
Pada akhirnya, Bumi meminta Bu Resti untuk pulang lebih dulu dan datang lain hari lagi setelah keadaan sedikit mereda. Bu Sonia yang mendapat telepon dari putranya untuk ke rumah, tidak berapa lama tiba.
"Makan dulu, Nja," pinta Bumi ketika melihat Senja hanya melamun dan mengacak-acak makanannya.
"Ini aku sedang makan," jawab Senja berbohong.
Bumi menghela napas kasar. Hari ini dia terpaksa tak datang ke kantor hanya untuk menemani Senja. Dia tidak mungkin meninggalkan sang Istri dalam keadaan seperti sekarang.
"Mau Mama suapin?" tanya Bu Sonia yang juga sedang berada di meja makan untuk memastikan bahwa Senja benar-benar makan.
"Atau Alta, Bun?"
Senja seketika tersadar dan mengangkat kepala. Dia cukup terkejut dengan kehadiran ibu mertuanya. "Eh, Mama kapan datang?" tanyanya gugup.
Bu Sonia terkekeh. "Belum lama kok. Mama tidak sengaja lewat dan mampir. Mama mau ajak Arta ke rumah sekalian nanti biar Mama yang antar les berenang," jawab beliau yang segera mendapat anggukan dari Senja.
"Maaf ya, Ma. Aku kurang memperhatikan." Senja merasa bersalah karena sejak tadi mengabaikan sekitar. Dia hanya berharap, semoga saja Bu Sonia tidak menganggap Senja sebagai anak yang durhaka.
"Tidak apa-apa. Makanlah. Kalau kamu ada waktu, setelah ini ada yang ingin Mama sampaikan ke kamu," pinta Bu Sonia yang membuat Senja mengerjapkan matanya bingung.
Namun, karena tidak ingin membantah perintah Senja pun menghabiskan makanan yang sama sekali tak menarik minatnya.
"Mama tunggu di halaman belakang ya." Senja mengangguk mengiyakan.
Beberapa menit berlalu, Senja telah selesai dan berpamitan pada Bumi juga Arta untuk menemui Mama. Dilihatnya Bu Sonia yang sudah duduk di kursi rotan dengan pandangan menerawang, menatap langit pagi yang bersinar cerah.
"Ma," ucap Senja ingin Bu Sonia tahu jika dia sudah ada di sana.
__ADS_1
"Iya. Mama sudah tahu kalau kamu datang. Duduk, Nja."
Setelah Senja duduk, Bu Sonia kembali membuka suara. "Mama sudah tahu semuanya dari Bumi. Tidak apa-apa kan, kalau Mama juga tahu?" tanya Bu Sonia meminta izin terlebih dahulu.
Senja mengangguk mantap. Bu Sonia sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. Tentu saja beliau dan ayah mertuanya harus mengetahui asal-usul dirinya. "Tentu saja, Ma."
Bu Sonia menyunggingkan senyum manis. "Bagaimana perasaan kamu?" tanya beliau lagi. Senja sudah tahu jika Bu Sonia tidak akan menghakimi dirinya. Sering bersama beliau cukup untuk membuat Senja mengenal beliau.
"Tidak tahu, Ma. Rasanya campur aduk," jawab Senja disertai senyuman. Namun, Bu Sonia bisa menangkap jika di balik senyum itu terdapat sebuah luka yang menganga.
"Pasti kamu kecewa, sedih, marah, sekaligus bahagia bukan? Mama percaya, walau hanya setitik saja, pasti kamu memiliki rasa bahagia. Hanya saja, hal itu tertutup oleh rasa marah di hatimu." Bu Sonia berucap dengan sangat lembut.
Senja tidak menampik dugaan tersebut. Itulah yang saat ini dirasakannya. Dia masih terdiam untuk mendengar penjelasan ibu mertuanya itu.
"Bolehkah Mama memberikan sedikit nasehat untuk kamu?" Seperti biasa, Bu Sonia selalu meminta izin lebih dulu bila itu menyangkut tentang dirinya.
"Tentu saja boleh, Ma. Aku akan dengan senang menerima nasehat Mama."
"Sulit memang. Karena banyak rasa kecewa dan marah yang kini kamu rasakan. Siapa tahu setelah kamu mengetahui alasannya langsung dari beliau, kamu bisa memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana pun, beliau tetap ibu yang telah melahirkan kamu. Mama percaya, kedatangan beliau pasti sudah Tuhan atur," jelas Bu Sonia panjang lebar, membuat Senja terdiam.
Dia berusaha mencerna setiap kalimat yang terucap, yang sialnya Senja setujui. Kini, dia telah hidup di masa sekarang. Entah apa yang sudah ibunya lalui sampai harus menitipkan dirinya di panti asuhan.
"Apa aku harus mengajak beliau bertemu ya, Ma?" tanya Senja setelah cukup lama terdiam.
Bu Sonia tersenyum. Tangannya bergerak mengelus surai coklat milik Senja. "Harus, Nja. Coba dengarkan cerita dari versi beliau. Kamu harus dengarkan dari kedua belah pihak. Mama yakin, beliau memiliki alasan yang kuat kok."
...----------------...
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Naura duduk dan memikirkan sebuah cara untuk membuat Senja pergi dari kehidupan Bumi. Jika sebentar lagi kuliahnya selesai, itu berarti dia tidak bisa bertemu dengan Bumi, laki-laki kaya raya.
"Aaargh!" Naura berteriak sambil menjambak rambutnya kasar.
Hal itu membuatnya seketika mendapat pukulan kencang di lengan. "Aw! Kenapa sih, Bu!" kesalnya dengan bibir mengerucut dan telapak tangan yang mengelus bekas pukulan ibunya.
"Kamu buat Ibu kaget. Bisa tidak sih, nggak usah teriak-teriak," kesal Bu Vera.
"Kepalaku buntu, Bu! Sebentar lagi kuliahku selesai. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk biaya hidupku coba? Ayah saja gajinya pas-pasan." Naura begitu kesal dengan jalan hidup yang tidak pernah ada kemajuan.
Bu Vera menghembuskan napasnya kasar. "Kalau kamu selesai kuliah, berarti Bumi tidak akan mengirim uang lagi dong? Nanti, kamu minta kerjaan saja ke dia. Ibu percaya dia pasti akan memberi kamu satu posisi di perusahaan," ucap beliau dengan begitu entengnya.
"Mas Bumi mana mau langsung kasih jabatan yang tinggi, Bu. Pasti aku diminta jadi karyawan biasa dulu. Aku nggak mau lah."
"Ya daripada nggak kerja," ucap Bu Vera sambil memutar kedua bola matanya malas.
Naura menghela napas pasrah. "Baiklah. Ide Ibu cukup baik untuk ditiru. Siapa tahu, dengan begitu aku bisa menarik hati Mas Bumi. Aku percaya, kecantikan ku ini bisa membuat Mas Bumi nyaman dan bertekuk lutut. Dengan begitu, aku akan mudah menguasai seluruh hartanya."
"Lagian, kenapa Mbak Dea tuh malah meminta sahabat miskinnya untuk menggantikan sih? Kok bukan aku," omel Naura merasa kesal.
"Entahlah. Mati bukannya meninggalkan banyak harta untuk kita ya," balas Bu Vera sambil mengibas rambutnya.
Naura terdiam. Otaknya berputar memikirkan cara-cara licik seandainya cara mendekati secara normal masih belum berhasil membuat Bumi luluh.
"Bu?" panggil Naura lembut.
Bu Vera hanya bergumam sambil tangannya sibuk membalas komentar di grup arisan perpesanan. "Aku punya cara terakhir jika cara baik-baik mendekati Mas Bumi itu gagal," beritahu Naura sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Bu Vera mengangkat wajah dari layar ponsel. "Apa?" tanya beliau sambil mendekatkan wajah ketika jemari Naura memberi kode untuk mendekat.
Naura membisikkan sesuatu di telinga Bu Vera hingga membuat wanita paruh baya itu tersenyum miring. "Ide yang bagus. Nanti Ibu akan bantu."