Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Bab 35. Mustahil


__ADS_3

Senja sedang membereskan kamar setelah selesai sarapan. Dia merasa bahagia karena di rumah ini, dia tidak dihakimi maupun dikucilkan oleh Regi maupun Reysan. Keduanya justru menerima Senja bagai kakak kandung. Tidak ada pembeda. sikap keduanya sangat dewasa.


Tangan Senja memang sibuk melipat selimut. Namun, pikirannya justru sibuk memikirkan Bumi dan Arta. Bagaimana nasib bocah laki-laki itu ketika harus dia tinggal tanpa pamit? Apakah Arta akan marah padanya?


"Lalu Mas Bumi, apakah dia tidak berniat untuk mencari keberadaaku saat ini?" Seketika Senja merasa resah.


Namun, hak itu segera sirna karena suara klakson di depan rumah. Hidup bersama hampir enam bulan, cukup bagi Senja untuk memahami bagaimana suara klakson mobil milik Bumi, hingga deru laju mesinnya pun Senja hapal.


"Apa itu Mas Bumi sungguhan?" tanya Senja segera mendekat pada jendela dan dugaannya benar. Dia bergegas keluar ketika melihat ibunya berniat untuk mempersilahkan Bumi masuk.


"Aku nggak mau bertemu dia, Bu. Aku tidak mau!" teriak Senja berusaha membangun benteng yang tinggi. Senja ingin Bumi berusaha lebih keras lagi. Dia ingin melihat kesungguhan sang Suami untuk berubah.


Setelah itu, Senja kembali masuk. Tidak berapa lama, mesin mobil kembali terdengar dan kali ini tampak menjauh dari rumah. Ada rasa sesak yang menghimpit dada Senja saat ini. Namun, rasa rindunya pada sang Suami sedikit terobati.


Kondisi Bumi hari ini tampak berantakan. Apakah mungkin jika Bumi merasa kehilangan atas kepergiannya? Raut wajahnya juga tampak nelangsa.


Sedang sibuk dengan pikirannya, ponselnya mengeluarkan dering panjang, membuat Senja terlonjak dan segera melihat siapa dang Penelepon.


Nama Bu Sonia tertera di layar ponsel milik Senja, yang membuatnya tidak mampu menolak panggilan tersebut. "Halo, Ma?" sapa Senja ragu-ragu.


"Senja? Akhirnya kamu angkat telepon Mama. Mama sudah tahu semuanya. Kamu dimana sekarang? Arta cari kamu, begitu juga Mama loh," ucap Bu Sonia di seberang dana terdengar begitu sedih.

__ADS_1


"Ada sedikit masalah, Ma. Aku butuh waktu untuk sendiri. Begitu juga Mas Bumi yang butuh jeda untuk hubungan ini. Aku pernah berpikir jika Mas Bumi sudah benar-benar mencintaiku dan menerimaku seutuhnya. Namun, semua itu salah. Perhatian dan kelembutan yang Mas Bumi beri tidak pernah bisa menjamin jika hatinya ada aku di sana." Senja tampak putus asa sekali.


"Maafkan anak Mama ya, Sayang. Dia sudah keterlaluan ke kamu. Hukum saja semau kamu, Nja. Mama akan dukung. Asalkan, kamu hanya memberi jeda, bukan berhenti. Karena Mama ingin kamu tetap menjadi anak Mama," ucap Bu Sonia lagi sarat akan harapan.


Senja mengangguk paham. Bila sampai Senja dan Bumi berpisah, keadaan pasti akan sangat berbeda. Entah mengapa, Senja tidak pernah berpikir sampai ke sana. Pernikahan baginya adalah hal yang sakral. Dia hanya ingin memberikan pelajaran untuk suaminya agar bisa lebih menghargai keberadaanya.


"Tidak kok, Ma. Mama tidak perlu banyak pikiran. Oh iya, Ma. Aku titip Arta ya, Ma." Mata Senja seketika berkaca-kaca mengingat putranya. Dia juga rindu pada anak itu. Anak yang selalu menginginkan kehadirannya di manapun itu.


"Kamu juga baik-baik di sana. Kalau kamu baik-baik, cucu Mama pasti akan baik-baik saja. Mama percaya, kamu dan bayi yang ada dalam rahimmu adalah orang-orang kuat. Jaga diri kamu. Karena, kamu juga harus jaga satu nyawa lagi. Mama sayang kalian."


Nasehat dari Bu Sonia berhasil membuat Senja tersenyum bahagia. Walau Bu Sonia hanyalah mertua, tetapi kasih sayangnya ke Senja sudah seperti ibu yang melahirkan.


"Mama sudah tahu?" tanya Senja tidak heran lagi. Dia sadar jika sudah meninggalkan alat tes kehamilan di kamar. Mustahil juga jika Bumi tidak bercerita pada beliau.


"Maaf ya, Bumi. Senjanya sedang tidak ingin bertemu kamu," ucap Bu Resti menatap iba pada sang Menantu.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku cuma mau kasih tahu kalau aku nemu ini di kamar. Aku berniat mengajak Senja untuk periksa ke dokter," jawab Bumi sambil menyodorkan testpack yang dia temukan.


Mulut Bu Resti menganga dengan mata yang membelalak lebar. "Senja hamil?!" tanya beliau begitu terkejut. Bu Resti menoleh ke balkon dimana Senja tadi berada. Namun, putrinya sudah masuk kembali.


"Ibu akan urus semua. Kamu tenang saja. Senja aman di sini." Bu Resti coba menenangkan Bumi.

__ADS_1


Pada akhirnya, Bumi mengangguk menyetujui. Walau tidak diizinkan masuk, dia akan menunggu Senja keluar untuk menemui dirinya. "Aku pulang dulu, Bu. Nanti sore aku ke sini lagi."


Sesampainya di rumah, Bu Sonia sudah menunggu di ruang tengah. Bumi mendekat dengan tubuh yang begitu lemah. Dia langsung merebahkan kepala di pangkuan sang Mama. "Ma?" panggil Bumi ketika merasakan elusan lembut di rambutnya.


"Hm." Bu Sonia hanya menjawabnya dengan gumaman. Beliau sebenarnya kasihan pada Bumi. Hanya saja, semua keputusan ada di tangan Senja. Yang menjalani kehidupan rumah tangga juga mereka. Jadi, beliau tidak ingin mencampuri terlalu dalam.


"Senja nggak mau bertemu aku," keluh Bumi sambil memejamkan matanya yang terasa begitu berat. Mungkin karena semalam dia tidak bisa tidur. Sekarang, setelah mendapat tempat ternyaman, perlahan kelopak matanya memberat.


"Sabar. Perempuan itu tidak takut hidup sederhana. Mereka lebih takut jika hidup bersama suami yang tidak mau berusaha. Sebagai laki-laki, sudah seharusnya kamu lebih dewasa dalam menyikapi sebuah masalah," nasehat Bu Sonia yang membuat Bumi mengangguk.


"Apa aku harus berusaha lebih keras lagi, Ma? Selama ini, aku seperti tak diberi waktu untuk berusaha mengejar Senja. Dia selalu memberiku banyak cinta dan kasih sayang. Aku pikir itu cukup untuk membuat Senja bertahan. Nyatanya, orang yang sudah terlanjur cinta dan disakiti, justru bisa pergi dan tidak kembali."


Aku tidak ingin itu terjadi, Ma. Doakan aku agar bisa berusaha meluluhkan Senja. Ada anakku juga dalam rahimnya. Senja adalah ibu dari anak-anakku," sambung Bumi yang rasanya ingin menangis bila mengingat istrinya tak lagi peduli padanya. Apalagi, ketika mendengar penolakan Senja yang tidak ingin bertemu dengannya.


Bumi hanya takut jika cinta yang Senja miliki telah terkikis habis. Bumi tidak ingin hal itu terjadi. Senja hanya boleh mencintai dirinya.


"Bumi?" panggil Bu Sonia yang mendapat jawaban berupa gumaman dari Bumi.


"Beberapa orang mungkin terjebak dengan masa lalunya bukan karena tidak bisa, melainkan karena orang tersebut tidak mau berusaha," jelas Bu Sonia membuat Bumi akhirnya bungkam.


"Saatnya kamu membuka chapter baru dalam hidup. Bangun hubungan yang baik dengan Senja. Dia sangat mencintai kamu. Jangan sampai perempuan sebaik Senja kamu sia-siakan."

__ADS_1


"Ayo! Biar Mama bantu bereskan barang-barang Deandra di kamar," ajak beliau yang tidak bisa Bumi tolak lagi.


__ADS_2