
Senja baru sadar jika dia berada di ketinggian sebuah tower apartemen mewah. Bisa dikatakan jika Senja merupakan tawanan kelas mewah atau VIP. Beruntungnya orang-orang bila mendapatkan culik seperti Jovan.
"Suami kamu sudah menemukan Naura." Suara itu berhasil mengejutkan jantung Senja yang sedang menatap pemandangan kota di bawah sana, dimana kendaraan roda dua maupun empat sedang ber lalu-lalang.
"Aku kaget loh," kesalnya sambil memegangi dada. Jovan justru terkekeh dan menggumamkan maaf beberapa kali.
"Apa kamu sudah siap untuk bertemu suami kamu itu? Bukankah kalian sedang bertengkar?" tanya Jovan yang kini memutuskan duduk di kursi rotan yang berada di balkon.
Senja berbalik dan bersandar pada besi pembatas yang memiliki tinggi sama dengan perut bagian atas. "Kata siapa aku bertengkar?" Senja justru bertanya balik.
Jovan pun tertawa kencang. "Aku sudah menyelidikinya lebih dulu. Semuanya tentang Bumi termasuk .... " Ucapannya terhenti, seperti tengah memainkan Senja.
"Termasuk apa?" kejar Senja dengan pandangan penuh selidik.
"Termasuk mantan istri Bumi yang sudah meninggal," lanjut Jovan lirih.
Senja hanya tersenyum tipis dan melemparkan pandangan pada langit pagi yang tampak begitu cerah. "Sejauh mana?" Dia kembali melempar pertanyaan.
"Sejauh yang aku bisa jangkau. Dan sejauh ini, kamu sangat hebat," puji Jovan yang membuat Senja memutar bola matanya malas.
"Aku bersungguh-sungguh. Mana ada perempuan yang mau jadi ibu sekaligus istri pengganti? Sedangkan si laki-laki tidak mencintai?" sambung Jovan dan Senja merapatkan bibir. Ya. Senja merasa tertampar oleh sebuah kenyataan.
"Kenapa dibahas lagi sih? Capek aku tuh," kesal Senja lalu segera meninggalkan Jovan yang berulangkali memanggil namanya.
"Senja! Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara! Masih banyak yang aku ketahui! Apalagi tentang barang-barang mantan istri Bumi!"
Mendengar kalimat terakhir Jovan, Senja benar-benar menghentikan langkah dan berbalik. "Apa lagi yang kamu ketahui? Apa pengetahuanku tidak seberapa dengan pengetahuan kamu? Lalu, dari siapa kamu tahu? Pasti ada mata-matanya kan?" tanya Senja dengan cerdas.
Mulut Jovan langsung bungkam. Dia membuang pandangan asal, yang terpenting tidak menatap Senja. "Katakan? Apa kamu mengirim mata-mata selama ini?"
__ADS_1
"Bukan mata-mata. Orang suruhan ku hanya bertanya pada asisten rumah tangga di rumah kamu dan Bumi. Mungkin karena pertanyaanku menjebak, beliau keceplosan." Mendengar hal tersebut, Senja menghela napasnya kasar.
"Setelah Mas Bumi datang dan membawa Naura, berarti urusan kita selesai kan? Jadi, tolong hentikan semua itu. Kami punya kehidupan pribadi dan orang lain tidak harus tahu," peringat Senja yang membuat Jovan mengangguk bagai anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.
"Bagus," putus Senja pada akhirnya. Saat kakinya bersiap melangkah, suara Jovan kembali terdengar.
"Senja!"
"Apa lagiiiii?" tanya Senja gemas sendiri.
"Bisakah kita tetap berteman?" Jovan memohon, membuat bagian perut Senja seperti tergelitik geli.
"Kamu kan penculik. Masa mau berteman dengan tawanannya? Dimana wibawa kamu sebagai culik?" Tawa Senja seketika menggelegar di seisi ruangan. Tawa itu menular pada Jovan yang awalnya merasa tegang.
Jovan berjalan mendekat. "Ada satu rahasia yang belum kamu ketahui. Sebenarnya, aku adalah penculik dadakan. Pekerjaanku tidak sehina itu. Kalau bukan karena adikku, aku tidak mau melakukan cara licik ini." Tampak sekali Jovan menyesali perbuatannya.
"Apalagi ketika yang diculik orangnya cantik. Rasanya, aku ingin menjadikan dia istri saja."
"Arrgh! Kasar banget sih!" gerutu Jovan dan Senja tidak peduli lagi.
...---------------...
Siang itu, Senja baru saja selesai menghabiskan makanan yang Jovan berikan. Laki-laki itu pamit lagi untuk menyelesaikan urusan yang entah kemana sekarang. Setelah mencuci piring bekas makannya, Senja kembali duduk di sofa, membiarkan makanan di perutnya tercerna dengan baik.
Beberapa menit berlalu, Senja habiskan dengan menatap kosong langit-langit ruangan bernuansa putih. Bersama Jovan dua hari membuat Senja lupa akan masalah yang sedang di hadapi. Pria itu pandai membawa suasana agar tidak canggung dan terlihat santai.
"Dasar penculik gadungan," monolog Senja menggerutu.
Saat sedang asik melamun, Senja mendengar akses kunci apartemen terbuka. "Rupanya Jovan sudah kembali," gumam Senja dan langsung beranjak menuju kamar yang ditinggalinya semalam.
__ADS_1
"Senja!" Panggilan itu membuat Senja menghentikan langkah. Dia juga mempertajam indera pendengarannya untuk memastikan jika dia tidak salah duga.
"Senja," panggil suara itu lagi dan Senja tidak tahan untuk menoleh.
Mulut Senja menganga lebar ketika melihat si Pelaku. Dia cukup terkejut hingga matanya membelalak tak percaya. "Dimana Jovan?" Yang Senja tanyakan justru laki-laki yang sudah menculik dirinya. Padahal, dalam hati dia ingin sekali berhambur ke pelukan Bumi. Namun, dia ingat jika masih dalam kondisi marah.
Setelah Bumi muncul, Regi juga muncul. Senja tersenyum ketika tatapannya bertemu dengan sang Adik. "Regi," gumam Senja penuh binar di matanya.
Tanpa menunggu lebih lama, Senja berlari kecil mendekati sang Adik dan langsung memeluknya. "Aku baik-baik saja. Beruntung, aku diculik orang baik," beritahu Senja setelah pelukan terlepas.
"Mau ngopi dulu atau langsung pulang?" Sejak tadi Senja berusaha mengatakan apa yang saat ini dia alami. Namun, dua laki-laki yang berdiri di depannya justru terpaku dengan pandangan menatap dirinya.
"Kenapa sih? Kok menatap aku seperti itu?" Senja tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Kamu tidak ada niatan untuk memelukku?" tanya Bumi dengan raut wajah kecewanya.
"Nggak dulu, Mas. Nanti aja kalau aku sudah nggak marah," jawab Senja lirih. Seperti Bumi yang kecewa, jujur Senja pun merasakan hal sama. Rasa kecewanya pada Bumi seperti telah mendarah daging. Mungkin karena efek kehamilannya juga yang membuat perasaan Senja menjadi sangat sensitif.
"Semua orang khawatir loh, Kak. Bayangan kami, Kakak sedang dikurung dan disekap dalam keadaan terikat. Minimal di rantai. Namun, pikiran kami justru terlalu berlebihan. Kakak baik-baik saja. Hidup normal seperti biasa," ucap Regi menengahi keduanya. Wajahnya tampak kesal pada tingkah kakaknya.
"Kenapa tidak memberitahu kami? Semua keluarga panik dan khawatir loh."
Senja menghela napas kasar. "Kalau Kakak kasih tahu kondisi aku baik-baik saja, Kakak iparmu itu pasti akan santai dalam mencari Naura. Padahal, dia sendiri yang membuatku diculik. Beruntung, Jovan orang baik," sindir Senja langsung di depan orangnya.
Yang di sindir hanya mampu menundukkan kepala. Bumi merasa bersalah sangat banyak sampai-sampai mungkin akan sulit dimaafkan.
Regi seketika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Cukup canggung berada di antara dua orang yang sedang bertengkar. "Apa kalian butuh waktu untuk bicara?" tawar Regi tanpa menunggu lebih lama lagi. Keduanya sangat memerlukan komunikasi yang baik untuk meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi.
"Tidak sekarang, Regi."
__ADS_1
"Sekarang, Kak. Jangan menunda terlalu lama. Biar nanti aku yang katakan pada penculik itu untuk sewa tempatnya selama beberapa jam. Aku akan menunggu di kafe bawah." Tanpa menunggu jawaban Senja, Regi keluar dari sana, meninggalkan keduanya agar segera saling bicara.