makasih Bah, mungkin Susi orangnya baik", kata Kevin sambil izin pergi melaju dengan sepeda motornya, meninggalkan Abahnya lebih dulu. Yahya yang mendengar pendapat Kevin tentang Susi merasa senang, kalau akhirnya anaknya sudah mulai mau menerima kehadiran Susi.