Sayap Cinta Yang Patah

Sayap Cinta Yang Patah
Mulai Belajar Mencintai


__ADS_3

Akhirnya setelah mengajak Susi makan malam, Yahya sadar dirinya sudah jatuh cinta dengan Susi sejak pertama mengenalnya. Walaupun perkenalan singkat belum menunjukkan apa-apa dari karakter pasangan, tetapi Yahya meyakini kalau ini adalah jodoh yang memang Allah tetapkan untuknya.

__ADS_1


"Sus, mas berangkat kerja dulu ya. Nanti sehabis pulang kerja kita beli barang- barang keperluan kontrakan, biar buat kebutuhan kita nantinya", kataku. "Iya mas, aku juga mau rencana keliling area sini, soalnya juga masih orang baru, perlu mengenalkan diri. Paling ga ya aku tahu siapa-siapa penghuni kontrakan ini", jawab Susi santai. "Baguslah, mudah-mudahan kami betah saja ya", jawabku sambil pergi meninggalkan Susi. "Mas", Susi memanggil lagi. "Ya?", aku bingung keheranan. "Belum pamitan mas", kata Susi sambil mencium tanganku. Aku tersenyum bahagia. Begini rasanya memiliki istri lagi. Dalam hati Yahya berujar semoga ini adalah istri Solehah yang dicarinya, dan bisa akur dengan anak-anaknya kelak. "Mas, pergi ya", kataku lagi. Susi mengangguk.

__ADS_1


Sepeninggal Yahya, Susi mulai merapikan kontrakan yang ditinggalinya baru beberapa hari. "Semangat, aku harus kerasan disini", katanya menyemangati diri sendiri. Kemudian Susi berujar, "Aku mulai berkenalan dari mana ya, area kontrakan ini cuma dihuni 10 Kepala Keluarga. Semoga aja mereka tidak kaget melihatku. Tapi aku harus memperkenalkan diri sebagai apa ya?", kebingungan juga melanda pikiran Susi. Jangan-jangan orang- orang berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya. "Ah cuek saja, semangat", kata nya lagi. Susi pun berjalan menyusuri area kontrakan agar bisa berkenalan dengan mereka yang tinggal di area ini.

__ADS_1


Itu pasti ketemu kok, karena kami harus setoran sama Bapak", kata Riri. "Betul kata Riri", Ratna menambahkan. Susi kembali tersenyum. "Kenal kalian berdua saja sudah senang aku, kalau penghuni yang lain laki-laki ya biar itu urusan Bapak saja", kata Susi. "Bener tuh, entar bapak cemburu karena laki-laki disini lebih ganteng dan muda daripada Bapak", goda Riri. "Hush, kamu ini Ri", kata Ratna. "Itu kenyataan, itu contohnya Bang Randy, orang Bandung tapi kerja disini. Kalau mau jadi artis mah bisa", kata Riri. "Tuh mba Susi bingung", kata Ratna. "Ga papa, nanti juga kenal kok", kata Susi. "Sudah dulu ya, kami mau pergi dulu. Aku sekedar menyapamu mengenalkan Susi aja", kata Riri sambil berlalu meninggalkan Ratna. "Ri, Ratna tinggal sendiri?", tanya Susi. "Ga, ia tinggal bersama suaminya. Belum punya anak, sudah lumayan lama berumah tangga. Kalau ga salah sudah 5 tahun, namanya belum rezeki sama Allah, belum memiliki anak lagi", Riri menjelaskan. "Oo..", jawab Susi singkat. Begitulah jalan-jalan singkat area kontrakan bersama Riri. "Makasih ya Ri, kupikir tadi akan berkeliling sendiri. Untungnya ada dirimu yang mau membantu", kata Susi ketika rumah kontrakan Riri sudah dekat. "Sama-sama, kita kan tetangga. Saling bantu", jawabnya Riri. "Tapi aku ga bisa menemanimu lagi. Aku harus melanjutkan pekerjaan di dalam rumah

__ADS_1


"Iya, ngerti", kata Susi. Setelah Riri masuk ke dalam rumahnya, Susi berharap dirinya dapat menjalin hubungan yang baik dengan tetangga sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2