Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 22. Boleh lupa


__ADS_3

Sejak tadi, Senja hanya membolak-balikkan badan, tak nyaman sekali. Kepalanya berkecamuk memikirkan hal apa yang sebenarnya terjadi di antara Bumi dan Naura.


"Jadi, selama ini Bumi masih selalu mengirim uang pada Naura? Dan dia tidak memberitahuku? Dia anggap aku apa memang?" gerutu Senja memukul bantal sebagai pelampiasan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Senja menengok pada jam yang bertengger di dinding kamarnya. Namun, deru mobil milik Bumi belum terdengar juga. Padahal, Arta sudah tertidur satu jam yang lalu. "Kenapa aku harus khawatir sih? Biarkan saja. Mau pulang atau tidak, itu urusan dia," gerutu Senja yang tidak sejalan dengan hati nuraninya.


"Aaaargh! Kenapa aku harus terganggu sih!" pekik Senja frustasi dan memutuskan untuk bangkit dari tidurnya. Tangannya bergerak menyisir rambut yang sudah berantakan.


Dengan perasaan kesal karena Bumi tak ada niatan untuk membujuk dan memilih langsung berangkat bekerja, serta hingga selarut ini belum pulang, membuat Senja beranjak menuju ruang tengah. Pada akhirnya, dia memutuskan menunggu kepulangan sang Suami.


"Bi?" panggil Senja ketika melihat Bi Tijah berniat melewati ruang tengah.


"Eh, Bu. Belum tidur?" tanya Bi Tijah sedikit terkejut.


Senja menggeleng. "Belum. Bibi tidur saja kalau sudah mengantuk. Pintu biar aku yang jaga," pinta Senja dan raut wajah Bi Tijah tampak tidak enak hati.


"Memangnya, tidak apa-apa, Bu?"


"Tidak apa-apa kok. Istirahatlah, Bi. Sebentar lagi Mas Bumi pasti pulang kok," jawab Senja meyakinkan. Bi Tijah pun mengiyakan permintaan Senja dan berjalan ke kamar belakang.


Sepeninggalan Bi Tijah, Senja memutuskan untuk menyalakan televisi dengan volume rendah agar tidak mengganggu penghuni lainnya. Dia menyalakannya hanya untuk menemani kesepian yang saat ini mendera.


Detik demi detik yang berlalu, tidak terasa waktu semakin larut dan menunjukkan pukul sebelas malam. Senja menghela napas kasar. "Apa aku hubungi Mas Bumi saja ya?"


Tidak ada pilihan lain. Kali ini saja Senja akan menurunkan egonya. Dia hanya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, perasaan Senja kini berubah gelisah.


Setelah nama Bumi tertera pada layar ponsel, Senja menekan tombol hijau hingga tulisan memanggil berubah menjadi kata berdering.


Butuh beberapa saat untuk teleponnya diterima. Senja menghela napas lega ketika Bumi menerima panggilan telepon darinya. "Hallo?" panggil Senja, tetapi suara yang terdengar di seberang begitu riuh.

__ADS_1


Senja sampai harus menjauhkan ponsel agar gendang telinganya tidak pecah. "Hallo?" panggilnya lagi.


"Apa?" jawab Bumi di seberang sana, cuek.


"Kamu dimana?" tanya Senja datar, berusaha tidak menunjukkan perasaan khawatirnya.


"Kenapa?"


Senja sampai menahan napas ketika mendengar pertanyaan singkat itu. Bumi masih saja bertanya kenapa dan bagaimana sedangkan status dia saat ini sudah menjadi seorang suami dan ayah.


"Pulang," pinta Senja lembut.


Terdengar suara hembusan napas kasar di seberang. Seperti begitu berat beban yang saat ini dipikulnya.


"Nanti." Jawaban itu cukup membuat Senja geram dan hampir meluapkan amarah. Namun, dia berusaha menjaga sikap agar Bumi tidak semakin bandel.


Butuh beberapa detik sampai Senja bisa mendengar jawaban dari seberang, yang membuatnya gelisah dalam penantian.


"Aku akan segera pulang," jawab Bumi lagi dan Senja bisa bernapas lega mendengarnya.


"Baiklah. Aku tunggu." Setelah itu, panggilan terputus. Senja Menghela napas lelah sambil menaruh ponsel di atas meja. Dia duduk bersandar dengan kepala menengadah, menatap langit-langit ruangan.


Hingga perlahan, kelopak matanya terasa berat dengan pandangan mulai memburam. Senja terlelap dengan posisi yang akan membuatnya terbangun dalam keadaan sakit leher.


...----------------...


Bumi tidak paham dengan dirinya sendiri ketika memutuskan untuk mendatangi klub malam. Tujuan dia bukan untuk mencari kesenangan. Melainkan untuk mencari ketenangan.


Semenjak bersama Senja, Bumi merasa dirinya sudah berubah menjadi orang yang gagu. Sulit sekali mendeskripsikan perasaan yang kini dirasakan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang saat ini aku rasakan. Deandra masih ada di sini, tetapi aku tidak ingin Senja pergi. Aku ingin Senja juga ada di hidupku. Padahal, dulu aku tidak menginginkan kehadirannya," gumam Bumi berbicara sendiri sambil menyentuh dada sebelah kiri, dimana hatinya berada.


Dia mengabaikan banyaknya wanita yang berusaha mendekati dan menawarkan diri. Tentu saja Bumi tidak sudi. Bumi juga tak meminum banyak wine malam itu. Hanya dua gelas dengan kasar alkohol rendah.


Lamunan Bumi tersentak kala mendengar dering ponsel miliknya. Nama Senja tertera sebagai penelepon. Bumi seketika ragu apakah harus menerima atau justru mengabaikan saja.


Namun, dia memutuskan untuk menerima dan begitu senang ketika mendengar suara lembut Senja yang memintanya untuk pulang. "Aku akan segera pulang," jawab Bumi segera keluar dari sana.


Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian, Bumi tiba di pekarangan rumah dan langsung memasukkan mobil ke garasi. Ketika tiba di depan pintu rumah, Bumi menghentikan langkah.


Terdengar dentuman cukup kencang yang berasal dari dadanya, membuat Bumi mendadak tidak percaya diri. "Kenapa aku jadi seperti ini?" tanya Bumi heran pada tempo jantungnya, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


Setelah menarik dan menghembuskan napas beberapa kali, Bumi memutar kenop dan melenggang masuk. Tidak lupa, dia mengunci pintunya kembali dan berjalan menuju ruang tengah, dimana dia mendengar suara televisi yang masih menyala.


Bumi begitu terkejut ketika mendapati Senja tertidur dengan tidak nyaman karena kepalanya berulangkali seperti akan terjatuh. Setelah menaruh tas kerja dan dasi yang sudah tertanggal, Bumi mendekat untuk bisa menatap wajah Senja.


Cantik. Senja memang sangat cantik dengan kulit seputih susunya. Apalagi ketika melihat bibir Senja yang sedikit terbuka, membuat keinginan dalam dada Bumi membuncah.


Damn it! Bumi mengumpat dalam hati ketika pikiran kotornya menganggu. Mungkin, ini juga efek alkohol yang membuat otaknya sedikit geser.


Bumi berniat membangunkan Senja, tetapi merasa tidak tega. Pada akhirnya, Bumi memutuskan untuk menggendong Senja menuju kamar tamu seperti biasa. Karena untuk menjangkau kamar Senja, dia harus berjalan cukup lama dan menaiki tangga.


"Eeng." Senja menggeliat. Namun, istrinya itu tidak terbangun ketika telah berada di gendongannya. Hingga tiba di kamar, Bumi membaringkan Senja dengan pelan-pelan lalu menyelimuti nya.


Bumi memandang wajah Senja dan bibirnya seketika mengulas senyum. "Senja Kalaluna." gumamnya. Bukannya segera mengganti pakaian, Bumi justru berbaring di samping Senja dan miring menghadap isterinya.


"Kamu secantik ini. Selama ini, aku kemana saja," gumam Bumi lagi sambil tersenyum geli.


Begitu betah matanya menatap sosok perempuan cantik dan manis di hadapannya. Hingga perlahan-lahan kelopak matanya terasa berat. Bumi pun ikut terlelap.

__ADS_1


__ADS_2